Mantan Walikota Bengkulu Helmi Hasan

Betapa berbahagia rasanya bila seorang muslim atau muslimah yang beriman dapat berjumpa dengan bulan Ramadan. Sebab, bulan ini bukan hanya waktu saat turunnya Al-Qur’an, namun juga menjadi kesempatan untuk mendapatkan malam lailatulkadar, malam teristimewa dan paling mulia.

Nabi Muhammad sendiri mengecap malam lailatulkadar itu saat berada di Gua Hira. Di gua itu Nabi berdiam diri, melaksanakan ibadah sepenuh hati, jauh dari banalitas dan kebisingan kehidupan manusia. Dalam berkali-kali Ramadan, Nabi terus kembali ke Gua Hira mencari kebenaran. Hanya kebenaran semata.

Sekian lama Nabi bertahannuth di Gua Hira, jiwanya pun bertambah matang, terbawa oleh Kebenaran Tertinggi yang menjumpainya melalui mimpi yang hakiki. Namun disaat ini pula ia melihat hidup yang penuh kesia-siaan, penuh tipu daya dan kemewahan yang tidak berguna.

Usai mengecap malam lailatulkadar itu Nabi mulai menyadari bahwa ia hidup di tengah masyarakat yang telah tersesat dari jalan yang benar, kejiwaan masyarakatnya rusak oleh semua yang bersifat mencintai kebendaan secara berlebihan. Dengan semua kesadaran ini, ia dipersiapkan untuk membawakan pesan dan risalah yang besar.

Apa yang Nabi rasakan pada masanya dengan masa saat sekarang yang terjadi di Bengkulu mungkin memiliki banyak kesamaan. Kita melihat ada ayah yang tega memperkosa dan menganiaya anaknya, ada korupsi yang dilakukan oleh manusia terpelajar, ada seorang mahasiswa yang berani melakukan penistaan agama secara sadar dan tanpa beban.

Di Kota Bengkulu, dalam Pemilihan Walikota yang sebentar lagi akan dilaksanakan, kita juga bisa melihat ada orang yang mendadak memiliki jiwa sosial yang tinggi, ada yang mendadak memiliki visi bombastis untuk memanipulasi kesadaran rakyat, dan ada yang melakukan segala cara agar tujuannya berkuasa dapat terwujud.

Satu-satunya pasangan di Pilwakot yang menilai pentingnya perbaikan moral warga masyarakat melalui intervensi program keagamaan hanya Helmi Hasan dan Dedy Wahyudi. Artinya, melalui program ini, masyarakat hendak diarahkan agar dapat menjalankan kehidupan dalam keimanan, ketakwaan, dan budi pekerti yang luhur.

Terwujudnya masyarakat Bengkulu yang religius ini bukan hanya penting, namun juga mendesak. Sebab, apa artinya banyak jalan yang mulus, rumah sakit yang megah, taman-taman kota yang indah, bantuan modal untuk warga yang menganggur, banyaknya dana APBD digelontorkan untuk rakyat ketimbang untuk pejabat bila tidak ditopang dengan masyarakat berbudi pekerti luhur, beriman dan bertakwa.

Pembangunan infrastruktur yang baik harus ditopang dengan pembangunan manusia yang baik. Membangun badan harus selaras dengan membangun jiwa. Dalam hal ini, Helmi Hasan dan Dedy Wahyudi memiliki nilai lebih dengan menempatkan program mewujudkan Kota Bengkulu yang bahagia dan religius yang akan membawa masyarakat menuju keselamatan di dunia sementara dan akhirat selamanya.

Kita berharap dalam sisa waktu Ramadan tahun ini, warga masyarakat Bengkulu mendapatkan penerangan hati, mengecap malam lailatulkadar dan mendapatkan keyakinan yang utuh mengenai pilihan yang benar. Sebuah pilihan yang akan mendekatkan warga masyarakat Bengkulu kepada Allah Yang Maha Esa.

Hingga kelak kita dapat hidup dalam sebuah wilayah yang tentram, hidup dalam sebuah masyarakat dengan nilai-nilai kerohanian yang kuat, nyaman dan mempesonakan. Kehidupan dimana satu sama lain dapat saling berwelas asih, berperikemanusiaan dan tulus ikhlas melakukan segala sesuatunya semata untuk Allah.