IST/Gedung KPK

JAKARTA, PB – Pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi membentuk tim khusus untuk mengawasi Provinsi Bengkulu. Pembentukan tim khusus ini menyusul banyaknya penyelenggara negara di Bengkulu yang tertangkap tangan penyidik antirasuah.

“Karena di Bengkulu sudah terjadi berulang kali, kami (pemimpin KPK) sepakat membikin tim khusus pendampingan,” ujar Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di kantornya belum lama ini.

Basaria menjelaskan, tim ini nantinya bakal mendampingi pemerintah daerah Bengkulu dalam pengelolaan kota, termasuk pengadaan barang dan jasa, serta infrastruktur. Pendampingan terhadap pembuatan e-planning dan e-budgeting juga menjadi tugas tim khusus ini.

Basaria berharap tim ini bisa mendeteksi celah-celah dugaan tindak pidana korupsi di Bengkulu.

“Adanya tim di sana mereka bisa mendapat informan lebih banyak. Tapi yang kami utamakan adalah tindakan pencegahan,” ujar dia.

Dari 10 wilayah yang diawasi KPK, yakni Aceh, Papua, Papua Barat, Riau, Banten, Sumatera Utara, Bengkulu, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, serta Sulawesi Tenggara, Bengkulu merupakan daerah yang paling rawan.

Sejak 2016, setidaknya ada tiga kali operasi tangkap tangan yang melibatkan kepala daerah, jaksa, panitera pengganti, dan hakim.

Terbaru, KPK menangkap Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud karena diduga menerima suap dari kontraktor bernama Juhari. Dirwan diduga menerima suap agar menunjuk langsung Juhari untuk mengerjakan proyek-proyek di pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan, di antara wilayah yang masuk zona merah KPK, Bengkulu bakal menjadi prioritas pengawasan. Tim yang ditunjuk nantinya bakal berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri.

“Kami fokus di daerah. Nanti akan kami sinkronkan dalam bentuk koordinator wilayah,” katanya.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo tak henti-hentinya mengingatkan kepala daerah untuk memerangi korupsi. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu menyinggung soal pakta integritas kepala daerah yang ditandatangani bersama KPK.

“Sekarang tanda tangan, janji enggak korupsi. Eh, besoknya ketangkap,” katanya. [Zie Khausna]