Ilustrasi

Jagat dunia media sosial di Bengkulu gempar setelah seorang oknum mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Bengkulu berinisial BN menulis status yang melecehkan agama Islam. Akibat statusnya itu, BN ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Daerah Bengkulu, Senin (21/5/2018).

Dalam status Facebooknya, pada intinya BN menulis tentang Allah sama seperti tuhan mitos Yunani, Al-Qur’an sama seperti novel dan dongeng, Muhammad tak layak menjadi panutan karena memiliki sikap barbar dan juga umat Islam adalah orang-orang yang suka merusak tempat ibadah agama lain.

Sebagai seorang mahasiswa, kaum terpelajar, BN seharusnya menyadari bahwa buah pikirannya itu akan membakar emosi publik. Apalagi media sosial bisa dengan cepat menyebarkan informasi yang dia tulis kepada manusia dari belahan dunia manapun, meski dia buat hanya dengan menggoyangkan jari di atas mouse atau gadget.

Namun di balik kasus BN ini, fakta bahwa perkembangan teknologi informasi yang tidak diantisipasi dengan baik telah mengubah kapasitas berpikir manusia menjadi dangkal adalah benar. Penelitian telah menunjukkan bahwa kebudayaan masyarakat visual memiliki kendangkalan berpikir ketimbang masyarakat yang dibesarkan oleh teks cetakan.

Teknologi terkini memang telah membuat informasi menjadi lebih mudah diakses, membanjiri pikiran khalayak, tapi sangat sedikit yang singgah dalam memori. Sehingga pengetahuan yang terbentuk tak pernah utuh, sepotong-sepotong. Berbeda dengan generasi pecinta literasi dari produk mesin cetak seperti Sukarno, Hatta, Tan Malaka, Kartini, Semaun dan lain-lain, yang bukan hanya memiliki pengetahuan luas, tapi juga memiliki visi besar dan pandangan jauh ke depan.

Perkembangan teknologi yang tak diantispasi dengan baik ini telah melahirkan generasi bingung, tidak percaya pada segala yang bersifat tahayul dan mistik, tapi takut dengan hantu. Generasi yang menyukai opera sabun seperti sinetron dan komedi, namun alergi dengan film-film sejarah yang mengisahkan tentang heroisme dan perjuangan para pahlawan terdahulu.

Bila penjajahan gaya baru atau imperialisme bermaksud melanggengkan dominasi mereka atas perekonomian negara-negara berkembang melalui perkembangan teknologi informasi mutakhir, maka kasus BN adalah bukti keberhasilan mereka. Penjajahan gaya baru hanya bisa lestari ketika negeri-negeri imperialis mampu menaklukkan budaya negara-negara berkembang agar masyarakatnya rela menerima penindasan yang mereka lakukan.

Perubahan mental seperti itulah yang menjadi tantangan berat bagi setiap orang yang menyadari bahaya imperialisme ini. Jangan sampai lebih banyak orang yang tercabut dari akar realitasnya, lupa menyadari bahwa Indonesia adalah masyarakat yang ber-Tuhan, menjadikan semua hikmah dalam Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, Muhammad sebagai suri tauladan umat manusia, berbudaya welas asih, toleran, dan bertenggang rasa serta gemar bergotong royong.

Kasus BN adalah alarm bagi kita untuk membangun benteng pertahanan yang kokoh dari arus perkembangan teknologi informasi. Kebutuhan untuk membekali generasi muda kita dengan kesadaran kritis bahwa teknologi informasi harus dimanfaatkan dengan baik dengan menolak ideologi yang merusak yang mengekor di belakangnya semakin mendesak. Warisan luhur budaya kita harus dikibarkan tinggi-tinggi. Anak-anak kita harus diselamatkan dari racun modernisasi seperti cabulisme, konsumerisme, dan individualisme.

Panji-panji kebudayaan kita sendiri harus kita hidupkan, gairahkan, lestarikan dan diberikan ruang seluas-luasnya dalam berbagai bentuk apresiasi. Budaya membaca, menulis dan mencintai literasi yang diproduksi secara utuh harus kembali digalakkan, entah dalam bentuk jurnalisme yang progresif, essai, novel dan lain-lain. Kesenian kita harus kembali dipopulerkan dengan cara yang modern, yang sekiranya dapat memberikan jalan bagi generasi kita untuk membangun impian akan masa depan yang indah dan lebih baik.

Memiliki cita-cita besar harus dihidupkan dalam sanubari generasi masa kini. Perkembangan teknologi mutakhir harus kita tunggangi agar generasi milenial kita memiliki keberanian yang besar untuk mengejar impian-impian luhur dan suci.