Alkisah, pada zaman dahulu berdiamlah seorang nenek disebuah kota. Kota tersebut diperintah seorang raja. Pekerjaan yang dilakukan nenek sehari-hari adalah mengambil kayu api dari hutan dan dijualnya ke kota.

Pekerjaan mencari dan mengumpulkan kayu di hutan memakan waktu cukup lama. Oleh sebab itu, terlebih dahulu harus mempersiapkan makanan seperlunya sebelum ia pergi.

Pada suatu hari, sekembalinya ia dari hutan, didapatinya makanannya sudah habis sebagian. Ia tidak mengetahui sama sekali siapa sebenarnya yang memakan makanan itu.

Keadaan ini berlangsung berturut-turut selama tiga hari. Timbul kecurigaan di dalam hatinya. Keesokan harinya yaitu hari keempat ketika pulang dari hutan ia meletakkan kayu hasil pencahariannya itu agak jauh dari rumahnya. Perlahan-lahan ia melangkah menuju ke rumahnya, di sana didapatinya seekor ular kecil sedang memakan makanan yang telah dipersiapkannya. Makanan itu tersimpan didalam alat penyimpanan makanan yang terbuat dari daun lontar dan biasa disebut kota. Dengan marahnya sang nenek berkata kepada ular itu: “Engkau inilah yang setiaphari mencuri makananku? Engkau akan kubunuh karena perbuatanmu.” Nenekpun mengambil kayu hendak memukul ular tersebut. Ketika nenek hendak memuku;, tiba-tiba ular itu berkata: “Hai nenek, janganlah engkau membunuh aku, sebaiknya peliharalah dan sayangilah aku. Mulai saat ini aku akan tinggal bdersamamu.” Mendengar kata-kata ular itu nenekpun menjadi kasihan. Ular itupun diambilnya dan dipindahkannya ke dalam sebuah kotak kosong. Ular peliharaannya itu kemudian diberi Nama Ula Lenggau.

Ketika Ula Lenggau itu menjadi besar maka iapun berpesan kepada nenek agar nenek suka pergi memberitahukan kepada raja di istana bahwa Ula Lenggau ingin mengawini salah seorang puterinya. Berkatalah nenek: “Daulat tuanku, aku datang hendak menyampaikan berita bahwa anakku Ula Lenggau ingin meminang satu diantara ke tujuh puteri baginda. Apakah baginda berkenan untuk itu?” Jawab raja: “Saya tidak berkeberatan, namun saya harus memberitahukan hal ini kepada anak-anakku.” Lalu raja memanggil ke tujuh puterinya dan menyampaikan berita yang baru diterimanya itu. Pertama-tama permintaan itu disampiakan kepada puteri sulung namun mendengar permintaan itu, apa lagi seekor ular, maka puteri sulungpun marah karena merasa harga dirinya direndahkan. Sambil mengejek dia berkata: “Aku tidak sudi kawin dengan ular.” Ular adalah binatang dan bukan manusia.” Rajapun mengalihkan permintaan kepada puteri ke dua, kemudian ke tiga, ke empat, ke lima, ke enam namun semua menolak bahkan lebih dari itu mengejek.

Untuk terakhir kalinya raja mengalihkan permintaan kepada puteri bungsunya. dengan lantang puteri bungsu menyatakan kesediaanya. Mendengar kesediaan puteri bungsu itu, rajapun menyampaikan kepada di nenek sekaligus menyiapkan segala keperluan pesta perkawinan. Setiba di rumah berita itu disampaikan kepada Ula Lenggau. Ula Lenggau berkata kepada nenek agar tidak perlu kuatir dan takut, karena semua kebutuhan akan terpenuhi dengan sendirinya bila tiba saatnya. Setelah saatnya tiba, semua sudah tersedia dan diantarkan ke istana raja dan pesta perkawinanpun mulau dilangsungkan di istana raja.

Dipelaminan Ula Lenggau ditempatkan dalam sebuah bakul yang dianyam dari daun lontar sedang puteri raja duduk di atas kursi pengantis yang terhias indah. selesai pesta ramah- tamah, kedua pengantinpun dihantar ke kamar pengantin yaitu kamar tidur puteri bungsu. Di dalam kamar Ula Lenggau tetap berada di dalam bakul dan dtempatkan di tempat yang telah disiapkan dan puteri raja berbaring di atas ranjang pengantin. Oleh karena puteri bungsu sudah menikah maka untuk makan sehari-hari ditugaskan pelayan khusus untuk melayani Ula Lenggau dan isterinya.

Karena Ula Lenggau adalah ular belaka, maka makanan yang disediakan hanya untuk puteri bungsu saja. Sudah menjadi kebiasaan puteri raja bahwa ia makan malam setelah larut malam. Pada suatu malam ketika bangun hendak makan ia terkejut karena makanannya sudah dimakan orang. Kamar mereka tidak pernah dimasuki orang kecuali pelayan mereka sehingga ia sangat heran atas kejadian itu. Kejadian berlangsung terus sampai tiga hari. Puteri raja ingin sekali mengetahui siapa sebenarnya memakan makanannya.

Keesokan harinya pelayan mereka dipanggil dan disuruh membeli sebuah jeruk nipis. Pelayanpun pergi ke pasar dan membeli jeruk seperti yang dipesankannya. Selain itu puteri raja brpesan sebagai berikut: “Sebentar malam sesudah mengantar makanan, tengah malam engkau kembali lagi ke sini tetapi tidak boleh masuk ke dalam kamar. Saya tidak akan tidur, dan berusaha tetap terjaga. Satu-satunya cara ialah dengan melukai jariku, sesudah itu dicelupkan ke dalam air jeruk tersebut. Dalam keadaan demikian tentu saya tak bisa tertidur. Andaikata Ula Lenggau nanti berubah menjadi seorang manusia dan sementara ia asyik makan makananku, maka hendaklah engkau mencari kulitnya. Sesudah itu engkau pergi ke belakang dan bakar kulit tersebut.”

Malampun tibaklah sang puteri mulai melukai tangannya serta sekali-kali dicelupkan dalam air jeruk. Makanan dan lain-lain sudah disiapkan oleh sang pelayan sementara Ula Lenggau tetap melingkar dalam bakul seperti sedia kala. Isteri Ula Lenggau berpura-pura tidur nyenyak. Setelah larut malam, Ula Lenggaupun mulai merayap keluar dari tempatnya. Tidak lama kemudian ia berubah menjadi seorang pria tampan lagi rupawan. Selagi ia asyik mencicipi semua hidangan yang telah disiapakan untuk puteri raja, pelayananpun mencuri kulit Ula Lenggau tanpa diketahuinya. Kulit itu kemudian dibakarnya. Selesai makan Ula Lenggau, kembali ke tempatnya semula. Di sini baru diketahuinya bahwa kulitnya sudah tiada lagi. Ia pun mendekati puteri raja yang sedang berpura-pura tidur nyenyak dengan maksud untuk membangunkannya.

Berkali-kali ia berseru: “Ayo bangun, kepalaku pusing,” katanya. Puteri pun sengaja terkejut sambil mengusap matanya dan berkata: “Apa yang terjadi?” Tanpa mengindahkan pertanyaan puteri raja. Ula Lenggau berkata:”Ayo segera ambil abu dari kulitku dan gosokkanlah pada dahiku.” Pelayanpun dipanggil dam diperintahkan untuk mengambil abu dari kulit Ula Lenggau supaya digosokkan pada dahi pemuda itu. Dengan demikian pusing kepala pemuda tersebut sembuh dan ia tetap menjadi seorang pria yang berwajah tampan. Walaupun ia telah berubah menjadi manusia namun namanya tetap dipanggil Ula Lenggau.

Esok paginya Ula Lenggau bersama isterinya bangun serta mandi dan berpakaian yang serba bagus, sambil duduk-dududk di kamar tamu. Semua saudara isteri Ula Lenggau kagum melihat Ula Lenggau yang rupawan itu. Ke enam saudara isteri Ula Lenggau membawa hidangan untuk baginda raja dan Ula Lenggau bersama isyerinya. Mereka sangat iri melihat adik mereka yang bersuamikan laki-laki yang tampan.
Pada suatu hari Ula Lenggau menyampaikan niatnya untuk berdagang ke negri jauh kepada baginda raja. Permohonan itu diterima oleh baginda raja. Tidak lama kemudian berlabuhlah tujuh buah kapal dagang dipantai. Kapal tersebut akan ditumpangi oleh Ula Lenggau. Sebelum meninggalkan isterinya terlebih dahulu ia memberikan segumpal tanah dan sebuah pinang kepada isterinya dengan pesan : Gumpalan tanah dan buah pinang ini harus kau simpan baik-baik di dalam selimutmu. Kemana saja engkau pergi benda-benda ini kau bawa serta. Jangan engkau terpesona dengan bujukan dan ajakan manis saudara-saudaramu. Saya tahu bahwa mereka sangat iri padamu. Oleh karena itu mereka akan berdaya upaya untuk membunuh engkau.” Setelah ia berpesan demikian maka iapun berangkat meninggalkan isterinya.

Tidak lama setelah kepergian suaminya ke enam saudaranya bermusyawarah mencari jalan untuk membunuh adikya itu. Mereka membeli pisang kemudian dibagi-bagi antar sama mereka. Pisang yang akan diberikan kepada isteri Ula Lenggau diracuni lebih dahulu sebelum diberikan. Seterimanya pisang tersebut tidak langsung dimakan oleh isteri Ula Lenggau, karena ia teringat akan pesan suaminya supaya setiap hidangan yang dihidangkan untuknya terlebih diberikan kepada ayam atau anjing. Apa bila binatang-binatang itu tidak mati, barulah ia boleh memakannya. Pisang tersebut diatas diberikan terlebih dahulu kepada seekor ayam dan ternyata ayam tersebut mati setelah selesai makan pisang tersebut. Gagalah usaha mereka. Oleh karena itu mereka terus berusaha mencari cara yang lain ialah dengan mengajak saudara mereka bermain ayunan. Di dekat tempat bermain terdapat sebuah jurang yang dalam serta berair.Saat giliran isteri Ula Lenggau tiba. Ketika sedang asyik berayun tali tersebut sengaja diputuskan sehingga isteri Ula Lenggau terjatuh ke dalam jurang yang sedang mengalir airnya. Ia dihanyutkan oleh air dan oleh karena air sangat deras , maka pakaiannya terkoyak srta terlepas dari badannya, akibatnya ia menjadi telanjang.

Dalam keadaan yang demikian gumpalan tanah yang dipegangnya tumbuh menjadi sebuah pulau kecil dan di atas pulau tersebut tumbuh buah pinang yang digenggamnya itu. Isteri Ula Lenggaupun naik keatas pohon pinang tersebut untuk melindungi dirinya serta untuk dapat melepaskan pandangannya lebih jauh mengamati kemungkinan kapal datang ke tempat itu. Tidak lama kemudian datanglah sebuah kapal dari arah selatan. Ketika kapal hendak merapa iapun melagukan sebuah lagu yang ditujukan kepada orang-orang di atas kapal. Dalam lagunya itu ia menanyakan kepada orang-orang kapal kalau-kalau Ula Lenggau berlayar bersama mereka. Lagu tersebut adalah sebagai berikut:

Jong di lao, jong di alo

Lia kah tidak, tengokkah tidak

Kita laki Ula Lenggau, artinya

Kapal yang sedang berlayar itu

Lihat atau tidak suami saya, Ula Lenggau.

Selesai menyanyikan lagu tersebut, tiba-tiba terdengarlah jawaban dari atas kapal dalam bentuk lagu sebagai berikut :

Puteri di dara, puteri di dara

Angin keras, ombak keras datang di belakang.

Makna dari jawaban ini ialah Ula Lenggau tidak ikut menumpang kapal tersebut. Keesokan harinya isteri Ula Lenggau menaiki pohon pinang itu lagi dengan maksud melihat kalau-kalau ada kapal yang datang. Ketika salah sebuah kapal hendak merapat lagi, puteri raja mulai berpantun lagi dengan pantun yang sama. Isi pantun dalam bentuk lagi tersebut adalah sebagai berikut:

Jong di lao, Jong di lao

Liakah tidak, tengokkah tidak

Kita laki Ula Lenggau

Sesudah itu terdengar jawaban dari atas kapal

Nyora perseja di dara, nyora perseja di dara.

Angin keras ombak keras di belakang datang.

Berkali-kali dilakukan namun sia-sia segala usahanya. Kini kapal yang ke tujuhpun hendak merapat. Dari atas pohon pinang isteri Ula Lenggau berpantun lagi, sebagai berikut:

Jong di lao, jong di lao

Liakah tidak, tengokkah tidak

Kita laki Ula Lenggau

Dari atas kapal tidak terdengar jawaban apa-apa. Tiba-tiba terlihat seorang lelaki mengayuh sampan menuju tempat itu. Ternyata itu ialah Ula Lenggau. Suara itu telah didengarnya dan ia mengenal suara itu adalah suara isterinya. Ia telah mendengar apa yang telah terjadi dengan isterinya itu. Ula Lenggau pun turun ke darat menemui isterinya yang ternayata sudah tidak berpakaian lagi. Isterinya dipanggil namun ia malu dan takut, oleh sebab itu berkatalah ia kepada Ula Lenggau: “Bunuhlah aku sekarang ini juga.” Kata Ula Lenggau. “Aku tidak rela membunuhmu sayang. Turunlah dan pakailah pakaianmu yang telkah kusediakan.” Isterinyapun turun dan mulai mengenakan pakaian yang sudah disediakan oleh Ula Lenggau.

Kemudian merekapun naik di atas sampan menuju kapal. Di atas kapal Ula Lenggau pun memasukkan isterinya ke dalam sebuah peti yang telah dilubangi terlebih dahulu. Ula Lenggau memberikan kepada isterinya sebuah gunting dan sebuah piring dengan pesan: “Setelah kapal berlabuh kita terus ke darat, maka hendaknya engkau tetap di dalam peti, maka guntinglah sebagian dari tangan mereka. Bagianyng digunting itu supaya diletakkan di dalam piring ini. Tidak lama kemudian kapalpun berlabuh. Ke enam saudara dari isteri Ula Lenggau naik ke pantai. Di pantai mereka ikut menyaksikan Ula Lenggau sedang asyik menurunkan barang-barangnya

Mereka memberitahukan kepada Ula lenggau bahwa isterinya sudah meninggal. Untuk itu mereka bersedia menjadi isteri Ula Lenggau. Ula Lenggau berkata kepada mereka bahwa tidak ada persoalan, yang penting mereka bersama-sama mengangkat barang Ula Lenggau. Merekapun bersama-sama mengangkat barang Ula Lenggau dengan penuh kegembiraan. Peti yang dipesankan tersebut diletakkan di dalam kamar Ula Lenggau. Mereka ingin sekali mengetahui isi peti tersebut. Satu demi satu memasukkan tangannya ke dalam lubang peti. Setiap tangan yang dimasukkan pasti terpotong ujungnya.

Mereka menjadi taku, namun Ula Lenggau tetap berdiam diri. Keesokan harinya ia pergi mandi. Sesudah berpakaian rapih kemudian ia pergi duduk bersama baginda raja di ruang tamu. Ke enam saudara dari isterinyapun mulai mengantarkan dan menghidangkan minuman. Pada saat dimana semuanya sudah hadir, Ula Lenggaupun mengambil piring yang berisi sebagian dari jari-jari mereka. Mereka berenam dipersilakan Ula Lenggau menyaksikan isi piring itu. Mereka terkejut dan heran karena sayatan jari-jari itu adalah sayatan jari-jari mereka. Lalu berkatalah Ula Lenggau: “Kalian inilah yang berusaha membunuh isteri saya. Tetapi ternyata ia masih selamat. Dia sekarang ada. Rencana-rencana jahat kalian sudah kuketahui semuanya.”

Sesudah berkata demikian ia pun masuk kedalam kamar sambil membawa isterinya keluar. Melihat hal ini raja pun marah. Ia memerintahkan pagawai-pegawai istana agar membawa ke enam puterinya itu ke pantai. Di pantai mereka ditidurkan berjejer di pasir, sesudah itu orang-orang diperintahkan menarik perahu yang syarat dengan muatan di atas punggungnya sampai mereka berenam meninggal semuanya. Sesudah itu Ula Lenggau diangkat menjadi raja dan memerintah di kota tersebut. Hidupnya penuh bahagia sampai mereka berdua meninggal dunia. [Eva De]