Patung Thomas Stamford Bingley Raffles di Singapura. [Foto Istimewa]
Helaan Nafas Pertama Sang Penakluk Nusantara

Siang itu udara di sekitar pantai Port Morant terasa sangat panas, matahari tropis bersinar terik dan udara bercampur air laut menambah gerah bagi para pekerja dan penduduk yang tinggal di sekitar pantai. Kulit hitam kuli pelabuhan yang bersimbah peluh nampak berkilauan dibawah sinar matahari. Para awak kapal dengan bergegas memasukkan barang-barang ke dalam sebuah kapal yang akan segera melepas sauh. Ann, merek kapal itu akan segera berangkat menuju utara tepat pada tanggal 3 Juli 1781.

Kapal Ann bukanlah kapal mewah. Ia terbuat dari kayu dengan layar-layar lebar menjulang tinggi diatasnya. Kapal ini nampak kusam dengan interior seadanya. Tidak banyak yang mau berlayar dengan kapal ini selain berisi barang-barang dagangan dan para budak.
Selama masa hidupnya, kapal Ann memang dikhususkan untuk mengangkut para budak berkulit hitam ataupun warga penduduk asli Amerika latin yang umumnya berkulit gelap.

Selain para budak, kapal ini dijejali dengan pisang dan rum. Rum merupakan minuman beralkohol yang dibuat dari fermentasi air tebu. Minuman ini sangat populer di kalangan pekerja dan masyarakat di kalangan menengah ke bawah.

Rasanya yang hangat dan manis serta harganya yang terjangkau menjadikannya menjadi komoditi utama yang laris dipasaran dan menjadi pundi-pundi uang bagi bangsa Inggris saat itu.

Diantara penumpangnya yang nampak suram dan tidak menampakkan semangat hidup, sepasang suami istri ikut dalam pelayaran ini. Namun bukan sebagai penumpang. Sang nahkoda kapal, seorang pria berkulit putih yang bernama Benjamin Raffles dengan perlahan dan hati-hati menuntun istrinya tercinta untuk ikut naik ke dalam kapal, Anne Raffles.

Entah kebetulan entah tidak, nama istri kapten kapal ini sama dengan nama kapalnya. Namun yang pasti kapal ini bukanlah milik pribadi sang kapten. Benjamin bekerja di Perusahaan British India Timur (British East India Company) yang memiliki kapal ini. Konon kabarnya kapal ini dulu dibuat oleh bangsa Spanyol namun dirampas oleh tentara Inggris dan dijadikan kapal pengangkut budak.

“Jika kau lelah beristirahatlah saja,” perintah sang kapten kepada wanita muda yang tengah hamil disampingnya.

“Tidak, aku ingin disini bersamamu, melihat lautan yang membiru dan langit yang jingga keemasan.”

“Kau sungguh keras kepala,” ucap sang kapten sambil memeluk tubuh istrinya itu.

Benjamin memang menunjukkan rasa cinta yang besar kepada Ann istrinya. Ia tahu perjalanan dengan kapal ini bukan hanya satu atau dua hari saja tetapi akan menghabiskan waktu dua hingga tiga bulan. Pasangan muda ini tidak mau melewatkan masa dimana mereka akan segera mendapatkan momongan dari buah kasih mereka. Perut Anne yang membuncit membuatnya tidak bisa bergerak bebas namun sang suami begitu cekatan membantu sang istri untuk menaiki tangga kapal.

“Ann hati-hati,” ucap sang kapten penuh perhatian sambil menuntun istrinya menaiki satu per satu anak tangga.

Ann hanya mengangguk dan menatap haru pada suaminya. Dalam hati ia sangat bersyukur kepada Tuhan memiliki suami yang begitu baik dan perhatian.

Menjelang sore, kapal ini melempar sauh dan memulai perjalanan rutinnya kearah utara ke wilayah yang sekarang di kenal dengan nama Amerika Serikat. Dari kapal-kapal ini para budak diangkut untuk menjadi pekerja kasar yang dipaksa membangun Amerika yang pada saat itu sebagian wilayahnya masih menjadi jajahan Inggris.

Kapal berlayar dengan pelan. Ketiadaan mesin mungkin membuat kecepatan kapal ini hanya sebatas kecepatan angin yang bertiup. Buktinya hari ketiga setelah melepas sauh, tepatnya tanggal 6 Juli 1781, kapal Ann masih berada di laut di sekitar Fort Morant.

Saat itu Anne nampak gelisah. Wajahnya dipenuhi keringat sebesar butiran jagung. Perutnya terasa mules luar biasa hingga ia tidak mampu untuk menahan sakitnya. Sesaat kapten Benjamin nampak kebingungan melihat keadaan istrinya. Dia bingung apakah harus memutar kapal kembali ke pantai atau bagaimana. Keadaan istrinya membuatnya tidak tega. Sebagai seorang kapten tentu ia terbiasa berfikir cepat, tapi jika menyangkut nyawa orang yang dicintai, bahkan seorang kapten pun akan menjadi seperti kehilangan akal.

“Ann tenanglah, aku disini,” ucap sang kapten yang mulai panik melihat keadaan istrinya.

“Sakit, sakit sekali,” rintih Ann tanpa memperdulikan suaminya.

Sang kapten mulai berpikir keras lalu bergegas hendak berhambur keluar mencari bantuan. “Bertahanlah Ann, aku akan segera kembali,” ucapnya kepada sang istri.

Untunglah para awak kapal dan pelayan setianya segera mengetahui keadaan ini dan dengan sigap menyiapkan proses persalinan. Diiringi hembusan angin laut yang panas dan ombak yang tenang, di tengah laut yang membiru di sekitar kawasan tropis kepulauan Jamaika lahirlah seorang bayi mungil buah cinta pertama sang kapten dan istrinya.

Bayi inilah yang kelak akan mengguncang Jawa, mengobrak-abrik Kraton Jogya dan membuat serajah besar di sebuah keresidenan India di pulau Sumatera yang bernama Bencoolen atau yang sekarang dikenal dengan nama Bengkulu. Oleh kedua orangtuanya bayi mungil ini diberi nama Thomas Stamford Bingley Raffles.

Sang kapten menggendong bayi yang baru saja dilahirkan oleh istrinya dengan kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan.

“Kelak kau akan menjadi orang yang hebat dan namamu akan abadi dalam sejarah dunia,” ucap sang kapten sambil tersenyum kepada bayi mungil itu didampingi istrinya yang juga tak kalah bahagia.

Penulis: Ihsan Joy
Editor: Cinthya Novella
Komunitas Menulis Bengkulu