Pembagian hadiah kepada para juara lomba Grama di lantai dua Masjid Al-Furqan Kelurahan Kebun Dahri, Rabu (13/6/2018) malam.

Lantai dua Masjid Al-Furqan Kelurahan Kebun Dahri tak nampak seperti malam-malam Ramadan lainnya pada Rabu (13/6/2018) malam. Saat itu masjid dipenuhi anak-anak dari Gerakan Ramadan Anak Masjid Al-Furqan (Grama) Muhammadiyah Kebun Dahri, baik putri maupun putra. Semua larut dalam keceriaan.

Rudi Nurdiansyah, KOTA BENGKULU

Bagaimana tak ceria, malam itu adalah waktunya penutupan Grama 1439 Hijriah. Pada malam penutupan ini, para juara mendapatkan hadiah yang diselingi dengan penampilan-penampilan lagu religi oleh group-group pemenang lomba.

Lomba-lomba itu diantaranya lomba ceramah, busana muslim, tilawah, protokol, mewarnai, adzan, wudhu, hafalan surat pendek, hafalan doa sehari-hari, santri teladan, pembina favorit, pembina teladan dan santri dermawan.

Tradisi mengisi Ramadan dengan Grama ini tak pernah terputus setidaknya sejak 30 puluhan tahun terakhir. Penulis sendiri pernah mengalaminya dan menjadi santri di dalam Grama ini. Pengalaman yang menyenangkan yang akan membuat setiap anak-anak merindukan datangnya kembali bulan Ramadan ketika gerakan tersebut hendak ditutup.

Saking lamanya, pemuda dan pemudi yang sekarang menjadi pembina Grama ini adalah orang-orang yang dulunya merupakan binaan atau santri Grama. Tak sedikit alumni santri Grama yang ketika mereka beranjak dewasa menjadi orang-orang dengan wawasan keagamaan yang lebih luas ketimbang rekan-rekan sepergaulannya.

Setiap malam Ramadan, santriwan dan santriwati Grama ini ditempa dengan salat isya berjamaah, salat tarawih dan witir. Setelah itu, santriwan dan santriwati dibagi dalam beberapa kelompok. Pada kelompok-kelompok inilah santriwan dan santriwati Grama diajarkan melakukan azan, cara berwudhu, doa sehari-hari, ayat-ayat pendek, meluruskan bacaan salat, dan lain-lain.

Lalu pada beberapa kesempatan, santriwan dan santriwati Grama diberikan siraman rohani, melalui malam renungan, berolahraga bersama, salat subuh berjamaah, dan mengisi waktu-waktu Ramadan mereka dengan kegiatan positif dan bermanfaat yang dilakukan dengan semangat kekompakkan dan persaudaraan.

Maka dari itu tak heran, saat ini, Grama Kebun Dahri ini tak lagi hanya menampung santriwan dan santriwati dari kelurahan setempat, namun telah menjadi magnet bagi kelurahan-kelurahan lain disekitarnya untuk ikut serta.

Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kebun Dahri, Rachmat Zen, dalam sambutannya mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi kepada Pemuda Ranting Muhammadiyah Kebun Dahri yang berhasil secara konsisten mempertahankan tradisi ini.

“Semoga kedepan tetap ada, tetap eksis dan lebih ditekankan lagi pada tarbiyah anak-anak agar mereka terhindar dari hal-hal negatif,” kata Zen, malam itu.

Ia juga mengutarakan harapannya agar santriwati dan santriwan yang telah menempun Grama 1439 Hijriah dapat menjadi anak yang saleh dan salehah.

“Sehingga menjadi generasi yang rabani,” ungkap Zen.

Sementara Koordinator Grama 1439 Hijriah, Azhar Ma’ruf, mengutarakan rasa terimakasihnya kepada Senator termuda Indonesia, Riri Damayanti John K. Latief yang telah memberikan dukungan atas suksesnya kegiatan yang mereka lakukan.

“Bilamana ada kekurangan atas penyelenggaraan kegiatan ini, kami selaku panitia mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya,” demikian Azhar.

Bagi penulis, Grama Kebun Dahri sangat direkomendasikan kepada Pemerintah Daerah untuk dilaksanakan secara massal guna menghidupkan suasana keagaamaan khususnya pada bulan Ramadan. Selain penting untuk membangun generasi yang beriman, Grama ini juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengenalkan amalan agama sejak dini.

Suasana malam penutupan Grama Kebun Dahri.

Sementara bagi kaum remaja dan pemuda, Grama pada bulan Ramadan ini dapat memberikan pembelajaran dan pengalaman organisasi yang efektif. Sebab, di sini mereka dilatih tentang kekompakkan, kesabaran menghadapi anak-anak, mendalami kembali ilmu agama agar dapat diajarkan kepada santriwan dan santriwati binaan mereka.

Tak terkecuali bagi orang tua. Ketika melaksanakan salat isya, tarawih dan witir berjamaah, tentu orang tua yang memiliki anak berharap agar anak-anak mereka melakukan yang sama. Grama ini memiliki manfaat bagi orang tua dalam konteks sang orang tua dapat menjalankan salatnya dengan khusyuk, sebab, anaknya yang mungkin masih ingin banyak bermain, melaksanakan salat berjamaah secara terpisah bersama teman-teman sebayanya dengan pengawasan kaum muda. [**]