Ilustrasi Salat Ied

JAKARTA, PB – Hari ini, Rabu (13/6) Jamaah Naqsabandiyah merayakan Idul Fitri 1439 H di kota Padang, Sumatera Barat.

Tarekat Naqsabandiyah memang sudah beda dari awal Ramadan. Pada tahun ini tarekat tersebut sudah memulai salat tarawih tanda dimulai Ramadan 1439 Hijriah pada Senin (14/5/2018) malam, dilanjutkan puasa Selasa (15/5/2018).

“Dari dulunya kita sudah beda kok. Tanggapan pemerintah, beberapa hari saat kita akan memulai puasa kita didatangi dari Kanwil Kemenag Sumbar meminta supaya puasa disamakan, tapi tidak bisa kita sama,” kata Jamaah Naqsabandiyah sekaligus Sekretaris Musalah Baitul Makmur, Kota Padang, Edizon Revindo, Selasa (12/6/2018).

Naqsabandiyah sudah melakukan penghitungan hari dengan memakai kalender hisab munjid. Bahkan tahun depan tarekat ini sudah menentukan kapan mulai puasa dan Idul Fitri.

“Kita punya kalender hisab munjid. Tahun depan itu awal Ramadan jatuh pada hari Jumat dan lebarannya pada hari Minggu,” ungkap Edizon Revindo.

Cara menghitung dalam kalender hisab munjid, kata Edizon, yakni dengan menaikan lima hari sejak puasa tahun ini. Jika tahun ini Ramadan jatuh pada hari Senin maka hitungan tahun depan sebanyak 360 hari ditambah 5 hari.

“Lima hari dimulai dari hari Senin awal Ramadan tahun ini, Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat, maka puasa tahun nanti jatuh pada hari Jumat,” ujarnya.

Setelah salat Id, seusai tradisi jemaah dan tokoh agama akan makan kue bersama di dalam masjid. Kue dan minuman itu dibawa masing-masing jamaah.

“Itulah tradisi kita. Beda dengan Idul Adha, kalau Idul Adha pembagian daging korban dan makan bersama, tapi kalau Idul Fitri hanya makan kue dari jamaah sendiri,” katanya.

Di Musala Baitul Makmur ada sekitar 20 orang yang menyelenggarakan ritual suluk, yakni melakukan zikir selama 40 hari. Hari ini sudah genap 40 hari.

“Mereka ini semuanya perempuan berasal dari Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, tapi ada juga dari Kabupaten Solok dan Kabupaten Pesisir Selatan. Mereka datang 10 hari menjelang Ramadan,” katanya. [Zie Khausna]