Ilustrasi

Hawa dingin berhembus cukup kencang menembus pori-pori kulit walau satu coat tebal bewarna coklat muda sudah membungkus tubuh tanpa celah, seorang gadis dengan rambut panjang sebahunya berjalan dalam kegelapan malam yang hanya ditemani lampu jalanan yang temaram, melangkah dalam kesunyian dengan otak yang sibuk berpikir tanpa henti.

Kejadian beberapa menit yang lalu masih terekam jelas dalam benak, melihat orang yang dicintainya selingkuh bukanlah tontonan yang bagus. Sedih, kecewa, marah menjadi satu dalam kalbu, menghentak kuat ke ulu hati hingga menimbulkan rasa perih yang berkepanjangan. Langkahnya terus berlanjut mengantarkan ke sebuah taman yang sudah begitu sepi, menatap kosong pada bangku panjang dan memutuskan untuk mendudukkan diri walau sebentar.

Tubuh sedikit terhempas ke alas bangku panjang yang terbuat dari kayu, menyandarkan diri di sandarannya yang tampak sedikit rapuh, menunduk memperhatikan rumputan hijau yang tertimpa sinar lampu taman. Ingin berhenti memikirkan, tapi tetap tak bisa. Sudah menahan air mata, tapi tangisan itu pun akhirnya keluar juga, membasahi pipinya yang kering dengan begitu hebatnya, isakan menyayat hati sesekali terdengar. Ia sudah berusaha untuk tegar, tapi apa daya ia punya hati yang serapuh kaca.

“Berhentilah menangis.”

Rasa hangat menjalar ke pipi hingga membuatnya sedikit tersentak dalam lamunan, mengangkat kepala perlahan untuk mendapati seorang pria dengan coat tebal beserta syal yang melilit leher, kepalanya tertutupi topi yang menyebabkan matanya tak terlalu jelas untuk dilihat.

“Minumlah agar sedikit tenang.”

Hampir saja ia lupa jika yang menyebabkan rasa hangat itu adalah satu cup kopi yang ditempelkan di pipinya. Si gadis sedikit merengut heran mendapati perlakuan dari orang yang bahkan tak ia kenal.

“Kenapa aku harus mendengarkanmu?” Tanyanya masih membiarkan hangat kopi itu menempel di pipinya yang berisi, menatap tajam pada si pria yang hanya tampak santai dan tetap berdiri di depannya, menatap sekilas ke langit malam dengan hembusan napas berat sebelum merosotkan bahunya yang tegap.

“Karena aku tau kau butuh seseorang untuk itu.” Jawabnya tanpa keraguan, menunduk pada gadis yang masih terduduk di atas bangku sembari memberikannya sebuah senyuman kecil yang menawan.

Tampan. Walaupun wajahnya tak terlalu jelas, tapi dari senyumannya saja sudah membuktikan bahwa pria ini benar-benar tampan.

Si gadis menyerah untuk berdebat tepat setelah dia mengambil kopi dalam genggaman si pria, menyesapnya sedikit hingga menimbulkan rasa hangat yang mengalir dari kerongkongan sampai masuk ke dalam hatinya yang membeku.

“Terimakasih.” Ujar si gadis tepat ketika pria itu mendudukkan diri di sampingnya.

“Hmm, namaku Kevin.” Kevin memutar pandangan pada gadis di sampingnya yang menampilkan seulas senyum simpul.

“Aku Vika.” Sodoran sebelah tangan untuk berjabat singkat.

Kembali dalam keheningan setelah perkenalan pendek, Vika kembali sibuk menyesap kopi dalam cup tinggi itu, sedangkan Kevin terlihat mendongak menatap langit malam yang diisi oleh beberapa bintang. Satu sesapan lagi dari bibir tipis cup yang terus menggoda, Vika tersenyum dibalik cup kopinya, menelan cairan itu dan membiarkannya mengalir ke kerongkongan, meninggalkan busa tipis di atas kurva bibirnya.

“Latte memang yang terbaik.” Gumamnya tanpa sadar seraya memperhatikan lambaian dedaunan di atas pohon akibat angin malam yang cukup kencang. Untungnya Vika memakai coatnya malam ini.

“Kau suka Latte?” Pertanyaan tiba-tiba dari Kevin yang sedari tadi hanya terdiam, namun sedikit tertarik saat mendengar gumaman Vika yang terlampau pelan hampir terbawa angin.

Tolehan kepala singkat, “Hmm, aku sangat suka.”

“Pantas saja.” Kevin terkekeh yang membuat Vika tertarik untuk melempar tatapan penuh kebingungan.

“Apanya?” Tanyanya dalam rasa penasaran yang membuat kata itu keluar begitu saja.

“Latte, orang yang suka meminum kopi ini adalah orang yang sigap tapi sering bingung untuk mengambil keputusan, sebenarnya orang yang suka latte adalah pemikir yang baik, dia hanya butuh diyakinkan dan diberi kepercayaan.” Penjelasan panjang lebar yang membuat Vika sedikit membolakan mata bulan sabitnya, menoleh dalam ketertarikan dari setiap kalimat yang baru saja terdengar, menghadapkan semua atensi pada Kevin yang tampak santai di sampingnya.

“Kau tahu hal semacam itu?” Pertanyaan yang keluar secepat otaknya memerintahkan.

Kevin menampilkan senyum rupawan itu lagi, menganggukkan kepala beberapa kali, “Iya, aku suka dengan semua filosofi tentang kopi” jawabnya dengan suara berat yang menenangkan untuk membelah kesunyian.

“Wah, keren!” Vika meletakkan cup kopi di samping tubuhnya untuk membiarkan tangannya bergerak refleks menepuk beberapa kali, kilatan matanya tampak sangat kagum akan eksistensi Kevin yang begitu menghiburnya disela kesedihan hati.

“Aku tahu itu” tawa yang tak terlalu keras, tapi tidak juga terdengar pelan meruntuhkan suasana canggung yang beberapa waktu lalu sempat mendatangi mereka.

Vika mengulas senyum tepat saat kedua tangannya kembali memeluk cup kopi yang sempat terlupakan, membawa bibir gelas itu ke mulutnya sendiri untuk merasakan lagi cairan kopi yang bercampur susu itu. Teringat kembali penjelasan tentang latte barusan yang membuat lidahnya gatal untuk bertanya.

“Apa.. aku orangnya memang seperti itu ya?”

Kevin menoleh saat mendengar pertanyaan yang keluar, “Ya, aku tau kau bingung dan tak bisa mengambil keputusan saat tahu kekasihmu berselingkuh. Kau ingin melupakannya, tapi kau tak sanggup. Kurang tegas itulah sikapmu.”

Tidak ada yang aneh dari kata-kata itu, tapi mampu membuat Vika menatap Kevin dengan pandangan bingung dan kedua alis yang menukik tajam. Ada yang terdengar ganjal.

“Kau.. tahu aku baru saja melihat pacarku berselingkuh?” Ini benar-benar aneh. Mereka bahkan baru berkenalan belum sampai satu jam, tapi Kevin seolah bersikap ia tahu semuanya.

Kepala pria itu berputar ke arah Vika yang menatapnya tanpa berkedip, menunggu penjelasan masuk akal yang bisa menjawab semua kebingungannya.

Tapi yang Vika dapatkan adalah Kevin yang semakin mendekatkan wajah kepadanya dengan sebelah tangan terangkat naik menyentuh pipinya, lalu jari-jari panjangnya mengusap pelan kurva bagian atas bibirnya. Sengatan listrik langsung menghampiri Vika dalam sekejap dengan jantung yang berdetak diluar batas normal.

“Ada busa kopi di bibirmu” ujar Kevin singkat, tak menyadari bahwa Vika sudah mematung seperti orang idiot dengan kedua tangan yang memeluk cup kopinya begitu kuat. Tadi itu posisi yang terlalu dekat hingga membuat jantungnya seakan mau meledak.

“Ah, sudah terlalu larut. Aku pulang dulu.” Kevin berdiri dari duduknya sembari merenggangkan otot-ototnya beberapa kali, menoleh pada Vika yang masih mematung untuk meninggalkan sebuah senyuman menawan hati.

Kevin mulai melangkah pergi, tapi sebelum itu sebelah tangannya kembali terangkat naik untuk mengusap surai lembut dari gadis yang tak mengedipkan matanya walau hanya sekali.

“Pulanglah, ini sudah malam.”

Kevin pergi jauh hingga punggungnya menghilang di persimpangan jalan, maka saat itulah Vika kembali mengedipkan matanya yang terbuka lebar, genggaman dalam cup kopinya semakin kuat yang membuat cairan pahit dan manis itu hampir saja tumpah.

Degupan di jantung dan kebingungan yang menyertai tak juga menghilang.

“Dia.. tidak menjawab pertanyaanku.”

Satu buah cup kopi tergeletak manis di atas meja kantornya setelah Vika kembali dari makan siangnya di kantin kantor lantai satu. Dahinya mengerinyit pertanda keheranan saat ia mengambil perlahan cup kopi itu untuk meneliti setiap sudutnya. Menatap sekeliling ruangan dengan bertanya-tanya siapa kira nya yang memberikannya kopi di siang hari ini. Tapi tak ada satu pun pertanda dan Vika tidak ingin menebak, jadi ia melangkah ke tempat resepsionis kantor.

“Apa ada yang masuk ke ruanganku?” Tanyanya langsung ke inti pada resepsionis kantor berambut pendek dengan senyuman ramahnya, mengangguk singkat.

“Ya, dia karyawan baru di sini, baru masuk sekitar satu bulan yang lalu dan bekerja di lantai sembilan. Dia mengatakan padaku bahwa kau memesan satu cup triple espresso untuk diantar ke ruanganmu.” Jawaban yang terdengar lancar dengan nada khas, namun begitu membuat Vika tercengang di tempat. Ia tak memesan kopi apapun untuk di antar ke ruangannya.

“Siapa nama orang itu?” Dalam benaknya hanya satu nama yang terpikir. Apa mungkin.. Kevin?

“Namanya Aldi.”

Kerutan di pelipis itu menjadi berkali lipat, berpikir keras dalam kebingungan untuk menemukan bahwa Vika tak pernah mengenal satu pun orang yang bernama Aldi.

“Aldi?” Gumamnya pada diri sendiri, mata bergerak liar ke segala arah dalam mencari satu petunjuk terang. Tapi Vika benar-benar tak tahu nama itu dalam sejarah hidupnya.

“Ah, baiklah. Aku akan kembali ke ruanganku.” Meninggalkan senyum tipis yang dibalas senyum lebar oleh resepsionis cantik itu sebelum Vika kembali merajut langkah ke ruangannya, membuka pintu kayu jati tersebut dan memijak lantai berubin hingga meninggalkan derap langkah yang elegan.

Tapi perhatiannya kembali terhenti pada cup kopi itu, ah bukan, maksudnya sebuah kertas yang terletak di sebelah cup itu.

Hai, kau bekerja keras hari ini, aku salut karena kau bisa membedakan mana masalah pekerjaan dan pribadi hingga tidak membawa kesedihanmu karena masalah percintaanmu itu ke kantor. Kau bersikap profesional. Jadi hari ini aku memberikanmu triple espresso yang artinya kau adalah orang yang mengejar atau mengerjakan suatu hal dengan sepenuh hati, kau tidak akan berhenti untuk mendapatkan hasil terbaik. Kau hebat.’

Harusnya ini semua menakutkan, tapi entah mengapa terasa begitu hangat merasuk ke dalam hati saat membaca pesan yang tertulis. Senyum terulas manis dengan mata berkedip beberapa kali untuk tak menyerah membaca lagi dan lagi isi surat kecil itu. Namun seketika senyum Vika menyurut, otaknya berpikir keras. Apa benar bukan Kevin orang ini? Apa benar namanya Aldi seperti yang ia tanyakan pada resepsionis tadi?

Pertanyaan begitu banyak berputar dalam benak, tapi Vika hanya mengendikkan bahu mencoba untuk acuh sambil menyesap sedikit triple espresso dalam genggamannya.

Seperti biasa, kopi memang selalu bisa membuat perasaannya tenang dan nyaman.

Jam pulang sudah tiba dan ini adalah waktunya bagi vika untuk kembali ke rumahnya yang nyaman, biasanya ia akan langsung turun ke lantai satu dan melajukan mobilnya tak sabaran agar tiba lebih cepat di rumah. Namun kali ini langkahnya hanya sampai di depan lift, berpikir dalam kebimbangan dan rasa penasaran yang terus menghantui walau ia berusaha mencoba untuk tak peduli. Vika penasaran siapa itu Aldi.

Kaki jenjang dengan sepatu bertumit tinggi itu sudah melangkah masuk ke dalam lift, ragu-ragu berniat menekan tombol untuk menuju lantai sembilan agar rasa penasarannya bisa terjawab, tapi keraguan diam-diam ikut menyusup dalam pikirannya. Dan keputusan final yang Vika buat adalah mencoba untuk tak peduli tepat saat tangannya menekan tombol menuju lantai satu, yang mana artinya ia akan segera pulang tanpa berniat ke tempat lain dulu.

Vika penasaran, tapi ia juga tidak ingin ambil pusing. Penggemar rahasia bukanlah sesuatu yang harus ia cari dengan susah payah, mungkin jika orang itu sudah lelah, pasti ia akan menghampirinya.

Satu buah cup tergeletak kembali di atas meja kaca dalam ruangannya, kali ini senyum Vika terkembang manis dan ia tak sabaran langsung mengambil cup tersebut dan membaca surat kecil yang terletak di samping cup kopi itu seperti biasa. Ya, seperti biasa, karena ini sudah tiga kali nya Vika mendapat kopi gratis di atas meja nya tepat setelah ia kembali dari makan siang.

‘Hari ini adalah iced coffee, artinya kau adalah kepribadian yang serius. Aku salut saat kau memimpin presentasi pagi ini. Kau terlihat begitu mengagumkan. –Dari Penggemar Rahasia-‘

Kali ini iced coffee yang menyegarkan ketika mengalir ke kerongkongan, disela senyuman Vika terus menyesap minuman itu lewat pipet panjang. Ia jadi semakin penasaran setiap harinya siapa gerangan penggemar rahasia atau yang bernama Aldi itu. Vika penasaran hingga ia tidak bisa menampung semuanya dalam rasa ketidakpedulian. Karena sejak satu persatu kopi yang terletak di atas mejanya, maka Vika semakin peduli dan menjadi ingin tahu.

“Penggemar rahasia yang mengagumkan. Dia bahkan tau apapun yang aku lakukan.”

Langkah kaki anggun dengan wajah menawan masuk ke dalam Cafe yang tak terlalu ramai, Vika berhenti melangkah saat tiba di depan seorang pelayan Cafe yang langsung menyambutnya dengan senyuman manis. Sebenarnya ini adalah Cafe dekat kantornya yang beberapa kali pernah Vika kunjungi.

“Anda ingin memesan?”

Berpikir sebentar sebelum Vika menyebutkan pesanannnya kali ini, “Satu cup macchiato.” Vika mengatakan dengan yakin, ia hanya penasaran saja dengan rasa kopi satu itu sebab Vika belum pernah membelinya. Ini pertama kalinya.

“Ok, tunggu sebentar.”

Langkah kaki lain terdengar dan tepat berdiri di sampingnya, membuat atensi Vika sedikit teralihkan untuk melirik ke samping dimana ia menemukan seorang pria dengan tubuh tinggi, memakai masker dan topi di atas kepalanya.

Tatapan aneh Vika layangkan, namun ia sadar mungkin saja pria itu sedang terkena flu hingga harus berpakaian nyaris seperti teroris itu.

“Satu cup americano.” Suara nya berat, itu yang bisa Vika simpulkan saat orang itu menyebut pesanannya pada pelayan yang tentu saja berbeda dengan pelayan yang sedang menyiapkan pesanan Vika. Keheningan diantara mereka sembari menunggu, tak ada percakapan ataupun sapaan yang terjadi, hanya musik latar yang menenangkan saja menjadi pembelah kesunyian.

“Ini pesanan Anda.” Vika cukup tersentak saat machhiatonya telah siap, ia menyunggingkan senyum ketika kedua tangannya memeluk cup kopi itu dan membayar dalam keheningan. Selagi menunggu kembalian uangnya, ia mendengar seseorang berucap tepat di samping telinganya.

“Macchiato, artinya pendiam dan introvert. Aku rasa tak cocok dengan kepribadianmu.” Kekehan akhir sebagai pemanis yang membuat Vika mematung dalam keadaan kedua bola mata yang membulat. Ternyata kecurigaannya sedari tadi benar, orang ini adalah penggemar rahasia nya itu atau… jangan-jangan ini Kevin?

“Kevin?” Vika ingin mencegat namun terlambat saat tubuh tegap itu menghilang di balik pintu kaca Cafe. Decakkan sebal terdengar dari bibir merah mudanya dalam menanggapi kelambatannya sendiri untuk mencerna semuanya, harusnya ia bisa menghentikan Kevin atau siapapun itu dan bertanya semua hal yang membuatnya bingung. Menyebalkan sekali.

“Ini kembaliannya.” Vika kembali menghadap ke arah pelayan yang menyodorkan beberapa lembar rupiah, ia segera menerimanya secepat kilat dan berniat mengejar sosok itu, namun kakinya tiba-tiba enggan melangkah, lebih memilih kembali ke hadapan pelayan yang masih menatapnya ramah.

“Perlu bantuan?”

“Apa kau tahu makna dari orang yang suka americano?”

Pelayan itu berpikir sebentar sebelum senyumnya terkembang lebar, “Ya, aku tahu. Artinya orang yang suka americano adalah orang yang teliti dan kalem, tapi dia suka hal-hal sederhana. Itu adalah filosofi yang sering aku dengar dari pelanggan pria yang tadi. Dia sering beli kopi di sini setelah makan siang, herannya ia membeli dua cup, padahal dia hanya sendiri”

Penjelasan panjang lebar yang membuat Vika mematung disela otaknya berpikir keras. Hal sederhana? Membeli dua cup kopi setelah makan siang? Vika mendapat jawabannya, orang itu bukan Kevin, tapi.. Aldi, penggemar rahasianya.

Vika menatap pintu cafe yang berderak ditampar angin malam, akhirnya malam ini rasa penasarannya terjawab sudah. Ia tinggal mencari orangnya esok hari.

Vika sudah bertekad untuk membongkar kedok penggemar rahasianya itu hari ini dan ia tak akan dihantui lagi oleh bayang-bayang rasa penasaran, namun saat ia melangkahkan kaki ke dalam ruangannya, kali ini ia melihat satu buah cup kopi kembali berada di atas mejanya. Tak biasanya, sebab ini belum waktu makan siang. Ini masih pagi dan penggemar rahasianya itu sudah meletakkan cup kopi di mejanya.

Vika mengerinyit ketika mendapati ternyata kopi yang ia dapat adalah cappucino dengan busa di atasnya, tapi yang membuat Vika sedikit terkekeh dengan gelengan gemas adalah satu ukiran love terbentuk di atas busa kopi itu. Jari-jari lentik Vika tergerak menggenggam cup kopi dan menyesapnya dalam satu tegukkan, namun hampir saja cairan itu tersembur keluar dari mulutnya dengan volume mata membesar saat Vika membaca satu buah kertas yang terletak di mejanya.

‘Hai, aku sudah cukup mengirimimu kopi selama ini kan? Dan ini adalah kopi terbaik yang aku berikan. Cappucino artinya orang yang hangat dan murah senyum, seperti kau. Tapi kali ini ada tambahan ukiran love di atasnya yang menandakan perasaanku paling hangat untukmu dan senyuman terbaikku yang akan aku tunjukkan padamu. Aku menyukaimu sejak aku menginjakkan kaki di kantor ini. Aku selalu mengikutimu kemanapun kau pergi, maaf jika ini terdengar tak sopan, tapi aku mengikutimu karena aku penasaran padamu. Bahkan aku tahu jika kau putus dengan pacarmu juga karena malam itu aku membuntutimu. Ah ya, kau pasti penasaran siapa aku kan? Baiklah, aku akan mengatakan, namaku adalah Kevin Realdi. Orang kantor lebih senang memanggilku Aldi dan aku lebih senang jika kau memanggilku dengan nama Kevin.
Aku menyukaimu, jadilah pacarku.
Aku tunggu jawabanmu sepulang kantor sore ini. Kita bertemu di Cafe kopi kemarin ya.
-Dari Penggemar Rahasia, ah bukan, maksudku Kevin Realdi-‘

Tania Syafutri, Komunitas Menulis Bengkulu