Thomas Stamford Bingley Raffles. Foto Istimewa.

Masa Kecil di Tanah Inggris

Udara sejuk terasa mengalir lembut, menepis rambut seorang bocah yang sedang bermain ayunan dengan adik perempuannya. Kedua bocah ini terlihat kedinginan sehingga tak lama kemudian keduanya masuk ke dalam rumahnya.

Sebenarnya cuaca saat itu tidak terlalu dingin yaitu sekitar 15 derajat celcius. Namun bagi kedua bocah yang terbiasa tinggal di pinggiran pantai Jamaika yang panas, suhu ini sangat menggigilkan. Sang bocah, Raffles dan adiknya bersama kedua orangtuanya telah kembali ke tanah Inggris, tepatnya di kota London.

Mereka tinggal di sebuah kawasan elit bernama Eslington. Disini rumah-rumah dibangun dengan cukup mewah dan berada di tengah-tengah pusat kota London. Saat itu, kota London adalah salah satu kota tersibuk di Inggris. Rumah, kantor dan pabrik mulai menjamur. Jalanan mulai macet dengan kendaraan. Dan udara mulai terasa kurang sehat terkontaminasi polusi pabrik.

Disinilah, Raffles sang penakluk nusantara menjalani masa kecilnya. Sebagai seorang anak mantan kapten kapal dan pedagang budak di tanah jajahan, seharusnya Raffles bisa menikmati masa kecilnya dengan kecukupan ekonomi. Namun itu tidak terjadi. Sang ayah, Benjamin tidak memiliki banyak harta untuk hidup berkecukupan di London yang metropolis.

Keadaan ini membuat Raffles menjadi sedikit minder untuk berteman dengan anak-anak tetangganya sehingga ia lebih banyak diam dan menghindar. Karena sikapnya ini, ia dikenal sebagai anak yang kurang disukai dan keras kepala. Namun kekurangan ini telah menempa sifatnya yang gigih dan keras yang kelak dibutuhkan dalam masa kepemimpinannya di tanah koloni.

“Ibu, kapan saya bisa bersekolah seperti teman-teman lainnya?” tanya Raffles kecil ke ibunya.

Ibunya yang kebingungan hanya mampu menjawab “Sabar ya Nak, ayahmu masih mencari uang buat biaya sekolahmu.”

Namun keberuntungan tidak kunjung datang kepada sang Ayah. Hingga akhirnya keluarga jauh datang menghampiri keluarga Raffles. Seorang guru yang bernama Dr. Anderson.

“Mengapa anakmu belum disekolahkan, bukankah dia sudah cukup umur?” tanya Dr. Anderson kepada Ann, ibunya Raffles.

“Kami belum punya biayanya, gaji dari suami saya tidak cukup untuk membiayai sekolahnya,” jawab Ann.

“Tapi kalau dia tidak sekolah, dia tidak bisa mendapat pekerjaan yang bagus,” timpal Dr. Anderson. “Begini saja, bagaimana kalau biaya sekolah Raffles biar saya yang tanggung, tapi jangan halangi dia untuk bersekolah.”

Tanpa pikir panjang, Ann langsung menyetujui usul Dr. Anderson karena memang ia sudah lama pengen melihat anaknya bersekolah. Sejak saat itu Raffles mendapat kesempatan untuk mengeyam bangku pendidikan di sekolah Hammersmith. Sebuah sekolah ternama di London yang siswa-siswanya berasal dari golongan ekonomi atas.

Raffles tidak menyia-nyiakan kesempatan bersekolah. Ia menunjukkan kerakusan terhadap ilmu. Pelajaran yang paling ia sukai adalah ilmu hewan atau zoologi. Dia bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk mengamati tingkah laku hewan di kebun binatang milik sekolahnya, mulai dari unggas, mamalia hingga keluarga serangga. Kesukaannya terhadap hewan itulah yang kelak akan mengantarkannya menjadi orang pertama di dunia yang membuat perkumpulan ahli zoology se dunia.

Seperti biasa sehabis pulang sekolah Raffles selalu ke kebun binatang milik sekolah hanya untuk melihat dan mengamati berbagai hewan yang ada disana. Dr Anderson yang sedang berkeliling sekolah pun melihat tingkah Raffles dan menghampirinya.

“Apa yang kau lakukan disini, nak?”

Menyadari kehadiran Dr. Anderson Raffles pun terkesiap “Saya sedang mengamati hewan-hewan ini Sir, mereka sangat menarik, saya ingin tahu lebih banyak tentang mereka,” jawab raffles penuh antuasias.

“Bukankah jam pelajaran sudah selesai dan hari sudah mulai sore, apa kau tak ingin pulang?”

“Saya masih ingin disini sebentar lagi Sir,” kata Raffles memelas

“Baiklah, tapi apa yang sebenarnya kau amati?” tanya Dr. Anderson.

“Tingkah mereka sangat unik, saya menyukai. Saya juga mencoba menggambar mereka,” jawab Raffles seadanya.

“Hmm..Kau benar nak, tak salah jika aku mengatakan kalau dirimu memang cerdas,” ucap Dr Anderson sembari mengelus kepala Raffles.
“Hari sudah semakin sore, pulanglah, besok kau bisa melanjutkannya lagi!”

“Baiklah, terima kasih sir,” pungkasnya dengan senyum sumringah.

Sayangnya, keasyikannya menimba ilmu di Hammersmith tidak berlangsung lama. Ini membuatnya sangat sedih. Keadaan ekonomi keluarganya yang makin memburuk memaksa Raffles harus ikut bekerja membantu kebutuhan keluarganya.

“Apa kau sedang sibuk?” tanya Dr Anderson suatu ketika mengagetkan Raffles.

“Tidak juga. Ada apa Sir?” jawab Raffles sambil membenahi diri.
Dengan nada lembut dan hati-hati Dr. Anderson coba menjelaskan maksud pembicaraannya “Kemarin orang tuamu menemuiku, mereka meminta agar aku mencarikanmu pekerjaan untuk membantu perekonomian keluargamu. Sejujurnya aku masih ingin kau belajar dan menyelesaikan sekolahmu, namun sepertinya tak ada pilihan lagi, bagaimana menurutmu nak?”

Raffles muda itupun tampak terkejut mendengar ucapan Dr. Anderson.

“Jadi apakah saya tidak bisa bersekolah lagi?” tanyanya penasaran.

“Iya begitulah, saya juga tidak menginginkannya namun orang tuamu lebih tahu yang terbaik,” terang Dr. Anderson.

“Baiklah Sir, saya mengerti. Terima kasih karena telah memberikan saya kesempatan untuk belajar selama dua tahun ini, saya sangat senang belajar disini, walaupun apa yang saya dapat belum bisa menghapuskan dahaga saya akan ilmu disini, namun semua ini dapat saya jadikan bekal di kehidupan saya yang akan datang,” ucapnya dengan nada sedih namun optimis.

“Besok kau sudah bisa bekerja di British East India Company, saya sudah mengaturnya. Bekerjalah dengan baik dan pergunakanlah gajimu untuk membantu keluargamu,” ucap Dr Anderson dengan lirih sambil berlalu meninggalkan Raffles.

“Terima kasih Sir, aku akan mengingatnya”

Sejak hari itu, Raffles tidak lagi berkesekolah di Hammersmith dan memasuki dunia baru yaitu dunia kerja pada usia yang sangat muda, 14 tahun. Masa dimana seharusnya ia bersekolah dan bermain bersama teman-teman. Namun pada masa itu, keadaan memaksa para remaja tanggung seperti Raffles untuk mencari nafkah guna menyokong ekonomi keluarga. Hal sepert itu merupakan sesuatu yang wajar didapati di Inggris. Hanya anak orang kaya saja yang bisa menikmati masa remajanya dengan bersekolah dan bermain.

***

Pagi itu, awal musim dingin tahun 1795, matahari bersinar cerah di atas langit London. Udara yang cukup dingin tidak menjadi penghalang bagi Raffles untuk menuju ke tempat kerjanya yang pertama. Raffles melangkahkan kakinya keluar rumah menuju kantor East India House. Ia berjalan menelusuri metropolitan London yang selalu sibuk. Gedung-gedung seukuran ruko tiga lantai berjejer disepanjang jalan Leadenhall Street. Sepanjang jalan yang dilalui ditumbuhi tanaman maple yang daunnya mulai berubah menjadi kuning dan merah sebagai pertanda musim panas segera berakhir dan akan digantikan dengan musim dingin yang mencekam.

Diantara gedung-gedung bertingkat, dengan jelas Raffles bisa melihat asap hitam mengepul dari cerobong-cerobong asap yang berasal dari pabrik-pabrik kecil yang banyak tumbuh di kawasan London. Dari pabrik-pabrik ini dihasilkan senjata yang dipergunakan oleh pemerintah dan perusahaan dagang Inggris untuk menguasai dan menjajah dunia.

Kendati demikian perusahaan East India House bukanlah sebuah pabrik tetapi lebih dari itu East India House merupakan sebuah gedung yang sangat mentereng yang kemewahannya sangat jelas dibanding gedung-gedung lain di sekitarnya. Dengan ukuran yang sangat besar dan dihiasi dengan pilar-pilar tinggi dan kokoh dibagian depan sehingga terlihat bak istana raja Yunani yang anggun dan elegan. Apalagi di depan gedung ini berdiri dengan megah sebuah patung Britanian yang berukuran besar yang menambah kesan angkuh pada perusahaan ini.

East India House atau Gedung Perusahaan India Timur sesungguhnya adalah kantor pusat dari British East India Company (BEIC) atau Perusahaan Inggris India Timur, yang biasa dikenal dengan sebutan Kompeni Inggris. Jika di Belanda ada VOC maka di Inggris ada BEIC. Pada awalnya VOC dan BEIC hanyalah sebuah perusahaan swasta yang didirikan untuk perdagangan rempah-rempah namun seiring dengan menumpuknya kekayaan dan kekuasaan mereka berubah menjadi monster penjajah.

Di dalam gedung megah milik Kompeni Inggris ini terdapat pula para pejabat pemerintah yang justru bekerja di bawah komando perusahaan. Sehingga kompeni Inggris yang awalnya hanyalah sebuah perusahaan dagang swasta beralih fungsi menjadi pusat pemerintahan Inggris. Dan disinilah Raffles muda memulai karirnya sebagai seorang juru tulis.

“Selamat datang di Kompeni Inggris anak muda, sekarang kau bisa bekerja di tempat ini sebagai juru tulis,” sapa seorang pegawai dengan ramah membuyarkan kekaguman Raffles terhadap gedung megah dihadapannya.

“Terima kasih tuan,” ucap Raffles menimpalinya.

“Mari saya tunjukkan meja kerjamu,” kata pegawai itu sambil berjalan ke arah sebuah ruang.

Di dalam ruang itu terdapat 3 buah meja yang diatasnya terdapat tumpukan kertas-kertas setinggi setengah meter.

“Ini meja kerjamu anak muda, mulai saat ini kau resmi bekerja disini”

“Maaf pak, tapi apa yang harus saya kerjakan?” tanya Raffles.

“Sebagai seorang juru tulis tugasmu adalah menuliskan kembali semua catatan-catatan yang ada diatas meja ke dalam buku laporan, pegawai disampingmu itu akan menunjukkan apa saja yang harus kau catat,” jawab pegawai itu dengan tenang.

“Baik sir, terima kasih.”

Sejak hari itu Raffles menjalani hari-harinya sebagai karyawan bagian juru tulis dengan pena dari bulu unggas tak lepas dari ujung jarinya. Suasana kantor terlihat sangat sibuk karena selain raffles ada ratusan juru tulis di sana. Walaupun Raffles belum terbiasa dengan suasana bekerja dan masih ingin belajar di sekolah namun ia bukanlah tipe orang yang suka mengeluh. Ia menunjukkan ketekunan yang lebih baik dari teman-temannya. Kemiskinan telah mengeraskan hatinya untuk bekerja lebih giat.

“Tidak mungkin selamanya aku bekerja disini, aku harus bisa mengubah nasibku,” gumam Raffles dalam hati.

“Hey kamu, kenapa hanya melamun saja?” bentak seorang petugas membuyarkan Raffles dari lamunannya.

“Ma..maaf Pak saya tidak melamun, saya hanya istirahat sebentar.”

“Pulanglah, sekarang sudah hampir jam 6 sore,” perintah sang petugas.

“Maaf Pak saya hari ini lembur sampai jam 9 malam,” jawab Raffles.

“Saya perhatikan tiap hari kamu lembur, selalu datang lebih pagi dan pulang paling akhir. Kamu masih muda, untuk apa uang lembur?” tanya petugas penuh selidik.

“Uangnya bukan untuk saya Pak, tapi untuk Ibu saya. Bapak saya sudah tidak bekerja lagi jadi saya harus mencari nafkah buat ibu dan adik-adik saya,” jawab Raffles dengan suara pelan dan tertunduk.

“Rupanya kau anak yang baik, lanjutkanlah pekerjaanmu,” ucap petugas tersebut yang kemudian berlalu meninggal Raffles.

Ketekunanan Raffles dalam bekerja dan ketulusannya membantu ekonomi orang tuanya menjadi bahan pembicaraan para petinggi perusahaan. Diantara mereka sudah ada yang mengusulkan untuk menaikkan gaji Raffles yang sangat rendah yaitu hanya sekitar 5 pounds (100 ribu rupiah) per bulan. Tentu saja uang sejumlah itu tidak cukup untuk menafkahi ibu dan 5 orang adiknya.

Namun sayangnya tidak semua orang menyukai kerja keras Raffles itu khususnya rekan-rekannya sesama jurus tulis. Rasa iri mengisi relung hati beberapa pegawai yang merasa tersaingi.

“Brakkkk..” tiba-tiba suara dentuman kursi yang terlempar.

“Keluar kamu dari sini, dasar penjilat!” teriak seorang juru tulis senior.

Raffles yang tidak mengerti maksud dari seniornya itupun hanya terdiam mematung. Namun bukannya mereda, kemarahan rekan kerjanya semakin menjadi.

“Plakkk…Plakk…Plakk..” tiga pukulan telak mendarat diwajah Raffles sehingga menyebabkan ia jatuh tersungkur.

Tak lama kemudian sebuah tendangan pun menghujam di bagian belakang tubuh Raffles.

Entah apa alasannya namun Raffles tidak mau tahu lagi. Dengan merangkak dan menahan sakit Raffles keluar ruangan itu dan langsung pulang untuk menyelamatkan dirinya dari orang-orang itu.

Rupanya kejadian malam itu menjadi perbincangan hangat di kantor tempat Raffles bekerja. Dan keputusan telah dibuat dimana si penganiaya Raffles harus diberhentikan secara tidak hormat, sedangkan Raffles dapat melanjutkan kerjanya seperti biasa dengan rasa aman.

Karena kejadian itu pula Raffles mendapat pujian dari petinggi Kompeni Inggris atas sikap dewasa dan terdidik walaupun umurnya masih sangat muda. Hingga setelah 10 tahun menunjukkan pengabdiannya sebagai juru tulis dan kinerja yang sangat baik, akhirnya pada tahun 1805, diusia 24 tahun, Raffles mendapat kesempatan untuk mengubah nasibnya.

“Selamat nak, kami telah memutuskan untuk memberikan promosi kepada sebuah jabatan sebagai Asisten Sekretaris Gubernur Penang di wilayah India. Persiapkan segala sesuatunya untuk perjalananmu kesana. Apa kau siap?” kata salah seorang pejabat mengabarkan berita baik ini kepada Raffles.

“Tentu, saya siap kapan saja,” sambut Raffles penuh semangat.

Tidak berapa lama, Raffles mulai berlayar ke bagian timur bumi menuju Penang dan pulau-pulau nusantara. Sebuah wilayah yang akan berada dalam genggaman kekuasaannya.

Ditulis oleh Ihsan Joy
Editor Cinthya Lovenna
Komunitas Menulis Bengkulu