Meski tengah fokus melaksanakan ibadah, mantan Walikota Bengkulu Helmi Hasan yang juga menjadi kandidat Walikota 2018-2023 dalam Pemilihan Walikota (Pilwakot) pada 27 Juni 2018 mendatang menyempatkan diri membuat goresan pesan hikmah dari tanah Cambodia.

Sejak akhir Februari 2018 yang lalu, pria yang dikenal religius ini telah menyampaikan pesan tak akan mengikuti kampanye agar bisa fokus untuk melaksanakan ibadah.

Untuk melaksanakan proses kampanye, sosialisasi program dan debat kandidat, kandidat dengan nomor urut tiga ini memberikan kepercayaan penuh kepada wakilnya dalam Pilwakot, Dedy Wahyudi. [Deni Dwi Cahya]

Berikut pesan hikmah yang ia kirimkan:

Butir #005 Ikhlasun Niyah

Air adalah bahan bangunan terpenting untuk menyatukan antara semen batu dan pasir. Tanpa air tidak mungkin mereka dapat bersatu.

Kelembutan airlah yang menahan batu yang keras, mengisi celahnya dengan pasir kemudian menutup setiap porinya dengan semen.

Setelah yakin semua telah menyatu dengan aman dan damai maka pelan-pelan air pun meninggalkan mereka, tanpa sedikitpun rasa penyesalan atau hasrat ingin mempertahankan status.

Bahkan setelah semen menjadi tembok, dinding atau lantai, jika ada air yang numpang di atasnya maka akan segera diusir, disapu, dilap, dipel, divacuum, dikeringkan dll.

Dan air tidak protes, tidak demo, tidak minta dikenang, tidak pasang prasasti, air pergi dengan ikhlas dan tidak ada rencana untuk kembali lagi. Kecuali ada masalah misalnya kotor, rubuh atau perlu renovasi dan pembangunan dll.

Seperti inilah kerja da’wah yang kami temukan di Cambodia, seperti air. Kelembutan sifatnya telah menahan semangat para mujahid yang keras, kemudian mengisi celahnya dengan keilmuan kaum intelektal yang kritis dan menghiasinya dengan bunga-bunga keindahan akhlak para ahli zikir dan tasawuf.

Di dalam gerakan ini semua golongan ada, tapi tidak dibicarakan. Semua suku bangsa dan adat budaya ada tapi tidak dibicarakan. Semua pangkat jabatan dan profesi ada tapi tidak dibicarakan. Semua sibuk dalam amal.

Sebagaimana orang berangkat haji, disana melaksanakan sholat, zikir, tawaf, sai, wukuf, semua golongan ada tapi tidak dibicarakan. Semua sibuk dalam amal.

Kami diajak sarapan pagi di rumah Jenderal (polisi) Sulaiman Lalai di Takeo, kami jumpa orang Africa, Canada, Pakistan, India, China, Yaman, dll

Jika air hanya ngumpul di kolam lama-lama akan busuk dan lumutan hingga tidak layak pakai.

Seorang anak kecil di Tepi Sungai Mekong, umur 4 tahun berdiri di pintu masjid menyalami setiap jamaah yang datang, gak ada ayahya karena belum pulang khuruj 4 bulan dari Ijtima Channang.

Masuk bulan Ramadhan, setiap hari kaum lelaki memasak bubur ayam di kuali besar yang mencukupi untuk makan orang sekampung. Anak kecil datang bawa mangkok untuk jatah ibunya di rumah.

Selesai sholat maghrib nampak 5 atau 6 orang anak gadis umur 12an tahun sedang membenahi piring-piring bekas makan, tanpa disuruh.

Inilah mungkin amal ijtima’iyat mereka yang menembus langit, menurunkan hujan dan mengalir ke sungai Mekong, membagikan kedamaian kepada penduduknya walaupun Islam minoritas…..

HELMI HASAN
Cambodia… Longsan 23-05-218