Komisi III DPRD Bengkulu Utara saat hearing bersama Eksekutif di lantai dua Gedung DPRD BU, Selasa (15/5/2018).

BENGKULU UTARA, PB – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bengkulu Utara kecewa pembahasan Raperda Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) harus dibatalkan, meski karena keterbatasan anggaran.

Hal ini disampaikan Mohtadin Ketua Komisi III DPRD Bengkulu Utara saat hearing bersama Eksekutif di lantai dua Gedung DPRD BU, Selasa (15/5/2018).

“Perda RDTR sudah menjadi kebutuhan yang mendesak, karena melalui Perda tersebut kita bisa menentukan mana yang harus dijadikan perumahan, mana yang harus komplek industri dan perkebunan,” ungkap Mohtadin.

Mohtadin juga mencurigai ada kepentingan lain dibalik batalnya pembahasan Raperda RDTR.

“Seharusnya sudah tidak ada halangan membahas Raperda RDTR. Apalagi kalo alasannya soal anggaran. Ini masalah klasik yang sangat merugikan kita semua atau memang ada kepentingan lain,” ujar Mohtadin.

Ditambahkan anggota Komisi III DPRD BU Slamet Waluyo bahwa dengan Perda RDTR, Pemerintah sudha bisa memastikan tidak akan ada lagi lalat dari perusahaan K3 yang ada di Kecamatan Ketahun.

“Kalau sudah ada Perda RDTR kita sudah bisa menertibkan perusahaan K3 di Ketahun yang sudah meresahkan warga dengan banyaknya lalat dipemukiman warga,” ujar Slamet.

Hearing ini berjalan dengan kondusif.

Sementara itu pihak eksekutif terpaksa membatalkan pembahasan Raperda RDTR.

“Kita sudah berusaha untuk mengusulkan pembahasan Raperda RDTR ditahun 2018, namun saat pembahasan APBD dana untuk pembahasan perda RDTR tidak dimasukkan jadi kami terpaksa menunda pembahasan di tahun 2019,” ujar Fizi, Kabid Cipta Karya Dinas PUPR Kabupaten Bengkulu Utara saat hearing bersama DPRD BU.

Ia menekankan, dibutuhkan dana Rp1,5 miliar untuk membahas Raperda RDTR.

“Dana untuk membahas Perda RDTR cukup besar karena ada pembuatan peta, kalibrasi, dan hal-hal lain sedangkan saat ini hanya tersedia dana Rp150 juta. Untuk itu kami sangat berharap agar ada anggaran di tahun 2019 untuk membahas Perda RDTR,” ujar Fizi. [Evi Kusnandar]