Berbicara mengenai ledakan besar yang pernah terjadi, barangkali orang akan teringat pada peristiwa Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Namun, tahukah kita bahwa ternyata ada ledakan yang diklaim sebagai ledakan terbesar dalam sejarah?

Ya, ledakan tersebut dikenal dengan nama ‘Peristiwa Tunguska’ atau ‘Ledakan Tunguska’. Ledakan ini berasal dari Asteroid. Saat di bangku sekolah kita sudah mempelajari tentang asteroid yang merupakan sisa batuan dari pembentukan tata surya 4,6 miliar tahun yang lalu. Mereka berputar mengelilingi Matahari dan kadang-kadang disebut planetoids atau planet minor.

Asteroid terutama terdiri dari mineral dan batuan, sedangkan komet terbuat dari debu dan es. Meteorit dapat berupa partikel debu atau fragmen dari komet atau asteroid.

Para ahli menyebutkan bahwa Asteroid yang jatuh ke Bumi menjadi salah satu penyebab berakhirnya kehidupan di dunia. Bila jatuh ke daratan, maka benturan Asteroid akan menghasilkan energi yang lebih besar dari 10 juta bom Hiroshima, meratakan segala sesuatu dalam radius 300 km. Debu dan puing-puing akan menyebabkan ‘dampak musim dingin’ dan sebagian besar makhluk hidup akan musnah.

Kalau asteroid jatuh ke laut, maka akan terjadi tsunami yang melenyapkan seluruh garis pantai dan melontarkan air laut ke atmosfer yang menghancurkan sebagian besar lapisan ozon sehingga terjadi radiasi Ultra Violet yang mematikan.

Asteroid, benda itulah yang mencabik-cabik langit Tunguska pada 110 tahun yang lalu. Dilansir dari BBC menyebutkan, 30 Juni 1908, terjadi ledakan besar di angkasa hutan terpencil di Siberia, dekat sungai Podkamennaya Tunguska.

Bola api yang melambung itu diyakini lebarnya 50-100m, melalap habis 2.000 km persegi hutan Taiga di daerah itu, menumbangkan sekitar 80 juta pohon.

Bumi bergetar. Jendela-jendela di kota terdekat lebih dari 60 km jauhnya pecah-pecah. Penduduk di sana bahkan bisa merasakan panas dari ledakan itu, dan banyak yang terlontar.

Ledakan itu disusul bunyi-bunyi keras seperti batu yang berjatuhan dari langit, atau dari rentetan senjata api.

Untungnya, daerah lokasi ledakan besar ini terjadi tak banyak dihuni orang. Tidak ada laporan resmi tentang korban manusia, meskipun seorang gembala rusa dilaporkan meninggal setelah dia terhempas ke pohon akibat ledakan. Ratusan rusa juga jadi tinggal bangkai-bangkai hangus.

Seorang saksi mata mengatakan bahwa “Langit terbelah menjadi dua, dan jauh di ketinggian di atas hutan, seluruh bagian utara langit tampak diliputi api…”

“Peristiwa Tunguska” ini masih merupakan ledakan yang paling hebat dalam jenisnya yang tercatat dalam sejarah – melepaskan energi sekitar 185 kali lebih kuat dibanding saat terjadinya ledakan bom atom Hiroshima (banyak yang menganggap lebih kuat lagi). Getaran gempa bahkan terasa hingga Inggris.

Mengenang peristiwa tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 30 Juni sebagai Hari Asteroid Internasional. PBB memilih tanggal tersebut karena pada 30 Juni 1908 asteroid Tunguska secara masif menghancurkan 2.000 kilometer persegi lahan di Siberia. Ledakan 110 tahun lalu itu telah menghancurkan jutaan pohon.

PBB mengatakan poin penting penetapan Hari Asteroid Internasional adalah untuk meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya asteroid. ”Tujuan besarnya adalah untuk memastikan kita semua tak akan binasa akibat dampak dahsyat dari batu angkasa tersebut,” kata PBB dalam pernyataannya.

Sebenarnya Hari Asteroid Internasional sudah digagas sejak dulu, bahkan sebelum PBB diakui sebagai organisasi internasional. Salah satu penggagasnya adalah Brian May, gitaris Queen yang merupakan doktor astrofisika.

Dan Hari ini, 30 Juni 2018, diperingati sebagai Hari Asteroid Internasional. Tahun ini menjadi tahun keempat dalam penyelenggaraannya. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah secara resmi memproklamasikan bahwa Hari Asteroid akan terus diperingati secara global pada tanggal 30 Juni setiap tahun dalam resolusinya. [Eva De]