Memiliki pantai yang indah nan permai, kabupaten Kaur dikenal dengan potensi wisata baharinya yang menjanjikan. Elok dan rupawan pesona Kaur membuat banyak wisatawan tak ragu untuk berkunjung.

Namun, tak sedikit orang yang ingin tahu bagaimana sejarah kabupaten yang akan berulang tahun pada esok hari ini?

Tepat pada 23 Mei 2018, kabupaten Kaur berusia 15 tahun. Kabupaten Kaur ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003 pada tahun 2003 bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Seluma. Kaur sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Bengkulu Selatan.

Kaur terletak sekira 250 km dari kota Bengkulu dan mempunyai luas sebesar 2.369,05 km² dihuni sedikitnya 298.176 jiwa. Penduduk di kabupaten Kaur mengandalkan hidup pada sektor pertanian, perkebunan dan perikanan. Warga Kaur tersebar di 15 Kecamatan, 191 desa dan 4 kelurahan.

Uniknya, Bintuhan sebagai ibukota Kaur memiliki cerita yang tersebar di kalangan masyarakat. Konon, dahulu kala BINTUHAN berasal Kata Bin’tuan yang yang disebabkan karena banyak warga yang terserang wabah penyakit Bintuk (kini Pilek).

Penyakit tersebut mewabah hampir keseluruh Kewedanaan Kaur (zaman Belanda) sehingga masyarakat menyebutnya penyakit BINTUK. Karena penyakit ini merata menyerang masyarakat maka disebutlah ‘Bintuan’.

Namun, asal sebenarnya penyakit ini adalah disebabkan oleh virus Atau bakteri yang dulu belum diketahui masyarakat pada saat itu.

Karena Perkembangan zaman, orang-orang dari daerah lain berdatangan dan ketika ditanya mau kemana? Mereka menjawab mau ke BINTUAN. Akhirnya lama kelamaan karena Ejaan Yang Disempurnakan (Bahasa Indonesia) dan memperhalus bahasa digantilah nama daerah ini dengan nama BINTUHAN.

Penduduk Kaur terbentuk dari orang-orang yang berasal dari dataran tinggi Perbukitan Barisan, yaitu orang Rejang dan orang Pasemah (Palembang), orang Lampung, dan orang Minangkabau. Minangkabau yang masuk melalui Indrapura masuk sampai ke daerah Kaur (Bengkulu). Di sini mereka bercampur dengan kelompok lain yang berasal dari Palembang, sehingga membentuk suatu identitas baru, yaitu orang Kaur.

Misalnya, di Marga Muara Nasal (Kaur) sebagian penduduknya berasal dari Minangkabau. Menurut cerita rakyat, daerah pesisir pantai ini mulanya dihuni oleh suku Buai Harung (Waij Harung) dari landschap Haji (Karesidenan Palembang).

Sejak sekitar abad ke-18, mereka mendirikan kolonisasi pertama di muara sungai Sambat yang selanjutnya berkembang sampai ke Muara Nasal. Akan tetapi, pada saat daerah itu diambil alih oleh orang-orang dari Pagaruyung yang masuk melalui Indrapura, sebagian dari mereka terdesak ke Lampung. Mereka bercampur dengan penduduk setempat sehingga dikenal sebagai orang Abung. Sebagian lain suku Buai Harung bercampur dengan orang Minangkabau dan menjadi orang Kaur.

Penduduk yang bermukim di Kaur juga merupakan percampuran antara orang dari sekitar Bengkulu dengan orang Pasemah. Misalnya, di dusun Muara Kinal (Marga Semidang), keberadaan penduduk dimulai dengan berdirinya pemukiman orang-orang dari sekitar Bengkulu (onderafdeeling Bengkulu).

Pemukiman ini bergabung dengan pemukiman orang Gumai yang berasal dari Pasemah Lebar dan menjadi satu marga, yaitu marga Semidang Gumai. Pergerakan penduduk dari daerah sekitar menuju Bengkulu terus terjadi sampai abad ke-19, yaitu percampuran orang Pasemah dan orang Kaur yang dimulai dari kedatangan orang Pasemah yang mendirikan pemukiman di hulu sungai Air Tetap (Marga Ulu Tetap). Selanjutnya, mereka bergabung dengan orang Kaur yang bermukim di Marga Muara Tetap, dan gabungan dua marga ini menjadi Marga Tetap.

Di Kaur terdapat juga orang-orang dari daerah Semendo Darat dari Dataran Tinggi Palembang (Marga-marga Sindang Danau, Sungai Aro, dan Muara Sabung). Mereka bertempat tinggal di Muara Nasal, sekira 15 km ke arah mudik dari Sungai Nasal, dan bernama Marga Ulu Nasal.
Penduduk Marga Ulu Nasal terbentuk dari campuran orang-orang dari daerah Semendo Darat dan Mekakau (Palembang). Kemudian di daerah Manna terdapat orang Serawai, yang menurut legenda berasal dari Pasemah Lebar (Pagar Alam).

Mereka berpindah dan bermukim di dusun Hulu Alas, Hulu Manna, Padang Guci, dan Ulu Kinal (daerah Manna). Daerah pantai Lais mendapatkan tambahan penduduk yang berasal dari Minangkabau.

Kedatangan mereka diperkirakan berkaitan dengan kedatangan Pangeran dari Minangkabau ke daerah orang Rejang dan mereka menjadi cikal bakal Kerajaan Sungai Lemau. Selain itu, di daerah pantai juga terdapat orang Melayu, mereka memiliki daerah pemukiman sendiri yang disebut dengan ‘pasar’ dan dipimpin oleh seorang datuk.

Sekarang ini, kabupaten Kaur semakin hari juga semakin jelas perkembangannya dari semua sektor, Pemerintah Daerahnya juga mendapatkan penghargaan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK dari segi laporan keuangan daerah.

Kaur sejak tahun 2005 mulai memproduksi fermentasi alami minyak kelapa sawit yang diekspor ke luar negeri, pertanian (swasembada), batubara, pasir besi, batu, dan pasir tambang, karet, cengkeh, lada, kopra, palawija (kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar yang cukup luas), jahe gajah, perikanan laut, perikanan air tawar, lobster, dan lain-lain.

Kabupaten ini sedang merencanakan peningkatan mutu kualitas wilayahnya. Pemkab Kaur berencana membuat saluran irigasi yang juga terletak di kecamatan Kaur Utara, yang nantinya mampu mengairi lahan sawah hingga 8.000 hektare. Selain itu, pembuatan jalan tembus sepanjang 150 kilometer yang menghubungkan wilayah Kaur Utara hingga perbatasan provinsi Lampung, juga sedang diupayakan.

Bahkan kabupaten Kaur dikatakan alamnya nyaris yang paling makmur di provinsi Bengkulu. Tentu dengan tingkat penegakan nilai-nilai adat yang masih dijunjung bersama.

Pada hari jadi yang ke-15, semakin majunya kabupaten Kaur adalah menjadi harapan bersama. Semoga dengan potensi pariwisata, pertanian, dan pertambangannya, Kaur semakin jaya dan makmur. [Eva De]