Sebentar lagi bulan Ramadhan akan meninggalkan kita. Selama melaksanakan ibadah puasa, kita telah berjuang untuk memerangi hawa nafsu dari ketamakan, egoisme, amarah, sifat iri dan dengki. Ketamakan dalam wujud ingin menang sendiri, ingin berkuasa dengan cara menjatuhkan orang lain dan menghalalkan segala cara agar tujuan-tujuan yang sebenarnya sempit dapat tercapai.

Ketamakan itu pula yang menjadi sumber berbagai permasalahan yang dihadapi oleh seluruh umat manusia di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, tak terkecuali di Bengkulu. Ketamakan yang dirawat oleh sistem neokolonialisme itu menjadikan Bengkulu hanya sebagai penyedia tenaga kerja berupah rendah, penjual bahan baku dengan harga yang rendah, dan pasar bagi produk-produk luar yang melimpah.

Puasa adalah sarana untuk menumpas sifat tamak dan serakah semacam itu dengan merawat, menjaga dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan serta sikap saling tolong menolong. Yang kaya berderma kepada yang miskin, yang sehat menolong yang sakit, dan yang kuat membantu yang lemah.

Puasa juga seharusnya meningkatkan kesadaran kita. Misalnya dalam urusan politik seperti Pemilihan Walikota (Pilwakot), kita tentu tidak ingin menyerahkan urusan-urusan kehidupan kita sehari-hari selama lima tahun mendatang kepada orang yang ingin melapangkan neokolonialisme di Bengkulu.

Sebaliknya, Ramadhan harus menjadi sarana penyadaran bagi kita untuk memilih pemimpin yang berani dan kokoh untuk menghadang proses pemiskinan dan penjerumusan warga masyarakat kita yang diakibatkan oleh pelaksanaan sistem jahat neokolonialisme tersebut.

Pemimpin itu harus mampu membawa kita untuk mencintai sesama, menjemput yang sakit untuk berobat hingga sehat, melepaskan diri dari perbudakan nafsu konsumsi tinggi dengan cara mengucurkan bantuan modal usaha, memastikan agar seluruh anak-anak dapat bersekolah, membangun dan memperbaiki jalan-jalan raya agar saudara-saudara kita yang bekerja dapat menjalankan usahanya dengan lancar serta menyelamatkan nyawa-nyawa tak berdosa dari kecelakaan maut karena menghindari lubang.

Pemimpin yang dapat menyadarkan kita arti pentingnya solidaritas sosial, bukan yang mengajak sesama warga masyarakat membenci sesama dengan cara merendahkan satu manusia dengan manusia yang lain, bukan pula dia yang melakukan segala cara guna memenuhi nafsunya berkuasa dan dapat menumpuk-numpuk harta.

Pemimpin yang tidak ingin korupsi bukan karena takut akan hukuman, tapi karena kesadaran yang tinggi bahwa hal itu bertentangan dengan ajaran agama dan tidak sesuai dengan salatnya. Pemimpin yang tahu bahwa kebutuhan rakyat kebanyakan harus lebih dulu diutamakan sebelum mensejahterakan para pegawainya.

Singkatnya, Hari Raya Idul Fitri merupakan sebuah momen dimana kita semua kembali kepada kesucian dan fitrah kita sebagai manusia yang memiliki sifat penyayang, gemar menolong, hidup sederhana, bermartabat, dan religius.

Semoga peringatan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 Hijriah tahun 2018 ini dapat menjadi ajang bagi kita untuk mengejawantahkan nilai-nilai luhur yang didapat selama sebulan puasa sehingga membawa Bengkulu pada khususnya, Indonesia pada umumnya, dapat meraih kemenangan yang sejati.