Alcala Zamora

Menurut Ralph Waldo Emerson, kreasi dari sebuah keindahan adalah seni. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusan, keindahan, dan sebagainya).

Seni juga berarti karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa seperti tari, lukisan dan ukiran. Dan seni terdiri dari berbagai macam jenis, satu diantaranya adalah seni rupa yang juga populer dengan istilah Fine Art.

Cabang seni rupa sendiri ada beberapa macam, yaitu: 1. Seni rupa murni (lukis, grafis, patung, instalasi, pertunjukan, keramik, film, koreografi & fotografi), 2. Desain (Arsitektur, grafis, komunikasi visual, interior, busana & produk), 3. Kriya (Kursi rotan sebagai hasil karya kriya, tekstil, kayu, keramik, rotan, Logam, Kulit & Bambu).

Membahas tentang Seni, Provinsi Bengkulu memiliki para ahli atau pakar seni yang memang tak diragukan lagi kemampuannya. Alcala Zamora, lelaki kelahiran Curup 6 Juni 1956 ini adalah sosok pakar seni yang mumpuni.

Ia yang akrab disapa Morry atau Pak Morry ini merupakan pensiunan Kabid. Kebudayaan Disbudpar Provinsi Bengkulu. Morry adalah penikmat seni, menyukai dunia seni sejak tahun 1974 mengantarkannya menjadi ahli seni rupa yang sudah sering mengikuti maupun mengadakan pameran dan meraih penghargaan.

Sejak tahun 1976 hingga sekarang, ia sudah mengikuti pameran seni rupa di kota-kota besar yang ada di Indonesia. Serius di bidang seni, Morry menamatkan pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) di Yogyakarta. Kemudian ia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yakni kuliah di STSRI – ASRI Yogyakarta (yang sekarang dikenal dengan nama Institut Seni Indonesia) dan tamat pada tahun 1984.

Alcala Zamora sedang melukis

Sebelum menamatkan kuliah, Morry pernah mendapat penghargaan yaitu Pratitha Adi Karya Patung SSRI Yogyakarta pada tahun 1977. Dan tahun 2017 lalu ia kembali menorehkan prestasi gemilang dengan mendapatkan penghargaan Satya Dharma Kain Besurek ‘Batik Khas Bengkulu’ oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu.

Satu hal yang sangat penting dan harus diketahui masyarakat Bengkulu adalah tentang Kain Besurek atau Batik Besurek Bengkulu yang ternyata diteliti, didesain, dan dikembangkan oleh Morry pada tahun 1987. Ia jugalah yang menulis pengertian Kain Besurek, beserta sejarah, fungsi dan tujuh motif Kain Besurek.

Dalam perjalanan karyanya, Morry juga pernah membuat patung pemukul dol yang berada tepat di samping BI Bengkulu, membuat prototif pagar ragam hias daerah dan pintu gerbang Taman Budaya Bengkulu, dan lain-lain.

Dengan ilmu, pengalaman dan kemampuannya itu, Morry bergabung dalam Forum Seni Rupa Bengkulu selaku pengarah, dan pengurus Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bengkulu, serta ia merupakan pengurus Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (FORMI) Provinsi Bengkulu.

Sebagai ahli dan pecinta seni rupa, Morry berharap agar pemuda-pemudi di Bengkulu ikut berperan dalam memaksimalkan potensi seni yang ada di Bengkulu. Ia menghimbau agar generasi muda sekarang tidak mudah putus asa dalam berkarya. Harus memiliki semangat dan pantang menyerah.

Alcala Zamora bersama seniman muda Bengkulu

“Jalani dunia seni dengan sepenuh hati dan semangat yang kita miliki agar tujuan yang kita impikan tercapai. Jangan cepat putus asa, apalagi jenuh dan bosan, teruslah berkarya dan raih sampai berhasil. Dan hal terpenting yang tak boleh dilupakan; selalu bersyukur.” demikian tutur Alcala Zamora. [Eva De]