ALKISAH, dalam sebuah kampung tinggallah seorang ibu dengan dua orang anaknya, yang sulung laki-laki dan adiknya perempuan. Mereka hidup berladang, yaitu menanam padi dan sayur-sayuran, diantaranya ada yang menanam mentimun.

Kedua anak itu selalu membuat kesal dan sedih hati ibunya, karena tidak mau mendengar kata atau nasehat ibunya. Pada suatu hari anaknya yang perempuan memetik mentimun dan digunakannya untuk bermain-main. Ibunya melarangnya, agar mentimun itu tidak dimain-mainkan. Kata ibunya “Janganlah dimain-mainkan mentimun itu anakku, lebih baik engkau makan saja.” Jawab anaknya yang laki-laki. “Biarlah kami pakai saja untuk bermain-main.”

“Makan saja, Nak timun itu.”kata ibunya. “jangan Dik,” cegah kakaknya pula. Ibunya akhirnya berkata, karena sudah terlalu kesal, Sudahlah, kalau begitu lebih baik ibu pergi ke batu bertangkup. Tinggallah kalian berdua, supaya senang hati kalian, tidak ada yang melarang apa mau kalian.”

Biasanya siapa saja, kalau ia sudah menyebutkan,” saya mau ke batu bertangkup.” maka orang itu adalah seolah-olah memang benar-benar dipanggil oleh batu bertangkup dan terus tidak sadar berlari ke arah batu tersebut. Demikian pula si ibu tadi, begitu ia selesai menyebutkan mau ke batu bertangkup, ia lalu berlari ke arah sana, seolah-olah dihisap oleh batu bertangkup. Sampai di sana, si ibu itu terus masuk ke Batu bertangkup.

Anak-anak yang ditinggalkannya setelah beberapa lama baru menyadari bahwa ibu mereka benar-benar pergi dan masuk ke batu bertangkup. Mereka lalu berlari masuk hutan keluar hutan menyusul ibunya, tetapi tidak tampak lagi dan mereka tidak dapat menemukan ke arah mana si ibu berlari. Mereka akhirnya tersesat di hutan, tidak menemukan jalan. Menangislah adiknya yang masih kecil itu karena terlalu lelah dan lapar, serta haus sekali. Mereka berjalan kesana kemari mencari makanan, tetapi tidak dapat.

Tidak lama kemudian, terbanglah seekor burung di dekat mereka. “Tangkaplah burung itu, Kak”, kata adiknya. Kakaknya pun lalu berusaha menangkap burung itu dan kebetulan dapat ditangkapnya, tetapi tidak dapat dimasak karena mereka tidak dapat membuat api. Kakaknya lalu berkata, “Tinggallah dulu di sini Dik, saya akan mencari api dulu. Disana ada ladang orang, mudah-mudahan ada api kita mau memasak burung ini.”

Ditinggalkanlah adiknya di dalam hutan, dia pergi ke ladang orang untuk meminta api. Sampai dipondok itu ia berkata, “Pak boleh saya minta api?” Orang yang di pondok itu menyangka anak itu berpura-pura saja, dan jawabnya,”Anak ini rupanya yang sering mencuri jagungku yang setiap malam hilang”. Anak itu langsung ditangkapnya, sebab dituduhnya mencuri jagung, lalu diikat tangan dan kakinya dan dimasukkan ke dalam karung goni, diikat serta dibuang ke laut.

Begitu nasibnya, terapung-apung di laut, sedangkan adiknya yang ditinggalkannya di hutan entah bagaimana nasibnya. Si abang yang dihanyutkan tadi akhirnya terdampar di pinggir pantai, yang didiami oleh sekelompok raksasa, semuanya laki-laki, tidak ada yang perempuan. Kerja raksasa di sana adalah berladang.

Raksasa itu pernah menangkap seorang anak perempuan dan ditawannya. Anak perempuan tersebut dipelihara dan dibiarkan hidup untuk beberapa lama agar dia menjadi gemuk, maksud mereka akan dibunuh dan dijadikan santapan yang lezat mereka.

Anak perempuan itulah yang memasak untuk raksasa-raksasa yang menawannya. Dia boleh berjalan-jalan keluar rumah mencari bahan makanan dan sayuran, tetapi tidak boleh jauh-jauh.

Suatu hari anak perempuan tersebut berjalan-jalan di pinggir pantai, kebetulan dilihatnya sebuah benda terapung-apung di pinggir laut, segera dia berlari untuk mendapatkan benda itu. Diraihnya dan diangkatnya terasa sangat berat, sampai dipantai dibukanya tali pengikat barang itu, alangkah terkejutnya karena yang di dalam karung itu adalah seorang anak laki-laki tanggung. Dikiranya anak itu sudah mati, lama diamat-amatinya, kelihatanlah bahwa anak itu hanya pingsan. Rupaya anak itu sudah kepayahan, bahkan rupanya hampir mati.

Segera anak perempuan itu berusaha mengeluarkan air yang ada dalam perut anak laki-laki itu, dengan jalan membalikkan badan, dan mengurut-urut badan anak laki-laki itu mulai sadar, dan melihat sekelilingnya.

Anak perempuan yang menolongnya merasa senang karena dia merasa mempunyai kawan dalam tawanan raksasa yang sangat ditakutinya itu. Ia lalu bertanya, “Dari mana asalmu. Mengapa kamu sampai berbuat begitu. Dimana rumahmu?”.

Anak laki-laki itu baru sadar bahwa ia sudah demikian jauh berpisah dari adiknya, bahkan ia hampir mati tenggelam di laut kalau tidak dibantu oleh anak perempuan yang ada didekatnya sekarang ini. Maka dicerirakannya hal ihwalnya dari mula sampai ia ditemukan oleh anak perempuan itu.

Setelah mengetahui keadaan anak laki-laki itu anak perempuan itu lalu berkata, “Ayolah tinggal bersamaku saja” “Dimana rumah mu?” tanya anak laki-laki itu. “Tidak jauh dari sini. tetapi saya ini sebenarnya tawanan raksasa”, jawab anak perempuan itu. “Bagaimana caranya aku dapat ikut denganmu?” tanya anak laki-laki itu.
“Engkau terpaksa jadi tawanan raksasa juga, walaupun ditawan , makanan kita enak-enak, makan hati binatang.” “Baiklah, aku akan mengikutimu”, jawab anak laki-laki itu.

Pergilah mereka berdua ke rumah raksasa yang menawan anak perempuan itu. Setelah sampai ke rumahnya, anak perempuan itu segera memasak nasi dan sayur-sauran dan dibantu anak laki-laki tadi. Begitu selesai masak, mereka berdua makan dengan sangat lahap, karena sudah terlalu lapar, apa lagi anak laki-laki itu memang sudah beberapa hari tidak makan nasi.

Tidak berapa lama setelah mereka selesai makan, maka terdengarlah suara langkah-langkah kaki raksasa yang menawan anak perempuan itu. Anak laki-laki itu menjadi ketakutan dan hendak lari bersembunyi, tetapi dicegah oleh anak perempuan itu, serta katanya, “percuma saja engakau bersembunyi, sebab raksasa dapat segera mencium baumu dan menemukan tempat persembunyianmu itu.”

Mereka berdua tetap duduk di dapur, ketika raksasa itu masuk ke dalam rumahnya, segera raksasa itu mencium bau orang asing ada dalam rumahnya, ia lalu berkata, “Hem….. bau manusia baru masuk ke rumahku, kebetulan sekali, jadi akan bertambah calon santapanku. Dari mana kau dapat anak laki-laki ini?” tanya kepada anak perempuan tawanannya itu. Diceritakannyalah hal ihwal anak yang didapatnya itu kepada raksasa yang menawan mereka, lalu raksasa itu berkata, “Nak, janganlah engkau pergi dari sini, nanti engkau akan saya makan, kuambil hatimu yang lezat itu.”

Walaupun anak laki-laki itu sangat takut, tetapi ia tidak berani lari dari rumah raksasa itu. Anak perempuan itu lain lagi pikirannya, ia bertekad akan melarikan diri dari tempat itu. Waktu raksasa pergi ke hutan, maka pergilah anak perempuan itu ke arah lain ke dalam hutan, mencari jalan untuk membebaskan diri dari tawanan yang tinggal menunggu waktu akan membunuhnya. Kepergiannya tidak diberitahukan kepada anak laki-laki itu. Pikir anak perempuan itu, “lebih baik saya mati dimakan harimau, dari pada dimakan raksasa itu”.

Setelah sore hari, datanglah raksasa itu dan segera ia menanyakan dimana anak perempuan tawanannya berada. Anak laki-laki itu dengan ketakutan menjawab bahwa ia tidak mengetahui kepergian anak perempuan itu. Untunglah raksasa itu tidak marah dan tidak segera membunuhnya, malahan ia memberikan hati rusa hasil buruannya kepada anak laki-laki itu, agar dimasak dan ia boleh memakannya.

Beberapa hari kemudian anak laki-laki itu ditanya raksasa, “Sudah sebesar apa hatimu Nak?” “Sebesar piring” Jawab anak laki-laki itu. “Makanlah banyak-banyak agar engkau tambah gemuk dan hatimu besar,” kata raksasa. Keesokan harinya raksasa itu bertanya kembali, “Sudah sebesar apa besar hatimu Nak ?” “Sudah sebesar gentong.” Jawab anak laki-laki itu. “Kalau begitu sedang enaknya dimakan,” kata raksasa itu.

Anak laki-laki itu berpikir, “Bagaimana caranya agar raksasa ini lebih dahulu mati.” Maka ketika raksasa itu pergi ke hutan kembali, anak laki-laki itu menggali lubang di depan pintu rumahnya tempat biasa raksasa itu keluar masuk rumah. Lubang yang digalinya cukup dalam, diatasnya ditutupinya dengan ranting-ranting kayu buruk dan ditutupi pula dengan daun-daun, sehingga tidak kelihatan lubang yang digalinya itu.

Anak laki-laki itu menunggu di dalam rumah, dari jauh sudah didengarnya suara raksasa itu pulang. Dari muka rumah raksasa itu sudah berteriak, “Nak, dimana engkau nak?” Di sini Paman,” Jawab anak itu dari dalam. Begitu raksasa itu akan masuk, terperosoklah ia ke dalam lubang yang digali anak itu, lalu matilah raksasa itu.

Setelah raksasa itu mati, legalah hati anak laki-laki itu. Dia sekarang memikirkan bagaimana caranya agar dapat bertemu kembali dengan ibunya. Anak itu lalu memanjat pohon pinang, pohon itu mulanya tidak tinggi sekali, tetapi setelah anak itu memanjatnya sambil bernyanyi, pohon itu bertambah tinggi. Nyanyiannya berbunyi. “Injak-injak pinang tinggi seperti pohon kelapa, antarkan saya ke tempat ibuku” Begitulah ia selesai menyanyi, pohon pinang itu menjadi tinggi seperti pohon kelapa.

Demikianlah anak itu bernyanyi terus, sampai pucuk pohon pinang itu mencapai langit, tetapi ia tidak dapat terus masuk ke pintu gerbang langit itu. Si anak itu lalu berteriak. “Tolonglah, bukakan pintu langit ini. Aku akan menemui ibuku, aku tidak bisa masuk”.

Beberpa kali ia berteriak demikian, maka terbukalah pintu langit. Tidak seorangpun perempuan disitu. “Apa ada ibuku di sini?” tanyanya Jawab perempuan itu, “Mencari siapakah engkau Nak?” “Mencarinya ibuku”, jawab anak itu. “siapa namanya?” tanya perempuan itu. Diberitahukannya nama ibunya kepada orang itu. “Siapakah engkau ini?” tanya perempuan itu.” Aku ini si Ahmad”‘ jawab anak itu. “Barangkai engkau lapar Nak, mari ikut ke rumahku,” ajak perempuan itu.

Pergilah mereka. Setelah sampai di sana, maka Ahmad diberi makan dan minum secukupnya, setelah selesai makan-minum, berkata perempuan itu. “Kemarilah dulu Ahmad, carilah kutuku sebentar?” Ahmad menuruti permintaan perempuan itu, segera dicarinya kutu dikepalanya. Disibakkannya rambut di kepala perempuan itu, maka si Ahmad segera melihat bekas luka (bakar) seperti yang dipunyai ibunya dulu. Ahmad lalu menjerit. “Engkau ibuku”.

Perempuan itu lalu memeluk Ahmad karena senang dan terharu dapat bertemu kembali dengan anaknya. Ibu itu kemudian, menanyakan tentang adik si Ahmad. Jawab Ahmad, “Adik kutinggalkan di dalam hutan entah masih hidup kutinggalkan di dalam hutan, entah masih hidup entah sudah mati. Waktu itu si ibu karena sedih dan menyesal mengingat nasib anaknya dan menyesali perbuatannya, demikian pula Ahmad, sekarang menyadari kesalahan-kesalahannya. [Eva De]