TALASEMIA (Thalassemia) adalah kelainan pada produksi hemoglobin dalam darah. Hemoglobin merupakan salah satu komponen yang berperan dalam sirkulasi oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Umumnya kondisi ini diturunkan secara genetik.

Talasemia terdiri atas beberapa tipe, yaitu alfa talasemia dan beta talasemia. Tanda dan gejala talasemia bervariasi tergantung pada tipenya. Gejalanya meliputi kulit yang pucat akibat kadar hemoglobin yang rendah, kulit tampak kekuningan, benjolan pada perut akibat pembesaran hati dan limpa, serta bentuk wajah yang relatif khas.

Namun, diagnosis pasti dari talasemia dapat ditegakkan setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium. Bila tidak mendapatkan penanganan, orang dengan talasemia dapat mengalami beberapa komplikasi. Oleh karena itu, diagnosis dini dan penanganan dini sangatlah penting. Dengan demikian dokter dapat memberikan pengobatan yang dibutuhkan oleh pasien sebelum komplikasi mulai timbul.

Dilansir dari KlikDokter, dikatakan bahwa penanganan yang diberikan pada pasien talasemia bergantung pada derajat keparahan dari kondisi yang dialami. Secara umum, penanganan talasemia mencakup transfusi darah untuk membantu mengatasi anemia serta terapi kelasi besi untuk mencegah kelebihan zat besi pada tubuh. Di beberapa belahan dunia, transplantasi sumsum tulang sudah mulai dilakukan untuk membantu meningkatkan angka harapan hidup.

Di samping itu, agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik, orang dengan talasemia dianjurkan untuk melakukan kontrol secara rutin ke dokter, menerapkan diet sehat, dan berolahraga. The Centers for Disease Control and Prevention juga merekomendasikan orang dengan talasemia untuk mendapatkan vaksinasi tepat waktu.

Dalam upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai talasemia, tanggal 8 Mei setiap tahunnya dikomemorasikan sebagai Hari Talasemia Sedunia. Tema yang diangkat pada tahun 2018 ini dan diperingati kemarin adalah talasemia di masa lalu, masa kini, dan masa depan, dalam rangka mendokumentasikan progres serta kebutuhan pasien talasemia di seluruh dunia.

Pihak penyelenggara menyampaikan bahwa dengan diadakannya Hari Talasemia Sedunia, diharapkan bahwa pasien dapat lebih mudah mendapatkan informasi mengenai penyakitnya, serta dapat dilakukan pemberdayaan global terkait kondisi ini melalui edukasi.

Sebagai tambahan, para pakar dari seluruh penjuru dunia juga dapat saling bertukar informasi mengenai berbagai terobosan ilmiah dan teknologi yang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pasien talasemia.

Lalu, bagaimana cara mencegah agar angka kejadian talasemia tidak makin meningkat? Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah menjalani konseling genetik pranikah atau premarital genetic counseling bagi pasangan yang berencana untuk menikah.

Dengan melakukan hal ini, pasangan tersebut dapat mengetahui apakah salah satu atau keduanya merupakan pembawa sifat. Bila keduanya merupakan pembawa sifat, maka terdapat kemungkinan sebesar 25% untuk anak mengalami talasemia mayor.

Di Indonesia, konseling genetik pranikah dan pemeriksaan skrining untuk thalassemia tersebut sudah mulai dilakukan oleh sebagian pasangan. Akan tetapi, sangat penting untuk menjaring setiap orang yang hendak menikah untuk melakukannya guna menurunkan angka kejadian thalassemia. [Eva De]