Ilustrasi

Mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Bengkulu, Beni Raisman, yang telah membuat status meresahkan masyarakat di akun Facebooknya telah diamankan oleh pihak Polres Bengkulu Utara, Jumat (18/5/2018).

Beni dikenal sebagai sosok yang kontroversial dan keras kepala oleh teman-temannya. Meski telah banyak yang memberikan saran agar buah pikirannya yang kontroversial dihapus dari media sosial, Beni justru menantang teman-temannya untuk memberikan sanggahan atau jawaban yang rasional yang bisa mematahkan argumentasinya. Bila ada, ia baru bersedia menghapus.

Baca juga : Nistakan Agama, Mahasiswa Dituntut Minta Maaf atau Dipidanakan dan Beni Raisman, Mahasiswa yang Dituding Nistakan Agama Diamankan Polisi

Selain statusnya menjadi viral dan menuai banyak kecaman, Beni juga pernah menulis di Kompasiana. Kompasiana adalah blog jurnalis Kompas yang bertransformasi menjadi sebuah media warga (citizen media). Pada akhir tulisannya itu, ia mengecam terorisme, bahkan menyebutkan tiadanya tempat di surga bagi para teroris.

Berikut tulisan lengkap Beni Raisman di Kompasiana yang terbit pada 30 September 2011:

Pernyataan menarik tentang Teroris yang tidak berTuhan itu sayup sayup terdengar ditelinga dari ribuan kecaman yang beredar untuk dijadikan konsumsi publik beberapa hari lalu. Janggal, bukankah mereka yang selalu bertindak dengan nama Tuhan dibelakang?? bukankah mereka yang berperan sebagai tangan kanan ketika sang Tuhan tak berkuasa untuk melakukan hal yang mereka yakini sebagai kehendaknya??? bukankah mereka mengaku paling depan pasang badan ketika merasa Tuhannya dilecehkan??? Syaraf memory saya pun terbang beberapa masa sebelumnya ketika pertanyaan tentang Tuhan ini saya ungkapkan “kenapa sih pak Tuhan itu nggak pernah sedia ketika ada milyaran manusia yang datang mencarinya?” Alih alih dengan jawaban panjang lebar ala filsuf spesialist metafisis, si otak nyeleneh yang terbalut dalam tubuh seorang pengajar itu hanya menjawab dengan 6 kata ” yang dicari itulah yang mencari” Tuhan adalah sebuah rahasia abstrak dalam bentuk hakikat. Para pakar abstrak yang tak terima Tuhannya digambarkan dalam bentuk seorang Bapak tua bertampang bijak yang sering beronani dengan takdir ciptaannya sendiri itu dengan amat yakin menjelaskan jika sebuah “LAYAR” tempat melihat font font bermunculan sebagai translasi isi otak saya ini hanyalah sebutan yang saya pakai untuk mengidentifikasi sebuah benda. Dan katanya, sebutan itu pada hakikatnya bukanlah sang benda Maka, jikalah berTuhan hanya dianggap mempunyai sosok yang disebut TUHAN, tak sulit kok untuk mencari atau bahkan menjadi Tuhan, cukup identifikasikan ulang sebuah cabe merah atau sebuah batang toge di dalam otak sebagai Tuhan. Dan abracadabra, jadilah ia sebuah kepercayaan yang tidak bisa digugat oleh manusia lain, karena katanya antara manusia dan Tuhan itu area privat. tidak satu orang lain pun boleh lancang untuk mencampuri apa yang seseorang ingin percayai Lalu benarkah ia telah berTuhan karena ia punya tuhan?? Bagi saya itu definisi konyol. karena esensi berTuhan adalah berbeda. ia universal dalam setiap kepercayaan manusia. Bukankah sang Nabi Ummi dari tanah arab itu sudah bilang kalau Tuhan itu eksis dalam Sifat??,maka panggillah Ia dalam sifat sifat yang baik. Bukankah sang Messiah itu rela menderita demi sesuatu yang ia yakini sebagai tindakan Tuhan?? “pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Tuhan-Ku” teriaknya suatu ketika. Dan bukankah sang Budha yang mencari pencerahan selalu mengajarkan untuk mencapai tingkat tertinngi melalui sifat sifat Ilahiah yang ia sebarkan kepada umat manusia?? Karena Tuhan bermanifestasi dalam sifat sifat baik. Ia bukanlah objek perdebatan sebatas nama. Tapi ia ada dalam kasih sayang tanpa syarat seorang ibu terhadap anaknya, dalam kedermawanan seseorang yang membantu sesamanya, dalam kejujuran seseorang menjalankan amanahnya, dalam rasa saling menghormati terhadap perbedaan, dalam kebenaran yang terungkap maupun yang tersembunyi. Ialah sifat baik yang bersemayam dalam tindakan setiap individu dan terkadang tidak memerlukan rasionalisasi Dari itu Ia maha universal. bahkan bagi seorang atheis yang percaya akan sifat sifat baik dan moral meski menolak menyebutnya Tuhan. Ia bukanlah objek pencarian karena Ia sendiri menyatu dalam setiap hela nafas dan detik yang berjalan dalam planet ini. Maka, pertanyaan besar terlontar. Apakah pantas mereka yang menyakiti dan membunuh orang lain yang tidak berdosa, merampas sesuatu yang bukan haknya , dan mencederai rasa keadilan lalu kemudian mengidentifikasi dirinya sebagai makhluk berTuhan??? sekedar punya tuhan mungkin.. “ah semua cuma bullshit yang tidak bereferensi” okelah jika ternyata Tuhan memang sosok bossy yang bertahta diatas singgasana yang konon seluas jutaan tahun perjalanan unta, Saya rasa Tuhan nggak cukup bodoh membiarkan mereka masih punya petak lahan di taman surga setelah NamaNya disalahgunakan untuk membantai ciptaanNya.

Deni Dwi Cahya, Mahasiswa Universitas Bengkulu

Sikap Beni ketika diminta menghapus postingannya yang meresahkan masyarakat.
Lanjutan pernyataan sikap Beni ketika diminta menghapus postingannya yang meresahkan masyarakat.