Ketemu, kangenan sama pacar, orang tua, teman sejawat atau ketemu Sang Idola selanjutnya mencium. Hal ini kini sudah mendunia, termasuk di Indonesia hingga ke Provinsi Bengkulu.

Pertanyaannya apakah itu merupakan tradisi atau budaya? Sejak kapan aksi tersebut mulai digiatkan? Ternyata mencium sudah dilakukan manusia sejak zaman primitif.

Menurut ahli kimia, itu terjadi saat garam masih sulit didapat, manusia-manusia gua saling menjilat pipi temannya, untuk mendapat garam yang melekat di sana.

Aksi cium-mencium akhirnya berkembang di barat. Dikalangan orang Yunani kuno dan Romawi, suami isteri berciuman, begitu juga dengan teman-teman, laki dan perempuan.

Kemudian Santu paulus menganjurkan cium perdamaian. Seperti dilakukan Judas, mencium tapi menikam dari belakang. Ciuman pengkhianatan dan para Mafia mengenal cium kematian.

Ketika Presiden Amerika Serikat (AS), Carter dilantik, hujanan ciuman para wanita didapatinya sebagai ucapan selamat. Orang AS Utara menyebutkan, ciuman semacam itu merupakan tradisi orang AS Selatan. Karena Orang AS Selatan, itu kebiasaan AS Utara yang menular ke AS Selatan. Nah…..!

Kini Epidemi cium-mencium itu sudah mendunia. Kedua pipi hingga adu bibirpun direlakan (Kayak Ikan Cupang) . Ini merupakan “ciuman sosial”. Pendatang baru yang tak tahu akan tradisi ini, tentunya akan tersipu-sipu bahkan serangan jantung saat mendapatkan ciuman bibir. Takut ketularan kuman. Apalagi dilakukan di tempat sepi, tentunya ‘Mr Gawat’ akan mengerayangi.

Safe dan Seni

Seorang pemuka sosial di Los Angeles, Betsy Bloomingdale menyatakan, “Suatu ketika saya mencium seseorang dan menyesal. Soalnya kita dianggap tidak sopan kalau mencium seseorang.

Terkadang kita serba salah, tidak tahu apakah harus mencium atau tidak. Biasanya kita mencium saja supaya safe”, kata Betsy.

Di Perancis, aksi cium mencium itu sudah lama dikembangkan menjadi aksi seni sosial. Tidak diketahui secara pasti kapan mesti mencium dan kapan tidak. Ciuman di kedua belah pipi (Ciuman dobel) rutin dilakukan orang Perancis di kesempatan istimewa, atau kesempatan biasa. Ciuman dilakukan tiga kali. Terkadang seserang harus diam dan pasrah hingga si pencium berhenti mencium.

Orang Inggris juga melakukan aksi cium-mencium, hanya saja mereka menjauhkan aksi tersebut dilakukan di muka umum, seperti kebanyakan yang terjadi di Asia yang menganggap tradisi yang tidak sehat dan sopan.

Ironisnya ulah ini, setiap orang yang mencium kita, pastinya kita akan menciumnya balik. Bila tidak kita akan dianggap sok. Menurut Sosiolog Mursy Davis dari University of California, cium sosial yang mewabah itu merupakan bagian dari inflasi umum pada isyarat keintiman. “Orang yang biasanya cukup kita peluk, kita cium, orang yang biasa kita cukup jabat tangannya, kita peluk dan orang yang biasanya cukup kita angguki, kita jabat tangannya
Konon cium sosial banyak mendapat ilham dari show business.

Lucunya, sebagian orang beranggapan, ciuman sosial itu tidak buruk. Tapi bila dipikirkan dengan akal sehat memang agak aneh. Ciuman sosial yang yang boros, memang bisa menyebabkan inflasi pernyataan kasih sayang, selain takut ketularan flu. Aksi itu dikatakan tidak merusak kebudayaan secara permanen. [Cik Ben]