Sudah lama, Israel menjadikan “air minum” sebagai senjata untuk menundukkan perlawanan rakyat Palestina. Setidaknya itu sudah terjadi sejak tahun 1948 hingga hari ini.

Hampir seluruh warga di Tepi Barat, Palestina, tidak punya akses air. Atau pasokan air mereka berkurang hampir setengah.

Situasi yang mengkhawatirkan ini sudah terjadi beberapa minggu, sejak perusahaan air minum Israel, Mekorot, memutuskan memotong—atau setidaknya mengurangi secara signifikan—pasokan air untuk daerah Jenin, Salvit dan sejumlah desa di Nablus, serta beberapa daerah lainnya.

Israel sedang melancarkan “perang air” terhadap Palestina, kata Perdana Menteri Otoritas Palestina, Rami Hamdallah. Ironisnya, air yang dipasok oleh Mekorot sebetulnya adalah milik Palestina, yang direbut paksa dari akuifer di Tepi Barat. Sementara orang-orang Israel, termasuk pemukim ilegal di Tepi Barat, mayoritas besar menggunakan itu, orang Palestina yang menjual air milik mereka dipaksa membeli dengan harga tinggi.

Dengan mematikan pasokan air, saat ini ini pejabat Israel berencana mengekspor air yang notabene Palestina. Dan sekali lagi, Israel menggunakan air sebagai alat penghukuman kolektif.

Ini bukan hal baru. Saya masih ingat rasa kegelisahan dalam suara orangtuaku ketika mereka tahu bahwa pasokan air sangat rendah. Itu hampir menjadi diskusi harian di rumah kami.

Setiap kali terjadi bentrokan antara anak-anak Palestina yang melemparkan batu dengan tentara pendudukan Israel di pinggiran kamp pengungsi, kami selalu secara naluriah bergegas untuk mengisi beberapa ember air dan botol yang ada di sekitar rumah.

Ini yang terjadi selama Intifada pertama, atau bisa diartikan “pemberontakan”, yang meletus tahun 1987 di seluruh wilayah Palestina yang diduduki oleh Israel.

Setiap bentrokan meletus, salah satu tindakan pertama yang diambil oleh pejabat sipil Israel adalah penghukuman kolektif terhadap seluruh penduduk penghuni kamp pengunsian Palestina.

Langkah-langkah yang diambil oleh militer Israel memang berlebihan: jam malam militer yang ketat (yang berarti penutupan seluruh wilayah dan siapapun yang keluar rumah akan terancam), mematikan listrikan dan mematikan pasokan air.

Tentu saja, tindakan ini hanya tahap awal dari penghukuman kolektif, kadang berhari-hari dan berminggu-minggu, bahkan kadang berbulan-bulan, yang menyebabkan beberapa kamp pengungsi menderita kelaparan.

Kerena sedikit sekali pengungsi yang berani menetang otorias tentara yang bersenjata lengkap itu, maka mereka memilih mempergunakan sumber daya mereka yang sudah sangat sedikit untuk tetap bertahan hidup.

Dengan demikian, kerinduan akan air, sementara pasokan air sudah terhenti, maka di sini tidak ada yang bisa dilakukan. Kecuali, tentu saja, melalukan sholat Istisqa atau Sholat memita hujan, yang biasanya dilakukan oleh umat Islam ketika mengalami kekeringan. Para orang tua di kamp pengungsi sangat yakin cara itu akan membuahkan hasil, dengan mengacu pada cerita ajaib di masa lampau bahwa sholat semacam ini akan membawa hasil ketika dilakukan di musim kering, ketika hujang sangat diharapkan.

Dan faktanya, lebih banyak orang Palestina yang melakukan sholat minta hujan di tahun 1967 dibanding waktu lainnya. Waktu itu, kira-kira 49 tahun yang lalu, Israel menduduki dua wilayah terakhir Palestina: Tepi Barat (termasuk Yerussalem timur) dan Jalur Gaza. Dan sepanjang tahun itu, Israel menerapkan kebijakan penghukuman kolektif yang cukup lama: membatasi segala bentuk kebebasan dan menggunakan pembatasan pasokan air sebagai senjata.

Dan memang, air digunakan sebagai senjata untuk menundukkan pemberontakan rakyat Palestina. Dan faktanya lagi, kejadian ini hanya mengulang kejadian serupa di tahun 1948, ketika milisi Zionis mematikan semua pasokan air ke semua daerah di Yerussalem untuk memudahkan pembersihan etnis di daerah itu.

Selama peristiwa Nakba atau “kehancuran” di tahun 1948, di setiap desa atau kota yang ditaklukkan, milisi Israel akan segera menghancurkan sumur untuk mencegah penduudknya kembali. Dan para pemukim illegal Yahudi di wilayah Palestina masih menggunakan taktik itu hingga hari ini.

Militer Israel juga terus memakai strategi ini, terutama saat menghadapi intifada pertama dan kedua. Di Intifada kedua, di tahun 2000, pesawat Israel menghacurkan pasokan air di desa atau kamp pengungsi yang hendak mereka serang atau taklukkan. Selama invasi ke kamp pengungsi Jenin dan pembantaian massal di bulan April 2002, tangki air di kamp meledak sebelum tentara menyerbu masuk ke dalam kamp dari berbagai arah, membunuh dan melukai ratusan orang pengungsi Palestina.

Gaza merupakan contoh paling ekstrim dari model penghukuman kolektif menggunakan air, hingga hari ini. Tidak hanya pasokan air yang menjadi target selama perang, tetapi juga generator listrik yang dipakai untuk memurnikan air. Dan hingga pengepungan satu dekade itu berakhir, tipis sekali harapan untuk bisa memperbaiki kembali pasokan air itu seperti semula.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perjanjian Oslo adalah bencana politik bagi Palestina; orang kurang mengetahui bagaimana Oslo memfasilitasi ketidaksetaraan berkelanjutan di Tepi Barat.

Sehingga yang disebut Oslo II, atau perjanjian sementara Israel-Palestina 1995, membuat Jalur Gaza terpisah dari sumber air di Tepi Barat, sehingga memaksa Gaza membangun sendiri sumber air di lingkungannya. Akibat dari pengepungan yang terus-menerus, akuifer di Jalur Gaza hanya bisa menghasilkan 5-10 persen air yang benar-benar layak minum. Menurut American Near East Refugee Aid (ANERA), 90 persen air di Jalur Gaza tidak layak dikonsumsi oleh manusia.

Karena itu, banyak penduduk Gaza hidup dari air yang tercemar limbah alis tidak sehat. Tetapi seharusnya Tepi Barat bisa menikmati—setidaknya secara teoritis—air lebih banyak ketimbang Gaza. Namun, faktanya, hal ini tidak terjadi.

Sumber air terbesar di Tepi Barat ada di akuifer pegunungan, yang mencakup beberapa cekungan: utara, barat dan timur. Akses penduduk Tepi Barat terhadap cekungan ini dibatasi oleh Israel, yang melarang mereka mengakses air di sungai Yordan dan akuifer di pesisir. Oslo II, yang dimaksudkan sebagai kesepakatan sementara hingga negosisasi yang berstatus final sudah disimpulkan, mengabadikan ketidaksetaraan yang ada—dengan hanya memberikan kurang dari seperlima jumlah air kepada palestina.

Perjanjian yang merugikan itu tidak dihormati, sebab Komite Bersama urusan air memberikan hak veto kepada Israel atas tuntutan rakyat Palestina. Pada prakteknya, 100 persen proyek air Israel hanya dinikmati Israel, termasuk para pemukim ilegal Israel di wilayah Palestina, semetara hampir separuh kebutuhan Palestina ditolak.

Saat ini, menurut Oxfam, Israel mengontrol 80 persen sumber air Palestina. “Sebanyak 520.000 pemukim ilegal Israel kira-kira menggunakan air 6 kali lebih dari jumlah air yang dipakai oleh 2,6 juta rakyat Palestina di Tepi Barat.”

Alasan di balik ini cukup sederhana, kata Stephanie Westbrook, penulis di koran Israel +972, “perusahaan yang memompa air keluar adalah Merokot¸perusahaan air milik negara Israel. Merokottidak hanya mengoperasikan lebih dari 40 sumur di Tepi Barat, mengambilalih sumber air Palestina, Israel juga mengontrol katup yang memutuskan siapa yang boleh dan tidak menikmati air.”

“Itu tidak mengherankan, prioritas diberikan kepada pemukim Israel, sedangkan pasokan untuk kota-kota Palestina secara rutin dikurangi atau dihentikan.”

Ketidakadilan itu semua tidak terhindarkan. Namun, selama hampir 5 dekade, Israel menerapkan kebijakan yang sama terhadap Palestina tanpa banyak kecaman atau tindakan bermakna dari komunitas internasional.

Dengan musim panas saat ini di Tepi Barat yang mencapai 38 derajat celcius, seluruh keluarga Palestina hanya menikmati air 2-3 liter perkapita per hari. Masalahnya, ini sudah sampai pada tahap bencana. Sekarang ini, tragedi itu tidak bisa lagi dikesampingkan. Kehidupan dan kesejahteraan semua orang Palestina dipertaruhkan.

Dr Ramzy Baroudpenulis dan pendiri  PalestineChronicle.com. Dia banyak menulis soal Timur Tengah. Buku hasil karyanya, antara lain: Searching Jenin”, “The Second Palestinian Intifada” dan yang terbaru “My Father Was a Freedom Fighter: Gaza’s Untold Story”. Website pribadinya beralamat di: www.ramzybaroud.net.

Source Berdikari Online