Belakangan ini, Bengkulu sedang berkasak-kusuk dengan sosok pemuda inspiratif yang memiliki visi membangun dan militan.

Adalah Alan Juyadi, pemuda yang konsisten memperjuangkan sektor pariwisata di Bengkulu sebagai tagline agar mengindonesia, bahkan mendunia, mendorong semangat prestasi olahraga dengan gigih, serta konsisten memajukan tanah kelahirannya dengan segala daya dan upaya.

Pria kelahiran Manna 1988 ini adalah putra dari Bapak Ahmad Bahrin DC dan Ibu Juita. Kedua orang tuanya berasal dari Desa Talo Kabupaten Seluma.

Masa kecil Alan dihabiskan di Kota Manna. Mulai dari TK Pertiwi 1, SD Negeri 1 Kota Manna, SMP Negeri 1 Kota Manna, dan SMA 2 Kota Manna. Ketika kelas 3 SMA dia memutuskan hijrah ke SMA 8 Kota Bengkulu sampai lulus kuliah di Fakultas Hukum Universitas Bengkulu.

Awal tahun 2011 Alan memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Tahun 2012 Alan sempat bekerja di luar negeri sampai akhirnya dia kembali ke Jakarta dan menemukan pujaan hati yang saat ini menjadi istrinya, yaitu Delana Gita Pertiwi yang juga berasal dari Kota Manna. Dari rumah tangga mereka yang bahagian, lahir seorang putra bernama Athariz Filo Alarain.

Bung Alan memiliki Motto : “I like to work in a team or individually, have interpersonal skill, can perform well in under pressure situation, high motivation, hard worker, discipline, I like challenge, I am eager to study more about everything to increase my skill and my knowledge.”

Ketika ditanya apa hambatan terbesar yang dihadapi dalam membangun Bengkulu, menurut Alan ada beberapa kendala yang selalu dihadapi oleh Pemerintah Daerah yaitu infrastruktur, perekonomian, SDM, kesehatan dan kepastian Hukum.

Titik awal kemajuan Provinsi Bengkulu dan hadirnya sosok muda seperti Alan merupakan harapan baru untuk Bengkulu. Terkhusus bila benar Alan akan digadangkan maju sebagai Bacaleg DPR RI Dapil Bengkulu dari Partai Perindo.

Saat ini Alan sendiri rutin berkunjung untuk melihat langsung respon masyarakat Bengkulu dan terus memberikan berbagai program seperti pengobatan gratis bibir sumbing, pembinaan nelayan, advokasi petani dan program yang bersentuhan dengan kemasyarakatan.

“Belum banyak saat ini yang bisa saya perbuat, namun hanya saja karena Bengkulu begitu penting untuk saya, kepada masyarakat Bengkulu saya selalu bisa memberi senyum dan sapa kepada mereka semua. Ketika Allah SWT sudah berkehendak dan diaminkan oleh rakyat Bengkulu, tentu semua tidak ada yang tidak mungkin,” ujar Alan.

Kita tunggu saja jalannya seperti apa dan jika itu terwujud tentu akan menjadi babak baru bagi perubahan Bengkulu. [Nurhas]