Suratmi dan kebunnya di Jalan Mayjen Sutoyo RT 19 RW 06 kelurahan Tanah Patah kota Bengkulu.

Alih fungsi lahan kian hari semakin marak dilakukan. Khususnya pada masyarakat perkotaan, alih lahan itu dilakukan guna memenuhi kebutuhan akan lokasi hunian maupun lokasi usaha yang dekat dengan segala akses perkotaan dan beragam hal yang menyangkut kebutuhan dalam rumah tangga.

Harga jual-beli tanah diperkotaan yang semakin hari semakin mahal memicu masyarakat perkotaan untuk menjual sebagian lahannya kepada orang lain atau kepada pengembang perumahan.

Jumlah penduduk perkotaan yang semakin hari semakin padat menjadi alasan membuat ruang perkotaan semakin sempit.

Namun berbeda dengan masyarakat yang tinggal disekitaran Jalan Mayjen Sutoyo 6 RT 19 RW 06 kelurahan Tanah Patah kota Bengkulu.

Beberapa masyarakat yang tinggal disekitar lahan gambut tersebut rata-rata memiliki lahan seluas 2000 hingga 5000 meter persegi dengan memanfaatkan lahan tersebut mereka menanam beragam jenis varietas sayur-sayuran organik dengan menggunakan pupuk dari kotoran ayam.

Suratmi (41), warga setempat, mengatakan, ia secara mandiri mulai menanam sayuran organiknya pada tahun 2004 yang lalu dengan lahan yang dia miliki sendiri seluas 2.000 meter persegi. Ia mencoba menanam bayam hijau dan bayam merah, kangkung dan sawi.

Menurutnya, menjadi petani sayur ia dapat meringankan beban yang ditanggung suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan.

“Kangkung dan bayam ini panennya 3 mingguan atau 21 hari. Kalau sawi membutuhkan waktu lebih lama sampai 1 bulan karena bibitnya harus disemai terlebih dahulu,” katanya, Rabu (30/5/2018).

Adapun harga perikatnya ia jual kepada pembeli yang datang kepadanya. Bayam merah seharga Rp1.500, bayam hijau Rp1.000, kangkung Rp1.000 dan sawi Rp1.700 per ikatnya.

Adapun kendala utama yang dihadapi petani sayuran organik di kelurahan Tanah Patah ini adalah tersumbatnya siring atau drainase karena sampah terutama dimusim hujan.

Air yang tergenang di areal perkebunan sayur ini akan menyebabkan sayuran rusak dan cepat membusuk.

Suratmi berharap kedepanya Pemerintah Kota selanjutnya mampu melihat potensi dan memberikan pengarahan terkait pemanfaatan lahan gambut sebagai lahan sayuran organik.

Selanjutnya dapat melihat banjir sebagai kendala dalam mengerakan perekonomian masyarakat perkotaan.

Disamping itu, warga juga berharap adanya pembinaan dan modal untuk peningkatan pemanfaatan lahan gambut menjadi lahan tanaman organik seutuhnya khususnya agar tercukupnya pemenuhan kebutuhan akan konsumsi sayur sehat non kimiawi pada masyarakat perkotaan dan sebagai alternatif ruang terbuka hijau untuk masyarakat perkotaan.

Agung Broto, Kontributor Pedoman Bengkulu