Suasana mencekam pada saat itu, tepatnya di hari Selasa, pada tanggal 12 Mei 1998. Hari itu merupakan hari yang tak akan pernah dilupakan. Tidak hanya bagi warga Kampus Universitas Trisakti, melainkan bagi rakyat Indonesia, terkhusus bagi mahasiswa dalam memperjuangkan perubahan.

Hari itu, darah pun tertumpah dan kemarahan meledak menjadi tragedi yang tak pernah terbayangkan.

12 Mei 1998 akhirnya menjadi simbol dan penanda perlawanan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Baru. Kemudian dari tragedi itu, perlawanan mahasiswa dalam menuntut reformasi semakin besar, hingga akhirnya memaksa Presiden Soeharto untuk mundur pada 21 Mei 1998.

Hari ini tepat 20 tahun sudah berlalu, 12 Mei 1998, peristiwa mencekam dan berdarah terjadi di kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, ketika pada saat itu para mahasiswa melakukan demonstrasi menentang pemerintahan Soeharto.

Empat mahasiswa tewas dalam penembakan terhadap demonstrasi yang melakukan aksi damai, yaitu Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie. Dan juga terdapat banyak korban luka-luka pada saat itu.

Keempat mahasiswa tersebut kemudian oleh Bacharuddin Jusuf Habibi yang naik menggantikan Soeharto sebagai presiden diberi julukan sebagai pahlawan reformasi, karena tewasnya mereka secara tidak langsung mengobarkan api reformasi di hati masyarakat Indonesia.

Hari ini tepat 20 tahun sudah berlalu, simbol perlawanan menyisakan kepahitan, penyebab kematian empat orang pahlawan reformasi pun sampai saat ini belum terungkap. Satu saja nyawa yang hilang tak boleh dianggap hal sepele. Satu saja nyawa yang hilang adalah hilangnya seluruh nyawa.

Mereka yang ditinggal, mereka yang terluka seumur hidup karena tak tahu saudara dan temannya meninggal di mana, anaknya dibunuh siapa dan dikubur di mana, ini adalah kepahitan. Tapi tidak ada yang lebih pahit selain tidak adanya yang melanjutkan perjuangan-perjuangan pahlawan reformasi.

Sudah menjadi tugas para pemuda untuk melanjutkan perjuangan mereka. Pemuda tidak boleh bungkam! Mari kita melanjutkan perjuangan-perjuangan pahlawan reformasi, dan semoga sedikit dari lanjutan perjuangan reformasi itu bisa sedikit mengobati kepahitan perjuangan serta menjadi amal jariyah untuk semua pejuang.

Jhon Saputra, Ketua OMDA Kaur, Koordinator Aliansi Organisasi Kedaerahan di Bengkulu