Alkisah di sebuah kerajaan di Sumatera Selatan, ada seorang putri bernama Putri Jelitani. Sang putri lahir di musim kemarau sehingga lebih dikenal sebagai Putri Kemarau. Ketika beranjak remaja, sang ibu meninggal dunia. Jadilah ia menjalani hari-hari berdua dengan ayahnya yang sangat menyayanginya.

Suatu hari seluruh negeri dilanda kemarau panjang. Sungai-sungai kering dan danau pun surut. Padang rumput hangus terbakar terik matahari. Petani gagal panen. Raja segera menemui peramal sakti yang dapat memberi petunjuk jalan keluar.

“Negeriku sedang dilanda kemarau panjang. Dapatkah engkau memberi kami petunjuk apa yang mesti kami lakukan, wahai peramal?” tanya Raja kepada peramal.

“Yang mulia Baginda Raja, petunjuk akan datang melalui mimpi putri Baginda,” jawab peramal singkat.

“Kalau begitu, aku akan langsung bertanya kepada putriku,” timpal Raja sambil beranjak dan kembali ke istana. Sesampainya di istana, Raja lantas menghampiri putrinya.

“Putriku, Ayahanda baru saja bertemu peramal sakti,” kata Raja kepada putrinya.

“Ayahanda, apa gerangan yang disampaikan peramal?” tanya Putri Kemarau.

“Akan datang petunjuk melalui Ananda,” kata Raja

“Kita serahkan kepada Tuhan untuk menyelesaikan masalah ini,” lanjut Putri

Perkataan Putrinya sangat menyentuh perasaan Raja, mengingatkannya untuk berserah diri kepada Sang Maha Pencipta. Raja memerintahkan seluruh rakyat untuk berdoa agar terbebas dari kesulitan. Tidak lama Putri Kemarau bermimpi kedatangan ibunda tercinta.

“Putriku, hendaknya seorang gadis menceburkan diri ke laut sebagai pengorbanan untuk mengatasi kesulitan ini,” sang ibunda berkata lirih.

Putri tersentak dan terbangun dari tidurnya. Ia segera menemui ayahnya dan bercerita tentang petunjuk lewat mimpinya. Ternyata hal serupa dialami oleh Raja. Maka, keesokan harinya Raja mengumpulkan seluruh rakyatnya.

“Rakyatku, negeri ini akan terbebas dari kesulitan apabila ada seorang gadis yang mau menceburkan diri ke laut sebagai pengorbanan,” seru Raja. Keheningan mencekam. Beberapa saat berlalu tak seorang pun yang mengajukan diri. Dalam keheningan, tiba-tiba Sang Putri segera mengajukan diri.

“Ayahanda, biar Ananda yang melakukannya,” pinta Putri Kemarau.

Raja dan seluruh rakyat sangat terkejut dengan keberanian Putri Kemarau. Dengan berat hati Raja mengabulkan niat tulus Putri Kemarau. Akhirnya Putri pun terjun ke laut diiringi derai air mata haru dan pilu.

Seluruh rakyat tertunduk lesu dan bersujud atas keikhlasan pengorbanan Putri Kemarau. Tidak lama kemudian langit terlihat mendung, petir menyambar, dan hujan turun dengan derasnya. Raja dan seluruh rakyat bergegas pulang. Rasa lelah membuat Raja tertidur pulas. Dalam tidurnya Raja mendengar suara lirih di telinganya. “Kembalilah ke tebing laut, Putri menunggumu!” Sebuah pesan membuatnya terperanjat. Raja bergegas kembali ke tebing. Alangkah bahagia bercampur tidak percaya ketika dilihatnya Putri Kemarau berdiri di atas sebuah karang.

“Tuhan Yang Maha Kuasa, terima kasih telah menyelamatkan Putriku,” ucap Raja. Raja menitahkan pengawal untuk menjemput Putri Kemarau. Selanjutnya Raja menyerahkan tahta kepada Putri Kemarau.

Negeri dan rakyat hidup sejahtera di bawah titah Putri Kemarau yang arif dan bijaksana. [Eva De]