Karya : Muhammad Lutfi

Di dalam hutan yang sangat luas dan belum terjamah oleh manusia sekalipun, di situlah tinggal hewan-hewan yang hidup bebas di hutan ini. Mulai dari yang kecil dan besar ada semua. Hutan ini dirajai oleh harimau. Dia seekor harimau yang sangat liar dan ganas. Kemampuannya untuk menyelesaikan segala permasalahan yang dialami oleh segala hewan penghuni hutan membuatnya menjadi pemimpin yang bijaksana. Sehingga segala urusan dibuatnya menjadi mudah. Tetapi yang namanya harimau tetaplah harimau, yaitu tetap hewan buas. Setiap harimau lapar, dia menculik dan mengambil hewan apa saja yang ditemuinya. Kecuali gajah dan kancil. Itu karena gajah adalah pelindung harimau dalam marabahaya saat ada gempa bumi dan kancil adalah pemberi keputusan di belakang harimau. Di mana seolah-olah terlihat bahwa harimau lah yang memberi keputusan itu.

Suatu ketika, saat sedang berjalan-jalan melihat keadaan hutan, sang harimau merasa lapar yang tak tertahankan sehingga dia harus menggigit taringnya kuat-kuat. Keadaan lapar tidak terkendali, suaranya mengaum dan menakutkan sekali. Saat dalam keadaan seperti itu seluruh penduduk hutan merasa gelisah dan dipenuhi rasa ancaman serta teror. Raja hutan yang mereka hormati bisa-bisa menjadi pemangsa yang buas bagi mereka sendiri saat perut sang raja kosong.

Waktu itu, berjalanlah kelinci seorang diri sedang mencari anaknya. Dia melompat-lompat sambil memakan wortel yang baru dipetiknya. Dari semak-semak yang lebat di belakang punggung si kelinci bahaya sedang mengintai. Sang harimau lapar matanya menyala menemu mangsa. Tanpa pikir panjang harimau segera menerkamnya dari belakang dan melumat habis si kelinci malang itu tanpa ampun dan semua dagingnya bahkan tulangnya dihabisi dengan liar. Merasa belum puas dengan rasa laparnya, dia segera berlari dengan tenaganya itu. Dia menuju ke kediaman rusa.

Saat itu, si rusa sedang berkumpul bersama keluarganya dan duduk di bawah rindang pohon. Mereka sedang tertidur di sing hari begini. Tanpa pikir panjang, sang raja hutan menarik ekor seekor rusa dan membawanya pergi jauh. Anak si rusa tak pernah tahu kenapa sejak dia dibawa oleh raja hutan ayahnya tak pernah pulang. Malang benar nasib si rusa dan kelinci.

Sementara sang raja yang merasa telah kenyang hari ini, dia menghampiri air sungai di sebuah muara untuk minum. Tetapi saat dia melangkahkan kaki untuk menyentuhkan mulutnya ke air, sekawanan buaya bermunculan ke tepian dan mendongakkan kepalanya secara bersamaan. Mereka adalah sekumpulan buaya yang sangat benci kepada harimau ini. Mereka dikenal sebagai pemberontak hutan. Ceritanya dimulai dua tahun lalu saat hutan sedang terjadi kebakaran. Dua tahun lalu kebakaran sedang menimpa hutan yang dahulu ditempati oleh mereka semua. Saat itu seluruh penghuni hutan sedang bingung bagaimana menyelamatkan diri dari api yang terus bergerak menghabisi tempat tinggal mereka.

“Aduh bagaimana ini?”, kata kerbau panik.

“Tolong kami… tolong..”, teriak kancil, gajah, dan harimau bersamaan.

Saat itu sekumpulan buaya datang menawarkan bantuan dan menawarkan kepada mereka pertolongan. Tetapi dengan satu syarat, setiap hari mereka harus melemparkan seekor hewan ke dalam sungai untuk makanan buaya-buaya. Semua hewan bercampur aduk rasa mereka. Takut, bingung, resah, gelisah, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya mereka menyetujui permintaan buaya-buaya itu. Mereka memberi mereka jasa dan pertolongan untuk menyeberangi sungai. Mereka melewati sungai dengan cara menaiki punggung buaya. Sekelompok buaya yang terdiri dari puluhan ekor buaya-buaya tersebut berkumpul dan saling bersatu. Mereka menjadi jembatan yang digunakan oleh hewan-hewan tersebut untuk menyeberangi sungai. Akhirnya api yang sedang membakar habis hutan mereka tidak juga membakar mereka. Mereka beruntung dan selamat.

“Kalian sudah kami tolong, ingatlah selalu kepada jasa-jasa kami dan penuhilah janji kalian semua kepada kami.”, kata buaya.

“Kami pasti ingat dan ucapan terimakasih dari kami semua untukmu tidaklah lupa.”, kata kancil.

Kini mereka tinggal di hutan yang baru yang lebih luas dan lebih hijau. Mereka segera mencari tempat untuk berteduh masing-masing. Sang burung elang yang tinggal di puncak ranting pohon jati yang tinggi mengepakkan sayapnya sehingga membuat matahari seolah terbenam.

“Matahari sudah terbenam, ayo cepat carilah tempat tinggal kalian masing-masing.”

“Ayo-ayo cepat, sebelum kegelapan membuat kita samar dalam melihat.”

Mereka tidak tahu kalau sebenarnya itu adalah perbuatan sang elang yang sedang mengepakkan sayapnya. Sayapnya yang lebar dan tubuh yang kekar membuat sang elang bagaikan menutupi sinar matahari.

“Hei kalian semua, apakah kalian semua tidak melihat ke atas?”

“Apa yang kau inginkan dari kami?”

“Aku menginginkan daging kalian.”

Baru saja selamat dari musibah malapetaka menghampiri. Begitu pepatah yang sedang dirasakan oleh hewan-hewan ini. Mereka berlarian lagi ke luar hutan dan lagi-lagi sungai muara itu yang menjadi sekat.

“Buaya-buaya tolong kami.”

“Apa lagi yang kalian inginkan, apa kalian ingin memberiku makan hari ini?”

“Tolong kami dahulu, kami sedang menghadapi masalah. Elang besar yang bertengger di hutan itu mengancam akan memakan kami.”

“Lalu kalian mau bagaimana?”

“Tolonglah beri kami pertolongan buaya.”

Pinta kancil, harimau, dan gajah. Ketiga hewan tersebut memang hewan yang saling bekerjasama dan dengan kelihaiannya bersilat lidah mereka menjadi hewan yang tidak bisa dikalahkan dalam berargumen.

“Begini saja, kalian cari tikus-tikus yang ada di lubang-lubang pohon, lalu kalian ambil lalu masukkan racun kedalam salah satu tikus itu. Ambil yang besar untuk dikasih racun. Maka elang tidak akan bisa terbang dan bergerak. Kalian bisa leluasa kembali.”

“Terimakasih atas saran tersebut buaya.”

“Ingatlah, penuhi janji kalian kepada kami buaya-buaya.”

“Kami tidak akan pernah lupa buaya.”

Untuk itu, harimau segera memerintahkan tupai dan ular untuk menangkap tikus-tikus dan ular disuruh untuk memberi racunnya di tubuh tikus yang paling besar untuk disuguhkan kepada sang elang.

“Elang yang perkasa, kami bawakan daging yang lezat untukmu. Daging ini masih segar.”

“Tinggalkan di bawah atau kau juga yang menjadi santapanku.” Hardik elang dengan ganas.

Elang segera turun dan melahap habis daging tikus yang beracun tersebut. Tubuhnya lemas dan tidak berdaya, kepakan sayapnya bagaikan ranting patah. Matanya terpejam dan tak sadarkan diri. Hewan-hewan yang melihatnya segera membuangnya ke sungai supaya dimakan buaya.

Kancil dan gajah mengumumkan bahwa mulai saat ini, harimau diangkat menjadi raja hutan karena telah dianggap berjasa kepada mereka semua. Mereka merasa senang karena telah menyingkirkan malapetaka. Tetapi malapetaka yang sebenarnya barulah dimulai sekarang ini. Dengan mengangkat harimau sebagai raja hutan, mereka sama saja membuat api untuk membakar diri mereka sendiri. Mereka belum tahu sisi lain harimau ketika sedang lapar.

Dalam hati harimau merasa sangat senang dan bangga. Dia bangga menjadi raja hutan sekaligus merasa senang karena bisa memberi perintah dan keputusan berada di tangan seorang raja.

“Kini, aku bisa bertindak semauku. Jika aku lapar aku tidak usah berlarian mengejar mangsa, mereka sendiri yang akan datang padaku. Soal imbalan untuk buaya-buaya itu biarlah mereka kelaparan dan berteriak-teriak. Di sini aku rajanya.” Kata harimau dalam hati yang dipenuhi dengan keserakahan dan kebuasan.

Sehingga harimau menjadi ingkar janji kepada buaya-buaya tersebut dan menimbulkan dendam yang mendalam pada harimau tersebut. Begitulah sehingga sungai muara itu tidak ada yang berani menyentuhnya, bahkan harimau sekalipun dikarenakan dendam buaya-buaya kepada mereka yang telah ingkar janji kepada mereka.

***

Kini si harimau tidak bisa berkutik, dia tidak bisa meminum air setetespun dari sungai itu. Sebab hanya sungai tersebutlah satu-satunya sumber mata air di hutan tersebut.

“Mau ke mana kau pembohong?”

“Kalau kau ingin minum, minumlah saja air ludahmu. Di sini hanya ada kematianmu harimau penjilat.”

“Sebentar lagi semua hewan-hewan di hutan ini juga akan tahu kebusukanmu itu.”

Begitulah kata buaya-buaya tersebut sambil menertawakan si harimau. Malang benar nasibnya. Harimau yang merasa kehausan sudah tidak bisa menahan rasa haus dan panas dalam tenggorokannya. Dirinya sudah benar-benar dikuasai amarah. Di berlarian menerobos semak-semak dan meloncati pohon.

“Hai harimau, sedang apa kau ini?”

“Siang-siang memanjat pohon apa sudah tidak ada hal yang kau lakukan sebagai seorang raja hutan?”

“Lebih baik kau membantu landak mengeluarkan diri dari perangkap pemburu.”

Kancil dan gajah sama-sama membujuk harimau agar turun dan merasa ada yang aneh dengan sifat si harimau.

“Kalau kalian banyak bicara, kebanyakan tingkah, akan aku makan sampai habis kalian.”

Suara sang harimau sangat menggetarkan kaki mereka, mereka tidak menyangka bahwa harimau yang dulu dianggap temannya kini menjadi pemangsa dan sosok asing yang ingin menghabisi mereka. Si kancil dan gajah berlari meminta tolong.

“Tolong…tolong….tolong…”

Mereka berlari tunggang langgang  dikejar harimau yang sedang lapar. Suara mereka membuat seluruh penghuni hutan merasa terkejut dan segera menghampiri mereka.

“Ada apa ini?”, kata burung merak.

“Tolong kami yang sedang dikejar harimau lapar.”

“Maksudmu harimau si raja hutan itu?.”, ucap kera penasaran.

“Iya, kami tidak menyangka kalau ia menjadi seekor monster yang akan memangsa temannya sendiri.”

“Ini tidak bisa kita biarkan. Di muara diancam buaya, di sini kita diancam raja sendiri. Bisa kiamat ini, kalau kehidupan semua hewan musnah dimakan harimau itu. Ayo kita harus melawannya.”, ucap kancil.

“Tapi dengan apa, aku sendiri pasti di kalahkan dengan taring berkuasanya itu.”, ucap gajah.

“Harus ada yang melawan dan tidak bisa dijangkau harimau, dan aku tahu siapa dia? Dia adalah ayam yang hidup di desa. Suaranya keras, bijak, dan disiplin. Hanya dia yang dapat menolong kita sekarang ini.”, ucap landak memberi saran.

Akhirnya semua setuju untuk meminta pertolongan kepada ayam yang hidup di desa. Landak dan kera turun ke desa dan menemui ayam. Saat itu, ayam sedang berkokok keras di waktu siang hari sehingga suaranya membuat sinyal yang dapat ditangkap oleh landak dan kera.

“Hai ayam, maukah menolong kami yang sedang dilanda kesusahan?”

“Apa yang bisa kubantu temanku?”

“Kami sedang mengalami gelisah karena menghadapi dua pemangsa di darat dan air. Yaitu buaya dan harimau, kalau tidak diatasi bisa-bisa semua hewan musnah dan ranting makanan menjadi tidak seimbang lagi. Tolonglah kami ayam temanku.”

“Baiklah, sekarang juga ayo bergegas menuju ke hutan dan melawan mereka.”

Ayam dan landak bersama-sama menuju hutan. Sedangkan si kera tetap tinggal di desa menjaga anak-anak dan keluarga si ayam.

Kancil dan gajah menceritakan segalanya mulai dari masalah perjanjian dengan para buaya dan pengangkatan harimau menjadi raja hutan serta pengakuan kesalahan-kesalahan mereka di hadapan ayam yang bijak dan cerdik.

Kalau begitu, “Sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui, sekali musuh kita nanti jatuh, jangan ulangi kesalahan seperti itu lagi.”, ucap si ayam memberi petuah dan nasihat.

***

Si ayam sudah berdiri dengan gagah mempersiapkan rakit di tepian muara. Dengan segala persiapan yang matang, dia telah mempersiapkan cara untuk melenyapkan teror yang menghantui penghuni hutan tersebut.

“Hei harimau, katanya kau menantangku berkelahi. Ayo buktikan siapa yang paling hebat dan berkuasa di sini. Kau atau aku yang pantas menjadi seorang raja.”, tantangan ayam kepada harimau.

“Kau seekor ayam kecil berani menantang aku yang hebat dan lincah ini? Aku punya taring dan cakar yang siap mengkoyakmu jika kau manantangku.”

“Untuk itu aku tak pernah takut, karena aku punya keberanian dan kecerdasan yang tidak dipunyai olehmu yang serakah dan tak tahu balas budi.”

“Dasar hewan kecil, akan kumakan kau seperti mereka semua.”

Ayam segera meloncat terbang ke atas pohon. Dan terbang ke atas sampan yang sudah dibuatnya di tepi suangai. Harimau yang sudah tidak terkendali amarahnya itu mengejar ayam yang ada di atas rakit. Mereka berdua sudah ada di atas rakit dan rakit itu mulai bergerak mengikuti arus sungai. Harimau tidak menyadari bahaya apa yang sedang mengancamnya. Saat rakit itu sudah berada di tengah-tengah sungai si ayam segera meloncat dan terbang ke tepian. Kini tinggal harimau berdiri sendirian di atas rakit. Merasa dipermainkan oleh seekor ayam si harimau segera meloncat dan menyeberangi sungai dengan berenang. Tetapi segerombolan buaya yang dendam kesumat segera menggigit kaki dan tangannya sehingga ia tidak bisa bergerak. Harimau itu telah menyadari maut yang mengancamnya. Buaya yang telah mendapatkan mangsa dan memenuhi pembalasan dendamnya itu merasa puas, dan mengkoyak-koyak harimau menjadi santapan siang hari mereka.

“Santaplah makananmu buaya-buaya.”

“Wahai ayam, terimakasih telah membantu kami menghabisi musuh kami yang telam lama kami sangat ingin melahapnya karena dia telah ingkar janji kepada kami semua. Mulai sekarang kami berjanji akan menolongmu jika engkau membutuhkan pertolongan kami.”

Sejak saat itu ayam dianggap berjasa dan menjadi pahlawan bagi penghuni hutan.

“Hai ayam, apakah aku boleh tahu, darimana kamu memperoleh kemampuan bisa terbang seperti itu?”, tanya landak.

“Dulu aku pernah menjadi kawan elang, dia menjahitkan sayapku walau hanya separuh, jadi aku bisa terbang walaupun tidak setinggi dan selama elang bisa terbang di udara. Tetapi karena aku tidak suka makan daging seperti elang, aku memutuskan untuk pergi dan menetap di desa.”, ucap ayam.

Kini keadaan di hutan menjadi tenang kembali berkat pertolongan ayam yang membantu mereka. Mereka sangat berterimakasih kepada ayam dan sangat mengharapkan ayam mau tinggal di hutan dan menjadi raja mereka yang baru.

“Apakah engkau bersedia menjadi raja di hutan ini temanku?”, kata landak.

“Maafkan aku, tetapi aku sudah berjanji untuk tidak tinggal di hutan. Dan aku tidak mungkin mengingkari janjiku.”, jawab ayam.

“Tenang sajalah, jika kalian membutuhkan pertolonganku sampai kapanpun aku siap untuk membantu kalian, tetapi aku cukup hidup di desa dan menjalani kewajibanku untuk menolong manusia. Kadang mereka membutuhkan ku sebagai penanda pergantian waktu pagi dan petang.”, kata ayam.

“Sebagai tanda terimakasih kami semua kepadamu, kami akan memberimu panggilan ayam hutan. Karena engkau telah berjasa di hutan dan menjadi pahlawan hutan. Sekaligus, kami akan mengangkat landak sebagai raja sementara di hutan. Karena dialah yang adil di antara kami semua.”, kata gajah.

Akhirnya, ayam selesai memenuhi tugasnya untuk menolong penghuni hutan dan kembali ke desa untuk bertemu keluarganya. Si kerapun kembali ke hutan dan menjadi pengawas hutan yang tinggal di atas pohon dan ranting-ranting untuk melihat musuh atau ancaman yang datang.

***

“Hai lihatlah semuanya, rusa berlari dengan luka cukup parah di punggungnya.”, teriak kera memberi kabar dan peringatan.

“Apa gerangan yang terajdi?”

“Aku telah diserang buaya. Buaya-buaya itu menarik anak dan suamiku ke sungai dan menjadikan mereka korbannya.”, kata rusa yang terluka parah itu.

“Baru sejenak, sebulan kita rasakan hidup tentram tetapi adalagi ancaman yang membuat kami hewan-hewan di hutan merasa tidak aman dan harus hidup dalam ketakutan seperti ini.” kata kancil dengan nada sedih.

“Mau tidak mau kita harus meminta pertolongan kepada ayam hutan. Aku rasa dia bisa menolong kita kembali karena kecerdikannya. Kera, cepat kau panggil ayam hutan dan beritahukan masalah ini kepadanya. Mintalah pertolongannya agar dia mau menolong kita kembali.”, ucap landak kepada kera.

Kera segera berangkat menuju ke desa dan menemui ayamhutan. Ayam hutan sedang menunggu istrinya yang mengerami telurnya untuk beberapa minggu ini dan tidak bisa diganggu.

“Ayam yang cerdik, kami membutuhkan pertolonganmu. Tolonglah kami yang sedang dilanda bahaya kembali.”

“Malang nasib kalian, hidup di hutan tak bisa merasa tentram. Lantas apa yang sedang terjadi?”

“Kami sedang menghadapi buaya yang kini menjadi pemangsa bagi kami. Rusa dan keluarganya saat sedang minum di sungai menjadi korbannya. Dan tanpa air sungai itu kami tidak akan bisa hidup. Tolonglah kami ayam yang bijak dan cerdik.”

“Tetapi ada hal penting yang sedang kulakukan. Aku harus menunggu istriku untuk mengerami telurnya selama beberapa minggu. Kalau engkau berkenan, tunggulah beberapa minggu sampai telur ini lahir.”

“Ini tidak mungkin ayam hutan. Jika harus menunggu beberapa minggu, kami khawatir aka n ada beberapa korban lagi yang berjatuhan saat harus minum di sungai karena rasa haus mereka yang tak tertahankan. Tolonglah kami ayam yang bijak dan cerdik.”

Ayam hutan yang mendengar perkataan dan permohonan kera yang memelas tersebut merasakan sedih dan iba. Tetapi menunggu istrinya untuk mengerami telur-telurnya juga penting dan menjadi kewajiban utamanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menolong seluruh hewan yang sedang dilanda resah itu. Terlebih dahulu, ayam dan kera menyusun rencana untuk melawan buaya-buaya itu.

“Bagaimana ayam hutan, apakah pahlawan hutan sudah mempunyai cara cerdik mengalahkan buaya-buaya itu?”

“Itu tidak mungkin kawan, sebab mereka sangat banyak. Bahkan kalau hanya kecerdikan dan tenaga kita semua hewan-hewan di hutan tidak akan bisa melawan kumpulan buaya-buaya ganas yang licik dan bertubuh besar itu.”

“Lalu bagaimanakah ayam hutan?”

“Dulu, saat aku mengalahkan harimau di muara itu, buaya-buaya itu berjanji akan membantuku jika aku membutuhkan pertolongan mereka. Tetapi sekarang mereka bertindak brutal tanpa tahu aturan. Maka aku harus turut untuk menolong semua penghuni hutan yang mengalami kekejaman dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh buaya-buaya itu.”

“Lalu apa rencananya ayam hutan?”

“Kita harus membawa mereka ke perkampungan dan dilihat oleh semua orang. Jika manusia sudah merasa terusik, maka mereka akan membawa senjata dari besi dan menangkap buaya-buaya yang tak akan berdaya di hadapan manusia-manusia yang pandai dan terpelajar itu.”

“Itu ide yang cemerlang dan hebat ayam hutan. Aku kagum kepadamu.”

Kera dan ayam hutan menyusun rencana yang telah dipersiapkan matang-matang. Ayam hutan berangkat ke sungai untuk membawa buaya-buaya itu menuju ke perkampungan penduduk. Sedangkan kera membuat keramaian dan kegaduhan di pasar agar mereka semua tahu apa yang akan ditunjukkan si kera kepada orang-orang di pasar.

“Hai buaya-buaya, ayo ikut aku si ayam hutan. Aku menemukan bangkai kerbau yang tergeletak di tengah pasar yang sepi. Itu sangat lezat dan aromanya menusuk hidungku.”

“Apakah benar yang kau beritahukan itu si ayam hutan?”

“Aku yang menolong kalian untuk mengalahkan harimau yang menjadi musuh kalian itu. Jadi, mana mungkin aku berbohong?”

“Iya-iya, kami semua para buaya-buaya percaya pada kau si ayam hutan yang bijak dan cerdik. Ayo kita berangkat ke kerbau yang tergeletak itu.”

Akhirnya buaya-buaya itu terhasut ajakan si ayam hutan dan berangkat menuruni hutan menuju ke perkampungan. Tidak ada satupun rasa curiga yang terbesit di hati buaya-buaya itu. Mereka hanya mempercayai apa perkataan ayam hutan.

Sementara itu, kera sedang membuat keramaian dan kegaduhan di pasar sehingga semua orang merasa marah dan mengejar kera itu untuk mengusirnya. Tetapi kera itu melawan dan memancing emosi mereka. Sehingga semua orang membawa senjata dan tali untuk menangkap kera itu. Tanpa di sadari, kumpulan buaya-buaya itu tiba di perkampungan dan kaget saat melihat manusia-manusia yang mengangkat senjata. Buaya-buaya itu pun mulai mengetahui siasat dari ayam hutan yang menjebak mereka semua. Tanpa basa-basi ayam hutan berkokok keras-keras dan mengundang perhatian semua orang yang sedang ramai-ramai mengusir kera itu.

Para manusia yang melihat buaya-buaya itu juga terkejut dan langsung menghujami mereka dengan tombak-tombak yang tajam sehingga buaya-buaya itu mati seketika dan tanpa tersisa seekor sedikitpun. Ayam hutan merasa lega melihat buaya-buaya yang memberi teror itu musnah. Kehidupan ekosistem di hutan bisa berjalan kembali. Tetapi, si kera tertangkap oleh para manusia dan tak mungkin bisa lepas dari jerat manusia yang pandai-pandai dan terpelajar itu.

“Kera, maafkan aku karena engkau harus mengorbankan dirimu sendiri demi seluruh hewan-hewan penghuni hutan.”, ucap ayam hutan.

“Aku tidak apa-apa ayam hutan. Tetapi, hanya satu permintaanku. Engkaulah yang harus tinggal di hutan dan memimpin seluruh hewan hutan dengan bijaksana dan adil, karena engkaulah hewan yang disiplin di antara hewan-hewan lainnya.”, ucap kera.

“Kalau itu memang bisa menebus segala kesalahan recanaku yang kurang tepat dan bisa memberimu kebahagiaan, maka aku bersedia tinggal di hutan dan menjadi raja hutan yang adil dan bijaksana, serta disiplin.”, ucap ayam hutan.

Akhirnya, ayam hutan berangkat menuju hutan dan menetap di sana dan seluruh penghuni hutan mengangkatnya menjadi raja hutan. Kini si ayam hutan dari kampung diangkat menjadi si ayam hutan seorang raja hutan yang bijaksana karena jasa-jasa dan keberaniannya menolong hewan-hewan yang lemah dan membutuhkan pertolongan. Sedangkan kera tetap tinggal di perkampungan bersama penduduk-penduduk desa. Kadang mereka bisa bebas masuk hutan dan keluar hutan untuk memberi kabar tentang kehidupan hewan-hewan di perkampungan dan di hutan.

Solo, 13 Maret 2018

 

Biodata Penulis

Penyair bernama Muhammad Lutfi ini lahir di Pati, 15 Oktober 1997. Belajar menulis puisi dengan otodidaks dan membaca. Aktif dalam berbagai kepenulisan puisi. Ayahnya bernama Slamet Suladi adalah seorang guru. Ibunya bernama Siti Salamah adalah seorang guru. Muhammad Lutfi adalah anak pertama dari dua bersaudara. SD di SD N Tanjungsari, melanjutkan di SMP N 1 Jakenan, kemudian meneruskan SMA di SMA N 2 PATI, dan sekarang berstatus sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Negri Sebelas Maret Surakarta. Sejak kecil memang sudah suka menulis cerita dari dongeng yang dibaca. Setiap ayahnya pulang kerja, selalu buku cerita yang dibawa. Sehingga saat masih kecil sudah suka menulis dan menyukai cerita. Kemampuan sajaknya terasah saat membaca biografi dan puisi W.S. Rendra yang membuatnya takjub.  Karyanya terangkum dalam; kumcer Nahima Press (2015), Antologi Puisi Tuas M Publisher (2016), dan Antologi Puisi Bebuku Publisher (2016), serta Antologi para penyair Indonesia di Hari Puisi Indonesia yang bertempat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (Matahari Cinta Samudra Kata, 2016). Memenangkan Lomba penulisan puisi di SELEKTAS UNS juara II (2015), serta dalam buku Antologi SAJAK para mahasiswa 2015 dan 2016. Mempunyai hobi menulis, membaca, dan jalan-jalan. Cerpennya terangkum dalam Kumpulan Cerita Mini, Penerbit Harasi (2016), Malam yang Terjaga (Sabana Pustaka). Dan puisinya diterbitkan koran Amanah Sastra (Mata Sengsara, Masak dalam Mimpi, Tikar Pedagang Asongan). Menulis Cerpen, Artikel, dan puisi di berbagai media online. Puisinya yang berjudul (Topeng Rakus di Sekolah) ikut menjadi puisi terpilih dalam perlombaan puisi tingkat ASIA yang dibukukan dan dilaunching di IAIN Purwokerto yang di kuratori oleh Muhammad Badrun, Gani Sahidun, Faiz Adittian. Pada waktu SMA dulu bait syairnya digunakan dalam lagu pementasan kelas IPS dalam rangka Pentas Seni di SMA N 2 Pati. Buku puisi tunggalnya yang ber-ISBN berjudul Kumpulan Puisi Kenangan yang diterbitkan oleh Ajrie Publisher. Salah satu sajaknya berjudul Siapa Patriot kini terangkum dalam antologi puisi HELP yang di terbitkan oleh Penerbit WR TSANI MEDIA dan akan diterjemahkan ke dalam 5 bahasa asing. Dan masih banyak lagi antologi puisinya bersama penyair-penyair nasional. Penyair dapat dihubungi melalui No.HP; 081225854416, FB; Muhammad Lutfi, dan E-mail; ahmadsusendra79@yahoo.com. Alamat rumah; Desa Tanjungsari, Rt.01/ Rw.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, dan berkewarganegaraan Indonesia.