Aroma rerumputan hijau, aroma tanah yang menjadi pijakan setiap langkah, matahari musim panas yang menyengat lebih hebat dari biasanya dan angin yang menderu tak terlalu kencang, tapi cukup menerbangkan anak rambut pria jangkung yang kini berjalan dengan senyuman tipis.

Menyusuri lebih dalam lagi ke hutan kecil yang terbentuk di belakang rumah barunya. Hanya pepohonan mengitari sekitar. Pohon oak, cemara, maple dan momiji. Pohon musim panas yang meneduhkan penglihatan. Sempurna sekali.

Lalu sesuatu mengusik si pria yang masih larut menikmati suasana, ia mengedarkan fokus ke arah sebuah ayunan kecil yang terbentuk di antara dua buah pohon berdahan kuat, tampak di sana seorang gadis yang memakai gaun bewarna pink lembut, dengan mahkota bunga buatan di kepalanya dan senyuman lebar sambil memejamkan mata menyambut terpaan angin musim panas. Membuat pria itu terpaku di tempat, tak terasa langkah kakinya bergerak ke arah si gadis. Kemudian berhenti tepat di depan si gadis yang sudah selesai mengayunkan tubuhnya di ayunan kecil itu, membuka kedua matanya perlahan. Bola mata coklat tua seperti musim panas, membuat pantulan matahari terlihat di sana, bulu mata yang lentik dan indah saat kelopak matanya tertutup dan terbuka. Anggun, cantik, memabukkan.

“Hai, aku penghuni baru di daerah sini,” si pria membungkuk dalam sebagai etika kesopanan yang ditanggapi dengan kerjapan imut di kedua mata si gadis. Terlihat polos sekali.

“Ah, selamat datang.” Terlihat kikuk, berdiri dari duduknya dan ikut membungkuk lebih dari sekali yang mengundang kekehan gemas dari si pria.

“Aku Wu Yi Fan, kau bisa memanggilku Kris,” pria jangkung dengan rambut blondenya yang terlihat bersinar tertimpa panas matahari, membuat si gadis sedikit menyipitkan matanya.

“Aku.. Cho Hae Sun,” menampilkan senyum lebar yang begitu menyilaukan di tengah musim panas tahun ini.

Dan entah sejak kapan Kris menyadari bahwa ia tertarik dengan gadis ini. Kris mencoba untuk menatap yakin pada Hae Sun yang kini memandangnya tanpa berkedip. Sebab debaran itu kembali mendatanginya. Ah tidak, debaran itu mendatangi keduanya. Menggelitik syaraf mereka.

Di balik hembusan angin musim panas yang menebarkan aroma dedaunan kering, mereka saling terpesona. Terkunci pada tatapan yang memabukkan. Terkunci pada satu sama lain. Dan.. sebenarnya… tak pernah ada daun yang tersangkut di atas rambut Hae Sun. Tak ada sama sekali.

“Menunggu lama?” Kris menghampiri Hae Sun yang mengayunkan pelan kakinya di bawah ayunan kecil iu, mendongak penuh antusias ketika mendengar suara berat yang sudah ia rindukan sebab Kris tidak mendatanginya di akhir musim panas. Namun sekarang Kris datang kembali saat dedaunan di atas pohon yang sudah menguning kini terjatuh satu persatu hingga bertambah banyak menutupi rerumputan di bawah pijakan.

“Kau datang!” Hae Sun melonjak dari duduknya di ayunan.

“Ya, tentu saja,” jawab Kris dengan senyumannya yang lebar, kemudian ia mengangkat sebelah alisnya ketika melihat Hae Sun yang tak memakai syal di lehernya, padahal musim gugur didominasi oleh hawa dingin. Kris segera melepas syal yang melilit di lehernya, kemudian menyampirkannya pada Hae Sun yang mengerjap bingung.

“Biar kau tak kedinginan,” jelas Kris dengan senyuman tipis.

Kris tidak pernah tahu bahwa hutan kecil di belakang rumahnya mempunyai berlian sebagus ini, ah bukan berlian dalam artian harfiah. Maksudnya sebuah pemandangan indah seperti berlian di dalam lumpur. Tak dapat dilihat jika dari luar, kecuali jika kau menelusuri hutan ini lebih dalam lagi. Sekiranya itulah yang Kris dan Hae Sun lakukan. Pemandangan indah dengan pohon oak, momiji dan maple yang berguguran dedaunannya yang telah menguning, tersapu terbawa tiupan angin menuju gravitasi bumi yang tak akan bisa dilawan. Indah sekali. Kris baru tau ada pemandangan musim gugur seindah ini, sebab biasanya ia tak terlalu ambil pusing soal musim.

“Wah Kris lihat, daunnya benar-benar kuning.”

“Iya, daun ini bagus.” Kris mengambil beberapa helai dan mengusapnya penuh minat. Kris tau jika ini kekanakkan sekali, tapi Kris merasa benar-benar hidup disaat ia bersama Hae Sun. Disaat mereka melakukan apapun, hanya berdua dan selalu berdua.

“Hmm, aku akan menyimpannya satu. Kris juga harus menyimpannya ya.”

“Tapi di sini sangat banyak pohon momiji, Hae Sun. Kita tak perlu sampai menyimpannya.”

Wajah Hae Sun berubah muram sembari melipat kedua tangan di dada, “Kris benar-benar menyebalkan!” Rajuknya yang membuat Kris tak punya pilihan lain selain menuruti apapun kemauan gadis periang ini.

“Ah, baiklah. Aku akan menyimpannya,” Kris menjawab malas, mengarahkan satu helai daun momiji itu ke saku celananya sebelum tangan Hae Sun tergerak untuk menghentikannya. Kali ini Kris benar-benar tak tahu lagi dimana salahnya.

“Jangan simpan seperti itu,“ Hae Sun mengambil daun momiji dari genggaman Kris dan meletakkannya di telapak tangannya sendiri dengan lembut dan hati-hati. Berbeda sekali dengan Kris yang sebentar lalu ingin menyimpan daun itu tanpa niat,

“Daun saat musim gugur itu rapuh. Tersentuh kasar sedikit saja, maka akan hancur, oleh karena itu kau harus menyimpannya di tempat yang aman.” Saat mengatakan hal itu dengan pandangan lembut pada daun momiji yang seolah-olah adalah sebuah hati yang terbuat dari kaca, Hae Sun benar-benar membuat Kris terdiam seribu bahasa, membuat pria itu hanya mengarahkan fokus pada senyum malaikatnya dan tatapan lembutnya yang mempesona. Kris merasa… semua yang Hae Sun ucapkan seperti…misteri setiap musim yang tak pernah ia mengerti.

Satu pijakkan di anak tangga, Kris cukup terkesima. Wow, tangga ini benar-benar di buat dari kayu jati. Sangat kokoh sekali. Kris terus menaiki satu persatu anak tangga hingga ia bisa berada di dalam rumah pohon yang hanya muat untuk sekitar 4 orang tersebut. Di dalamnya hanya ada satu buah karpet yang menjadi alas duduk, lalu ada beberapa toples di sana. Dan jangan lupakan juga satu diantara 4 toples itu sudah terisi satu buah daun dan satu buah kertas.

“Apa ini?” Kris tertarik untuk mengambil satu buah toples itu, namun Hae Sun dengan segera mencegatnya.

“Jangan, itu adalah daun hijau di saat musim panas yang aku ambil dan surat itu adalah ceritaku. Kau tak boleh membukanya,” Hae Sun memberikan tatapan menyeramkan, namun tak berefek sama sekali pada Kris yang hanya menggeleng lucu. Hae Sun benar-benar kekanakkan.

“Nah, 4 toples itu adalah punyaku. Kalau punyamu sudah aku siapkan.“

Hae Sun bergerak ke arah satu lemari kecil yang hanya setinggi lutut dan mengeluarkan 4 toples lainnya yang sudah berdebu. Sepertinya terlalu lama toples-toples itu di dalam lemari, “Ini untukmu.” Hae Sun tersenyum cerah seolah-olah ia memberikan uang miliaran dolar pada Kris, sedangkan si pria hanya menanggapinya dengan senyuman dan gumaman terimakasih. Sebenarnya Kris tak pernah tertarik dengan toples, daun, kertas atau apapun itu yang terlihat begitu berharga bagi Hae Sun.

“Kau harus menulis kenangan musim panasmu di sini. Singkat saja, pokoknya kenangan yang berarti untukmu. Dan ini adalah daun musim panasmu. Aku menyimpannya satu saat akhir musim panas dimana kau tak datang menemuiku.” Hae Sun memasukkan satu buah daun yang sudah mengering ke dalam satu buah toples yang saat ini sudah resmi menjadi milik Kris, lalu menyodorkan kertas dan pena itu tepat di hadapan Kris.

“Apa harus?” Kris berujar tak yakin, ia rasa ini semua benar-benar membuang waktu.
Hae Sun memberengut dan memajukan bibirnya kesal, saat itulah Kris yakin bahwa ia tidak boleh menentang lagi.

“Ya! jangan coba-coba membaca isinya,” Kris memeluk toplesnya dengan protektif, mengundang tawa lucu dari Hae Sun yang menggeleng beberapa kali.

“Aku tidak mungkin curang, Kris,” katanya cepat-cepat, tapi.. Kris tak sadar bahwa nada suara Hae Sun sedikit melemah.

Hujan di musim gugur adalah yang terbaik bagi Hae Sun, gadis itu memeluk kedua lutut di depan dadanya dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya, ia tersenyum memperhatikan bagaimana curah hujan berjatuhan dari atap rumah pohonnya. Langit sudah kelam tanpa bintang dan bulan, hanya tetesan air dari langit yang menemani. Tapi Hae Sun suka itu.

“Ah, toples itu.” Hae Sun segera terduduk dan mengarahkan tatapannya pada lemari kecil setinggi lutut dimana ia menyimpan toples Kris di sana. Hae Sun segera mengambil kunci cadangan sebab kunci yang asli dibawa Kris, katanya agar Hae Sun tidak curang. Hanya saja Kris tidak tau jika Hae Sun mempunyai satu kunci lagi.

“Maaf, Kris. Aku hanya penasaran.” Hae Sun sedikit terkikik geli saat membayangkan betapa marahnya Kris dengan wajah memberengut jika tau jika dirinya curang. Salahkan saja sifat asli Hae Sun yang super penasaran itu.

Hae Sun memutar kunci di lubang kecil hingga pintu lemari itu terbuka, menampakkan salah satu toples yang terisi dengan sehelai daun musim gugur dan satu buah surat yang tergulung tipis. Perlahan Hae Sun mengambil gulungan itu dan membukanya hati-hati.

‘Pertama kali datang di hutan ini saat musim panas. Aku bertemu dengannya, si putri cantik yang bermain ayunan dengan senyuman cerah. Aku terpesona dan perlahan mulai tertarik padanya. Awalnya hanya sebagai teman, tapi.. aku sadar jika aku menyukainya lebih dari apapun. Perasaan di musim panas yang mengagumkan’

Hae Sun membacanya hingga selesai, menyimpan semua ukiran tulisan dalam benak dan tiba-tiba saja wajah Kris terbayang tanpa izin. Hae Sun tersenyum, tipis sekali nyaris lirih, tanpa sadar setetes liquid mengalir melewati pipinya, membentuk aliran sungai tanpa arus. Hae Sun tidak tau mengapa ia merasa begitu sakit sekali, tepat di hatinya.

“Aku penasaran sedari lama, Hae Sun,” ujarnya mendadak yang mampu membuat Hae Sun sedikit terlonjak, si gadis menoleh pada Kris dengan kerinyitan di pelipis.

“Apa yang membuatmu penasaran, Kris?” tanyanya acuh tak acuh, kembali sibuk dengan gerakkan pena dan tulisan hangul yang sedikit demi sedikit tertoreh di kertas putih dalam pangkuan.

“Tentangmu.. semua tentangmu,” jawab Kris penuh keyakinan, menyingkirkan sebentar toples dan kertas di genggamannya, memperhatikan Hae Sun yang menegang mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang sudah ia duga akan keluar dari kedua belh bibir tipis Kris seiring berjalannya waktu.

“Tentangku?“ Hae Sun mengangkat wajahnya, memfokuskan tatapan pada Kris yag mengangguk membenarkan, “Semua tentangku.. tak begitu penting Kris.” Hae Sun berusaha menampilkan senyumnya yang terlihat lirih, menampik perasaan sesak yang menggerogotinya begtiu dalam dan berusaha terlihat baik-baik saja.

“Tapi bagiku.. semua itu penting.” Kris menggenggam kedua bahu Hae Sun yang membuat si empunya sedikit terkesiap merasakan genggaman yang begitu kuat pada bahunya. Hae Sun berdehem sebentar dan menampik pelan tangan Kris.

“Aku.. hanyalah seseorang seperti musim, Kris. Menjadi matahari di musim panas, lalu menjadi pohon momiji di musim gugur, menjadi pohon sakura di musim semi. Namun.. pada akhirnya aku hanyalah butiran salju di musim dingin.” Perkataan penuh makna dengan terawangan mata ke depan yang begitu khusyuk. Kris.. tak mengerti. Dan.. ia memang tidak mau mengerti apapun. Karena Kris tiba-tiba saja merasakan paru-parunya berubah sesak.

“Hae Sun, kau betah juga ya tinggal di sini.” Satu kalimat lolos dari bibir Kris yang membuat Hae Sun menghentikan pergerakkannya tiba-tiba dengan wajahnya yang perlahan berubah muram. Untungnya saat ini ia sedang membelakangi Kris, jadi pria itu tak akan melihatnya.

“Ya, begitulah.” Hae Sun berusaha menjaga agar suaranya terdengar biasa-biasa saja.
Keheningan tercipta saat tidak ada lagi yang berniat buka suara, hingga akhirnya Hae Sun mendekat dengan dua buah gelas coklat panasnya yang sudah jadi. Memberikan satu gelas bertangkai itu pada Kris yang langsung diterima dengan gumaman terimakasih.

“Ah, hangatnya.” Kris berujar lega ketika coklat panas itu mengaliri kerongkongannya tepat saat Hae Sun sudah menyamankan diri di sampingnya.
Hae Sun ikut menyesap coklat panasnya secara perlahan sebelum berdiri kembali untuk mengambil satu selimut tebal di ujung ruangan dan membentangkannya di tubuh mereka berdua.

“Agar sedikit hangat,” jelas Hae Sun saat tau bahwa Kris menatapnya kebingungan tepat saat selimut itu menutupi tubuh keduanya.

Satu selimut untuk berdua, entah kenapa membuat Kris diam-diam menampilkan senyum lembutnya. Kentara sekali jika di otaknya ia sedang mencoba memainkan drama picisan romantis yang mendebarkan, sebanding dengan apa yang sedang dialaminya sekarang. Ah, kenapa Kris menjadi terlalu berlebihan seperti ini sih?

“Kris.. apa menurutmu perasaan mendebarkan itu adalah cinta?” Satu pertanyaan lirih keluar dari belah bibir Hae Sun yang membuat Kris hampir saja tersedak coklat panas yang baru hendak mengalir ke kerongkongannya. Pria itu terkesiap sembari menatap Hae Sun yang menerawang jauh ke depan, terlihat apa yang baru saja ia ucapkan adalah suatu yang wajar. Hmm sebenarnya itu pertanyaan wajar, tapi bagi Kris itu merupakan pertanyaan tak wajar karena ia sedang mengalaminya saat ini. Dan menjawab pertanyaan Hae Sun sama saja dengan menjawab perasaannya sendiri.

“Kenapa tiba-tiba bertanya tentang hal itu?” Kris mengusapkan kedua tangan di sisi gelas untuk menyibukkan diri walau sedikit, setidaknya ia tak tampak terlalu gugup.

“Aku… hanya penasaran.”

Bohong. Hae Sun menanyakannya karena surat Kris yang ia baca diam-diam waktu itu. Hae Sun hanya sedang memastikan dan berusaha agar semua hal selanjutnya tidak berjalan lebih menakutkan lagi.

“A-ah iya, mungkin saja,” Kris kembali menyesap cokat hangatnya sambil melirik Hae Sun sekilas.

“Mungkin saja…ya,” terdengar begitu lirih. Hae Sun sadar, harusnya ia tak mengeluarkan respon seperti itu. Namun sesuatu di dalam dirinya tiba-tiba merasa begitu sesak.

Hae Sun.. tidak tau mengapa. Apa.. dia mulai masuk ke dalam sebuah perasaan asing yang tak pernah ia sadari?

Saat matahari mulai terbenam dan salju yang turun perlahan mulai berhenti serta sosok Kris yang telah hilang dari pandangan, kini Hae Sun duduk meringkuk di dalam rumah pohon kesayangannya. Menenggelamkan kepala diantara kedua lutut yang terangkat di depan dada, tak beberapa lama bahunya bergetar hebat. Perasaan asing yang terus mendominasi ke dalam perasaannya, membuatnya terlihat begitu lemah tak berdaya, ingin menepis semua rasa itu namun yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dengan sehelai kertas yang baru saja keluar dari toples dengan daun musim gugur di dalamnya. Itu toples musim gugur milik Kris.

‘Musim gugur yang indah. Daun-daun berguguran, berputar-putar terseret angin dengan aroma musim gugur yang menenangkan. Hae Sun.. aku rasa kau seperti dedaunan di musim gugur, terlihat kokoh, namun nyatanya jika disentuh sedikit saja bisa menjadi remuk atau pun hancur. Aku tidak ingin menduga yang tidak-tidak, namun firasatku mengatakan jika kau menyembunyikan sesuatu yang sangat ingin aku hindari dalam hidupku. Oh ya, seiring berjalannya waktu, aku sadar jika aku semakin mencintaimu. Hae Sun.. maukah kau menjadi pacarku? Ah, kapan ya aku bisa mengatakan kalimat itu? Hmm mungkin saat musim semi nanti aku akan mencobanya’

TOK TOK

Kris mengetuk pintu kayu rumah pohon itu yang tertutup rapat, bahkan Kris hampir saja mendobraknya dengan kesal jika Hae Sun tidak segera membukanya dan sekarang telah berada di depannya dengan wajah kusut tanpa senyuman cerah lagi. Kris tidak mengerti semua yang ada pada Hae Sun. Pikiran gadis itu, rencana gadis itu atau apapun yang ia sembuyikan.

“Ada apa?” Satu kalimat dingin terlontar mengalahkan angin musim semi yang sedikit berhembus.

“Ayo keluar sebentar.” Kris menyodorkan sebelah tangan pada Hae Sun yang membuat gadis itu dengan perlahan menyambut tangan Kris, lalu ikut turun ke bawah.

“Aku tidak ingin kita seperti ini.” Kris langsung ke inti pada saat kedua kakinya dan Hae Sun baru saja memijak tanah. Ada nada emosi tertahan di suara Kris yang terdengar frustasi.

“Memangnya kita seperti apa?” Hae Sun menjawab acuh, nadanya datar, pandangannya kosong sampai-sampai Kris takut jika yang ada dihadapannya ini bukanlah Hae Sun, si gadis manis kesukaannya.

“Kau,“ Kris sedikit mengerang, mengacak frustasi rambut blondenya dan melempar Hae Sun dengan tatapan memelasnya yang memprihatinkan, “Aku.. memang tidak tau apa-apa tentangmu, Hae Sun. Tapi kau tidak bisa berbuat seenaknya, kau tiba-tiba masuk ke dalam kehidupanku, membuatku lengah hingga aku tanpa sadar,“ Kris menarik napas sejenak, “mencintaimu Hae Sun. Kau tidak bisa seenaknya meninggalkanku seperti ini.”
Mungkin Kris sedikit dramastis saat ini, namun jika kalian menjadi Kris, mungkin kalian akan melakukan hal yang sama.

“Maaf, Kris, aku.. tidak bisa,” Hae Sun berujar lirih sekali tapi tetap mempertahankan nada datarnya. Membuat Kris semakin bingung tepat saat gadis itu berlari masuk ke dalam rumah pohonnya. Meninggalkan Kris sendirian di sini, memperhatikan punggungnya yang telah menghilang di balik pintu.

Saat akhir musim semi dengan bunga sakura yang semakin mekar setiap saat, Kris memutuskan untuk kembali ke rumah pohon dimana Hae Sun berada. Kris berjalan dalam kesunyian ke hutan kecil yang beberapa hari ini tidak lagi ia masuki sebab Kris sudah kehilangan alasan untuk kembali ke sana. Namun saat ini Kris sudah menemukan alasannya, ia kembali ke sini karena perasaannya. Perasaannya pada Hae Sun yang tak pernah bisa hilang sampai kapanpun. Kris tanpa berpikir lagi segera menaiki tangga dan berhenti tepat di depan pintu kayu yang tertutup rapat.

TOKK TOKK

Ketukkannya terdengar membelah kesunyian hutan yang hanya diisi oleh gemerisik dedaunan. Kris sudah mengetuk sebanyak lebih dari 5 kali, namun pintu itu tidak juga terbuka. Dan entah dorongan darimana, Kris dengan lancang membuka pintu rumah pohon itu yang bagusnya tak terkunci seperti biasa.

“Hae Sun.”

Setelah derit pintu berhenti terdengar, Kris memanggil nama yang selalu indah baginya itu dengan lembut, memanggil beberapa kali diiringi dengan tubuhnya yang semakin masuk ke dalam. Tapi yang Kris lihat hanyalah kehampaan. Tak ada seorang pun. Tak ada apapun. Lalu pandangan Kris terhenti pada toples-toples dengan daun setiap musim yang sudah terbuka tutupnya. Seketika kedua netra Kris melebar saat sadar bahwa itu adalah toples musim panas dan musim gugurnya beberapa bulan yang lalu. Kris mendekat dan mulai mengumpulkan setiap kertas yang berserakkan di lantai kayu itu.

Namun.. diantara semuanya, Kris menemukan empat buah kertas yang dapat ia pastikan bahwa itu bukanlah tulisan tangannya. Itu.. tulisan tangan Hae Sun.

‘Awal musim panas ini aku bertemu dengannya, seorang pria tampan yang mampu melihatku disaat tak ada seorangpun yang dapat melihat wujudku. Aku.. senang saat bersamanya, ia baik dan wangi tubuhnya seperti musim panas’

‘Musim gugur yang menyenangkan dengan pepohonan yang menggugurkan daunnya, aku tidak tau bahwa merasa hidup lagi adalah seperti ini. Apalagi pria itu selalu menemaniku menjalankan setiap musim. Ah, indah sekali musim gugur tahun ini. Tapi ada yang mengusikku beberapa waktu ini, seperti perasaan mendebarkan saat di dekat Kris yang aku tidak tau apa artinya’

‘Aku.. tidak ingin menceritakan tentang bagaimana musim dingin tahun ini. Aku akui jika ini adalah musim terburuk bagiku. Harusnya aku senang saat tahu Kris menyukaiku karena aku membaca surat musim gugur nya diam-diam. Tapi, tidak bisa. Aku dan Kris berbeda. Kami.. tidak mungkin bersama. Kris maafkan aku, jawabanku untuk ajakkan pacaranmu di surat musim gugur itu adalah.. aku.. menolakmu. Meski aku.. mulai menyadari jika… aku juga mencintaimu.’

‘Akhirnya tiba juga di musim semi dan aku tidak pernah lagi membawa Kris ke rumah pohon untuk membuat surat seperti ini lagi. Biarlah, aku juga tak ingin membuat perasaanku semakin jatuh terlalu dalam pada pria itu. Namun satu yang harus Kris tahu.. aku masih mencintainya hingga sekarang meski musim terus berganti. Kris, aku pernah mengatakan padamu bahwa aku seperti salju kan? Yah, aku.. memang salju yang diturunkan dengan indah, namun pada akhirnya mencair dan semua keindahan itu akan lenyap dalam kedipan mata. Aku ini seperti musim, kris. Berganti terus menerus, namun tak akan pernah menjadi sesuatu yang nyata untuk dikenang. Aku.. sebentar lagi menghilang Kris, sebab duniaku bukan di sini. Aku hanyalah arwah penasaran yang dibunuh di hutan ini saat musim panas tahun lalu, namun Tuhan memberiku kesempatan untuk menikmati bagaimana kehidupan di bumi selama setahun ini, tapi aku tidak menyangka bertemu denganmu dan mencintaimu. Kris, musim dingin untuk membekukan aku yang bagai salju ini sudah berakhir, kini saatnya untuk musim panas dan itu berarti aku juga akan ikut mencair seperti salju , aku.. akan menghilang dari bumi ini. Tapi, aku harap… kau tidak akan pernah melupakanku. Aku mencintaimu, Wu Yi Fan. Kau harus tau bahwa aku susah payah mengingat nama aslimu itu ^_^’

Aroma rerumputan hijau, aroma tanah yang menjadi pijakkan setiap langkah, matahari musim panas yang menyengat lebih hebat dari biasanya dan angin yang menderu tak terlalu kencang, tapi cukup menerbangkan anak rambut pria jangkung yang kini berjalan dengan senyuman tipis.

Menyusuri lebih dalam lagi ke hutan kecil yang terbentuk di belakang rumahnya.
Hanya pepohonan mengitari sekitar. Pohon oak, cemara, maple dan momiji. Pohon musim panas yang meneduhkan penglihatan. Sempurna sekali.

Lalu sesuatu mengusik si pria yang masih larut menikmati suasana, ia mengedarkan fokus ke arah sebuah ayunan kecil yang terbentuk di antara dua buah pohon berdahan kuat, tapi.. kali ini.. tak ada siapapun di sana. Ayunan itu sudah berkarat tanpa ada yang memilikinya. Perlahan.. senyum si pria berubah lirih.

“Hae Sun.. aku juga mencintaimu. Jika bisa, tolong hadirlah di mimpiku. Meskipun tak nyata, setidaknya aku bisa melihatmu lagi.”

Tania Syafutri, Komunitas Menulis Bengkulu