Besok, Rabu (27/6/2018), merupakan hari bersejarah bagi warga Kota Bengkulu. Ratusan ribu warga yang memiliki hak pilih akan diberikan kesempatan untuk menentukan arah dan perjalanan ibu kota Provinsi Bengkulu ini dalam kurun waktu lima tahun mendatang.

Islam sendiri mengajarkan, sebagaimana menurut Al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, pemimpin harus dipilih dari orang yang bersedia untuk meneruskan misi kenabian di muka bumi agar dapat memelihara agama dan menjaga keteraturan masyarakat.

Jadi bagi Islam, memilih pemimpin jangan berdasarkan kesukuan, jangan berdasarkan ras, jangan berdasarkan hubungan kekerabatan, jangan berdasarkan hubungan kekeluargaan, jangan karena tampilan fisik tampan atau cantik, apalagi karena uang. Islam mengajarkan memilih pemimpin harus kepada keyakinan bahwa pilihannya akan membuat perbaikan nyata dalam kehidupan beragama dan bernegara.

Sebab, setiap pilihan akan dipertanggungjawabkan secara moral di hadapan Allah subḥānahu wa ta’alā. Hal ini yang mendasari Rasulullah shallahu’alaihi wasallam mengingatkan kepada umatnya agar memilih pemimpin yang memiliki kepekaan dan perhatian besar kepada rakyat, misalnya dia yang bersedia untuk menjenguk warga yang sakit dan mengantarkannya berobat hingga sembuh.

Pemimpin itu harus rela mengorbankan kepentingan dirinya demi kemaslahan umat. Misalnya dia yang bersedia memangkas semua anggaran keperluan rutin pejabat dan mengalokasikannya untuk pembangunan jalan mulus dan lebar, lengkap dengan trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki.

Pemimpin itu harus memiliki sifat alimun atau pengetahuan dan kemampuan untuk sekuat tenaga mensejahterakan rakyatnya, meski dengan sumber daya yang terbatas. Misalnya dia yang bersedia memperjuangkan dengan konsisten bantuan modal usaha Satu Miliar Satu Kelurahan (Samisake). Dia akan terus berjuang agar program ini terealisasi dan terus memberikan manfaat kepada warga yang menganggur, meski dewan dan politisi-politisi berpikiran sempit menolaknya.

Pemimpin itu menurut Alquran haruslah orang yang rajin menegakkan salat dan khusyuk dalam salatnya itu. Sebab, sebagai tiang agama, salat merupakan cerminan kepribadiannya. Orang yang khusyuk dalam salatnya tidak akan korup, nepotis dan kolutif. Dia yakin bahwa Allah yang akan mencukupi rezekinya dan tidak akan membiarkan sesuatu yang haram masuk ke dalam perutnya dan keluarganya.

Tak hanya rajin salat, pemimpin juga harus orang yang gemar memakmurkan masjid dengan salat berjamaah. Ia akan melakukan cara apapun agar rakyat bersedia memenuhi masjid. Dengan salat berjamaah ini dia berusaha untuk mengetahui keadaan rakyat yang sebenarnya dan merumuskan solusi untuk memecahkan permasalahan tersebut.

Singkatnya, pemimpin harus orang yang bisa memberikan kebahagiaan kepada rakyatnya, lahir dan batin. Orang yang beragama niscaya akan menyesal di akhirat bila nanti salah memilih pemimpin, apalagi yang mendatangkan mudarat bagi agama dan kehidupan warga masyarakat.

Sebab, ketika selesai dipilih, pemimpin itu wajib ditaati. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat An Nisa’ ayat 59. Selain itu, pemimpin itu juga akan menjadi cerminan rakyat yang memilihnya. Untuk itu, mari memilih pemimpin karena Allah. Wallahu a’lam bisshawab.

Muammar, Pimpinan Redaksi Pedoman Bengkulu