Ketika seseorang dengan latar belakang militer, politisi, pengusaha atau birokrat tampil di panggung politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung di Bengkulu, hal itu sudah biasa. Namun orang dengan latar belakang jurnalis atau wartawan, Dedy Wahyudi adalah sang pemula.

Kehidupan jurnalis memang telah ditekuni oleh Dedy Wahyudi selama puluhan tahun sebelum akhirnya ia mengundurkan diri dan mendampingi Helmi Hasan sebagai calon wakil walikota Bengkulu 2018-2023. Selama itu pula ia bergulat dan berpartisipasi aktif mendorong maju pembangunan di Bengkulu dengan karya-karyanya pada bidang jurnalistik.

Secara historis, dunia jurnalistik dan politik memang sering berpilin, bahkan sejak zaman Indonesia belum lagi merdeka. Silahkan periksa sejarah. Orang seperti Sukarno dan Hatta, dua proklamator Indonesia merdeka, sebelumnya pernah bekerja di redaksi media massa.

Di zaman sekarang, tak sedikit pula mantan jurnalis yang berkiprah di kancah politik. Sebut saja yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo. Sebelumnya ada Ahmad Muzani yang sekarang juga masih menjabat sebagai Pimpinan MPR RI.

Pada skala internasional, Michael McCormack, seorang mantan editor koran daerah, terpilih sebagai Wakil Perdana Menteri Australia awal Februari 2018 kemarin.

Apakah seorang mantan jurnalis akan berhasil dalam dunia politik? Jawabannya tentu relatif. Namun secara teoritik, ada sifat-sifat yang cukup istimewa yang harus dimiliki oleh seorang jurnalis yang dapat menjadi bekal bagi Dedy Wahyudi untuk berhasil di dunia politik.

Misalnya seperti yang diterangkan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001) dalam bukunya The Elements of Journalism. Dalam buku mereka disebutkan bahwa pada intinya jurnalis harus memihak pada kebenaran, memiliki loyalitas kepada warga masyarakat, memiliki visi yang jelas, tidak anti kritik, dan memiliki panduan moral serta setia pada rasa keadilan.

Sifat-sifat itulah yang menjadikan penulis optimis bahwa Dedy Wahyudi bersama Helmi Hasan akan mampu membawa Kota Bengkulu menjadi kota yang madani. Kota yang masyarakatnya menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban.

Helmi Hasan sendiri telah teruji membangun infrastruktur Kota Bengkulu dengan memuaskan, memastikan tidak ada anak yang putus sekolah, memberikan modal usaha untuk pengangguran yang ingin bekerja, mendirikan rumah sakit untuk kesehatan warganya dan banyak terobosan-terobosan penting lain yang belum pernah ada sebelumnya.

Sementara prestasi Dedy Wahyudi juga tidak sedikit. Dedy pernah membawa Rakyat Bengkulu Televisi (RBTV) meraih Juara Pertama Perusahaan TV terbaik Jawapos Grup se Indonesia. Dedy juga penggagas Hari Kain Batik Besurek yang seketika mampu menggeliatkan usaha penjualan batik di Bengkulu dengan spektakuler serta program Bengkulu Bersih, Indah, Sejuk dan Aman (BISA) yang menggeliatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Bila dilacak semakin ke belakang, keterlibatan Dedy dalam kehidupan sosial dan politik bahkan telah ia mulai sejak di dunia kampus. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Senat Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu (UNIB). Dengan posisinya ini, Dedy menjadi salah satu motor penggerak Gerakan Reformasi 1998 di Provinsi Bengkulu.

Alumni SMU Negeri 5 Kota Bengkulu ini juga pernah aktif di berbagai organisasi kepemudaan. Diantaranya Sekretaris DPD KNPI Provinsi Bengkulu. Saat itu, ia mendampingi Sultan B Najamudin yang menjabat sebagai Ketua. Dedy juga aktif di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), dan berbagai organisasi lainnya.

Prestasi akademiknya pun memuaskan. Dedy merupakan lulusan cumlaude S2 Manajemen UNIB. Saat ini, dia menjadi kandidat doktor Ilmu Manajemen UNIB dan tercatat sebagai Dosen Luar Biasa di UNIB dan UMB.

Di bidang seni, Dedy berhasil menciptakan lagu Bengkulu BISA. Dedy dekat dengan semua kalangan, baik di kalangan anak muda, maupun dengan para tokoh/sesepuh Bengkulu.

Kombinasi Helmi Hasan dan Dedy Wahyudi juga merupakan kombinasi ideal. Selama ini, program kerakyatan Helmi banyak terganjal karena hambatan politik di legislatif dan rendahnya partisipasi rakyat dalam pembangunan. Sebagai mediator ulung, kedua hambatan itu pasti akan mampu disingkirkan oleh Dedy Wahyudi dengan pengalaman jurnalistiknya.

Menjadikan program mewujudkan Kota Bengkulu yang bahagia dan religius melalui APBD untuk Rakyat sebagai kuncinya, langkah Helmi-Dedy sulit dibendung oleh kandidat lain.

Terlebih mengingat warga Bengkulu telah merasakan langsung manfaat-manfaat pembangunan selama Helmi Hasan berkuasa dan memperoleh harapan akan peningkatan realisasi-realisasi program tersebut dengan Dedy Wahyudi sebagai wakilnya.

Tanggal 27 Juni 2018 kelak menjadi pembuktian. Dua pilihan telah terbentang. Memilih selain Helmi-Dedy berarti menutup peluang terciptanya masyarakat madani.

Namun bila memilih Helmi-Dedy berarti membuka peluang terciptanya masyarakat yang berbudi luhur, adil, sejahtera, toleran, mandiri, setara, berbudaya, singkatnya terwujudnya masyarakat madani dalam arti yang sebenarnya.

Rudi Nurdiansyah, warga Penurunan Kota Bengkulu