REFLUKS laringofaring (LPR) adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan jatuh di kotak suara. Hal ini terjadi karena sfingter (katup) esofagus melemah atau rusak sehingga tidak menutup secara sempurna.

Akibatnya, makanan yang sudah masuk ke lambung dapat kembali naik ke kerongkongan, tenggorokan, kotak suara, bahkan juga ke bagian belakang hidung.

LPR disebut juga dengan silent reflux atau refluks asam lambung diam-diam (tersembunyi). Pasalnya, gejala LPR hampir mirip seperti gejala asam lambung (GERD), tapi cenderung tidak menyebabkan rasa mulas maupun sensasi perih terbakar di dada (heartburn) dan tenggorokan. Ini sebabnya, refluks laringofaring sering kali disalahartikan dengan penyakit lain yang memiliki gejala serupa.

Baik wanita maupun pria dari segala usia dapat mengalami refluks laringofaring, bahkan bayi dan anak-anak sekalipun. Namun, risiko ini dapat meningkat jika mengalami beberapa kondisi berikut:

– Pola hidup tidak sehat, seperti makan berlebihan, merokok, dan minum alkohol
– Sfingter esofagus rusak atau tidak berfungsi dan refleks lambung berjalan lambat
– Kelebihan berat badan
– Kehamilan

Dilansir dari Medical News Today, sekitar 50 persen orang yang terkena penyakit maag berawal dari gejala asam lambung tersembunyi ini. Sekecil apa pun jumlah asam lambung yang naik ke kerongkongan, lapisan tenggorokan dan kotak suara Anda dapat dengan mudah teriritasi. Karena itulah, perlu mewaspadai gejala-gejalanya.

Sama seperti namanya, refluks laringofaring atau LPR hanya menunjukkan beberapa gejala asam lambung dan cenderung samar-samar. Gejala LPR yang terjadi pada orang dewasa di antaranya adalah:

– Rasa pahit di tenggorokan
– Sakit tenggorokan atau sensasi terbakar di tenggorokan
– Sulit menelan, merasa seperti ada yang tersangkut di tenggorokan
– Suara serak
– Sering batuk
– Postnasal drip kronis, kondisi ketika lendir terlalu banyak di hidung dan tenggorokan
– Asma

Sementara itu, gejala LPR pada bayi dan anak-anak sebenarnya tidak jauh berbeda dengan orang dewasa. Hanya saja, bayi dan anak-anak yang mengalami LPR cenderung merasakan muntah-muntah, sulit menyusui, dan sulit menaikkan berat badan.

Bila mencurigai satu atau dua gejala asam lambung tersembunyi tersebut, segera temui dokter. Sebab jika dibiarkan, asam lambung yang naik akan semakin mengiritasi lapisan kerongkongan, tenggorokan, hingga pita suara. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya jaringan parut, asma, emfisema, bronkitis, hingga kanker.

Lantas bagaimana cara mengatasi gejala asam lambung?

Kunci utama dalam mengatasi refluks laringofaring atau gejala asam lambung diam-diam adalah dengan menerapkan pola hidup sehat dan menjauhi faktor risikonya. Hal ini meliputi:

– Menghindari makanan yang dapat memicu refluks asam lambung
– Menurunkan berat badan jika mengalami kelebihan berat badan atau obesitas
– Berhenti merokok
– Mengurangi konsumsi alkohol
– Berhenti makan setidaknya tiga jam sebelum tidur
– Tidur dengan posisi kepala sedikit lebih tinggi, sekitar 10-15 sentimeter dari kasur

Selain itu, penyakit ini juga dapat diatasi dengan obat asam lambung dengan atau tanpa resep. Contoh obat asam lambung tanpa resep adalah antasida atau H-2 blocker yang sama-sama bermanfaat untuk mencegah asam lambung kembali naik ke kerongkongan.

Jika antasida atau H-2 blocker tidak berfungsi, dokter mungkin akan meresepkan obat inhibitor pompa proton (PPI), seperti omeprazole, yang dapat membantu mengurangi keasaman lambung. Jadi, segera konsultasikan pada dokter untuk mengatasi gejala asam lambung LPR. [Eva De]