Ilustrasi Pemilihan. Foto Chaideer Mahyuddin.

Tinggal sepekan lagi, tepatnya tanggal 27 Juni 2018, warga Kota Bengkulu akan menggunakan hak suaranya guna menentukan nasib kota terbesar kedua di pantai barat Pulau Sumatera setelah Kota Padang ini dalam Pemilihan Walikota (Pilwakot).

Dengan hak pilih tersebut, nasib kota yang menjadi tempat pengasingan Bung Karno dalam kurun tahun 1939-1942 ini akan ditentukan, apakah akan semakin maju ke depan, ataukah akan mundur ke belakang.

Warga Kota Bengkulu tentu masih memiliki ingatan yang segar ketika menggunakan hak pilihnya pada akhir tahun 2012 silam. Saat itu, ketika warga menjatuhkan hak pilihnya kepada Helmi Hasan sebagai walikota, warga sepenuhnya sadar akan perubahan yang akan menjelang.

Warga tahu, ketika memilih Helmi Hasan, itu artinya pilihan jatuh kepada sosok yang ingin mengabdikan kekayaan Kota Bengkulu atau APBD untuk rakyat. Sebab, sebelum Helmi Hasan berkuasa, banyak jalan rusak dan sempit yang mengancam nyawa dan membuat perekonomian mandeg.

Sebelum Helmi Hasan berkuasa, warga sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang ramah dan berkualitas. Sebelum Helmi, masih banyak anak yang putus sekolah dan warga mengalami kesulitan mengakses pinjaman modal untuk membuka usaha.

Ketika warga Kota Bengkulu memutuskan untuk memilih Helmi Hasan lima tahun silam, itu artinya warga secara sadar ingin jalan-jalan menjadi lebar dan mulus agar ekonomi bagus.

Ketika saat itu warga memilih Helmi Hasan, artinya warga secara sadar ingin mendapatkan pelayanan kesehatan yang ramah dan berkualitas, tidak ingin ada anak yang putus sekolah, dan ingin dimudahkan untuk mengakses pinjaman modal guna membuka usaha.

Sekarang penentuan nasib itu kembali terulang. Warga Kota Bengkulu memiliki kekuasaan penuh menentukan siapa pemimpinnya. Apakah memilih orang yang hanya berhasrat menjadi raja kecil yang dipuja di kotanya dengan menikmati segala fasilitas mewah, ataukah memilih orang yang bersedia banyak meninggalkan Bengkulu agar tanah kelahiran Fatmawati Sukarno ini dikenal oleh dunia luar dan melakukan lobi ke Pemerintah Pusat sehingga banyak anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan.

Warga kota memiliki hak penuh apakah akan memilih orang yang pandai bersilat lidah, pandai mengobral mimpi dan janji, pandai memutarbalikkan fakta, ataukah memilih orang yang memang telah bekerja nyata dan memiliki kepedulian sejati terhadap sesama.

Ketepatan warga dalam memilih ini sedemikian penting mengingat bahwa Bengkulu merupakan pusat administrasi di Provinsi Bengkulu. Bengkulu juga merupakan kota dengan penduduk terbanyak di Provinsi Bengkulu. Bengkulu merupakan kota paling bersejarah dan paling strategis untuk menopang kemakmuran dan kesejahteraan warga kabupaten di sekitarnya.

Kami yakin warga Kota Bengkulu akan memastikan bahwa suara mereka tidak sia-sia dengan mengawal Pilwakot tahun 2018 ini berjalan sesuai harapan, jauh dari politik uang dan kecurangan. Semoga semua warga kota dapat menggunakan hak suaranya untuk kemajuan Bengkulu, kabupaten-kabupaten tetangga dan Indonesia.