Ihsan Joy

Saya percaya masih banyak orang yang takut dengan kata “menulis”. Mungkin lebih menakutkan daripada hantu. Buktinya film hantu laris manis ketika diputar. Alergi terhadap menulis sepertinya sudah menjadi hal biasa gak cuma di Bengkulu tapi juga di negara kita, dari dulu hingga sekarang. Kegiatan menulis dilakukan karena adanya unsur keterpaksaan. Terpaksa karena mau lulus atau terpaksa karena mau naik pangkat. Tidak heran jika menemukan seorang penulis itu sangat sulit.

Menulis itu sulit. Betul dan sangat betul. Betul, kalau tulisannya mau langsung keren, disukai banyak orang, laris manis di pasaran atau bisa langsung jadi penulis top. Keinginan seperti itulah yang bikin menulis itu sulit. Menulis itu menakutkan.  Ada banyak orang yang takut menulis. Takut apa? Setidaknya ada 2 ketakutan ketika hendak menulis. Pertama, takut tulisannya jelek dan ditolak penerbit, dan kedua setelah tulisannya terbit takut dibaca orang. Kok takut dibaca orang, soalnya tidak pede dengan tulisannya sendiri. Dua ketakutan ini menambah keengganan untuk mulai menulis.

Bagaimana solusinya? Pertama, luruskan niat. Niatnya bukan untuk jadi orang terkenal, bukan mau untung banyak. Tapi niatkan menulis untuk fun(d). Maksudnya gimana?  Fun(d) yang pertama adalah fun tanpa ‘d’ yang bermakna happy bahagia. Menulis bia membuat bahagia. Kebahagiaan siapa? Kebahagiaan penulis dan kebahagiaan pembaca. Kalo pembaca merasa bahagia dengan tulisan kita, yakinlah tidak diminta pun mereka akan senang bertemu kita dan kita pun bisa punya banyak teman.

Fun(d) yang kedua bermakna fund alias dana alias uang. Kalau pembaca merasa bahagia dan senang dengan tulisan kita, mereka akan rela mengeluarkan uangnya untuk membeli tulisan (buku) kita. Mendapat fund adalah bonus karena membahagiakan pembaca tulisan kita. Bahkan fund yang diperoleh bisa lebih banyak jika banyak pembaca yang menginginkan pembahasan lebih mendalam misalanya dalam acara bedah buku, workshop atau seminar.

Fun(d) yang ketiga adalah fun + d. huruf “D” disini bermakna dakwah. Jadi fun+d maknanya bahagia dengan dakwah. Jadikan menulis sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan, membagikan ilmu, bertukar pengalaman yang kita punya, itulah dakwah. Untuk berdakwah tidak mesti harus menyandang gelar ustadz dulu, tapi bisa dilakukan oleh semua orang, yang penting niatnya untuk dakwah. Dengan menuliskan hal-hal baik dan bermanfaat kita sebenarnya telah berdakwah 24 jam non-stop setiap hari mulai sejak tulisan kita terbit sampai kapanpun ketika masih ada orang yang membacanya. Insya Allah kita akan mendapat pahalanya.

Jadi, kenapa harus menunggu lagi. Dengan sekali menulis kita bisa dapat banyak manfaat baik lahir maupun bathin, di dunia dan akhirat. Ayo menulis dari sekarang karena menulis itu membahagiakan. Mulailah menulis dari yang ringan yang ada di sekitar kita. Tulislah cerita yang ada dalam benak kita. Tulislah ilmu, skill dan pengalaman kita sebagai motivasi bagi orang lain. Dan terakhir jangan lupa untuk sering berkumpul orang-orang yang hobi menulis atau orang yang mau belajar menulis misalnya dalam sebuh komunitas menulis.

Ihsan Joy, Ketua Komunitas Menulis Bengkulu (KMB)