Bulan Ramadan menjadi salah satu bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Karena bulan ini sangat spesial, spesial di dalamnya memiliki keberkahan yang luar biasa. Keberkahan yang tidak dapat diperoleh di bulan-bulan lainnya.

Seminggu berjalannya bulan yang penuh keberkahan ini, aktivitas dan mobilitas masyarakat Kota Bengkulu terkhusus yang beragama Islam terlihat sangat ramai. Tidak hanya menunaikan ibadah salat lima waktu dan tarawih di masjid, tetapi juga saat berburu takjil di area-area penjualan takjil.

Sore hari menjadi waktu luang bagi para pemburu takjil untuk berkeliling mencari dan memenuhi hasrat hati berbuka puasa dengan segala menu yang ada. Menariknya, meskipun bulan ramadan, daya beli masyarakat tidak berkurang dibanding hari-hari biasa, justru daya beli masyarakat semakin tinggi. Karena itu, tak heran jika kita melihat bahwa yang dibeli justru melebihi kebutuhan yang sebenarnya. Contohnya, membeli banyak menu “bukoan” mulai dari lauk yang berlebih hingga jenis-jenis minuman segar sebagai pemuas nafsu saat berbuka puasa.

Situasi seperti itu sering kita saksikan setiap bulan ramadan. Atau mungkin justru kita juga melakukan hal serupa. Padahal, di antara hakikat puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga pengendalian hawa nafsu, pengendalian diri dengan kendali iman untuk mencapai derajat taqwa.

Puasa juga sebagai sarana pembentukan karakter manusia melalui amalan-amalan yang dilakukan. Membaca Al Quran, sabar, saling memaafkan, tolong menolong, dan juga menjauhkan diri dari sifat-sifat yang tidak terpuji seperti gibah, berbohong, caci maki, ujaran kebencian dan hal-hal lain yang membawa mudharat.

Sangat disayangkan apabila sifat-sifat tidak terpuji mendominasi daripada aktivitas-aktivitas amalan yang harus dilakukan. Tetapi, ada fenomena menarik hampir di setiap bulan ramadan apabila kita saksikan di media sosial. Pengguna media sosial seperti facebook, Instagram, dan Twitter, berlomba-lomba melakukan banyak amalan. Tetapi ada hal yang mungkin perlu menjadi perhatian sesama bahwa memosting status amalan di media sosial yang tidak memiliki misi syiar bisa mengarah ke perbuatan riya’. Contoh postingan amalan di media sosial yang sering kita lihat adalah postingan saat beribadah. Selain itu, ada pula postingan sajian menu berbuka puasa. Adalah hal yang berlebihan jika semua itu menjadi konsumsi publik meskipun penggunaan media sosial adalah hak pribadi.

Sesama umat kita wajib saling mengingatkan hal tersebut. Apakah postingan-postingan yang bisa saja mengarah ke perbuatan riya’ itu dilakukan untuk mendapatkan respon sesuatu, atau sengaja dilakukan karena tidak tahu akan efek yang mungkin bisa saja terjadi di luar dugaan pengguna media sosial.

Hakikatnya, perlu kita tanyakan pada diri, seberapa penting dan butuhnya kita memosting itu semua?

Padahal, di bulan ramadan ini, masih banyak orang yang ibadahnya lebih baik dan lebih rajin dari kita, lebih sabar dan lebih ikhlas, tetapi mereka lebih memilih bermuhasabah. Begitu juga dengan postingan-postingan menu berbuka puasa, jika tidak berfaedah, lebih baik tidak perlu diunggah. Masih banyak saudara-saudara kita yang susah mencari nafkah untuk memenuhi menu berbuka puasa. Masih ada saudara-saudara yang secara ekonomi menengah ke bawah tak sanggup memenuhi kebutuhan pokok hari-harinya.

Lebih bijaksana, sebagai umat yang saling dapat merangkul, kita sama-sama perbanyak beribadah dan beramal di jalan Allah SWT tanpa harus menyebarluaskannya. Sebagaimana Rasulullah bersabda : “Akhfi hasanataka kamaa tukhfii saiyiatika, walaa takunanna mu’jaban bi’amalika, falaa tadrii asyaqiyun anta am sa’iidun”. Sembunyikanlah kebaikan kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan keburukanmu. Janganlah engkau kagum dengan amalan amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga). (HR Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman). [**]

Nugroho Tri Putra, Kepala Seksi Kehumasan dan Layanan Informasi Publik pada Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kota Bengkulu