Tidak ada tokoh bangsa yang paling dicurigai hubungannya dengan Islam sepelik Sukarno. Walaupun dia harus menyatakan berkali-kali, bahkan dengan penekanan yang hebat, bahwa dia adalah muslim yang sesungguhnya.

Bahkan wasiatnya terakhir adalah apabila dia pergi meninggalkan dunia, maka dia berharap, selain bendera merah putih, selubung kerenda mayatnya juga kain hijau dengan lambang Muhammadiyah. Namun tetap saja kecurigaan kepadanya belum juga pupus.

Adalah Ali Hasjmy, mantan Gubenur Aceh yang juga pernah menulis puisi Aku Serdadumu pada Oktober 1945, yang telah mempublikasi karyanya tentang hubungan antara Bung Karno dan Islam adalah dekat.

Dengan judul Presiden Sukarno dan Islam (Serambi Indonesia, 21 Oktober 2014), Hasjmy berargumen bahwa Sukarno bukan komunis, melainkan sebagai tokoh Islam yang berhaluan nasionalis. Bahkan Sukarno, lanjut Hasjmy, adalah seorang pembaharu Islam.

Tulisan Hasjmy tersebut menjadi menarik karena waktu dimana dia memproduksi tulisan tersebut adalah masa-masa Orde Baru begitu sangat kuat melakukan politik de-Sukarnoisasi. Orde Baru harus menyingkirkan Sukarno dalam ingatan bangsa Indonesia. Betapapun besar jasanya untuk negeri ini.

Lalu bagaimana melihat hubungan Sukarno dengan Islam. Sebab dalam banyak hal juga, terutama sekali pada masa Demokrasi Terpimpin, dia berhadapan sengit dengan faksi Islam politik, yang dalam beberapa hal diwakili oleh Masyumi. Yang sebagaimana kita ketahui, partai itu kemudian diminta dibubarkan dan para pemimpinnya dimasukkan ke dalam penjara tanpa adanya proses pengadilan.

Jelasnya, Sukarno melihat Islam seperti yang pernah disampaikan dalam pidatonya dalam acara Nuzulul Quran di Istana Negara, sebagai api yang berkobar-kobar. Dan bukankah dalam setiap pembicaraannya tentang Islam, dia selalu berseru bahwa bangsa Indonesia harus mengambil api Islam, bukan abunya. Intinya, Islam dalam jiwa Sukarno adalah juga revolusioner, seperti gagasan politik yang diserukannya tiada henti itu.

Sebagaimana yang diakuinya di dalam buku Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karangan Cindy Adams (1966), Sukarno kembali mempelajari Islam secara serius setelah berada di penjara Sukamiskin, Bandung.

Setelah menemukan agama setelah melalui persentuhannya dengan HOS Cokrominoto, Sukarno belumlah benar-benar menemukan Islam yang sebenarnya. “…sampai aku masuk pendjara. Didalam pendjaralah aku menjadi penganut jang sebenarnya”. (hal, 149).

Pengembaraan Sukarno mencari Islam kemudian mendapatkan momentumnya ketika dia dibuang oleh Pemerintah Kolonial ke Endeh. Dari kota Endeh dia melakukan korespodensi dengan A. Hassan, ulama dari Persatuan Islam (PERSIS), mengenai topik-topik keislaman.

Dalam surat-surat yang dimuat di buku Di Bawah Bendera Revolusi (1965), Sukarno menyampaikan suasana kebatinannya kepada A. Hasan, bahwa selama di Endeh, dia tidak menemukan teman bicara yang memuaskan pikirannya. Yang tampak adalah kejumudan dan keterbelakangan – suatu hal yang tolaknya sampai kapanpun. “Di Endeh sendiri tak ada seorangpun jang bisa saja tanjai, karena semuanja memang kurang pengetahuan (seperti biasa) dan kolot-bin-kolot. Semuanja hanja mentaklid sahadja zonder tahu sendiri apa-apa jang pokok…“ (Endeh, 15 September 1935).

Di dalam surat yang sama pula, sebagaimana amatannya, Sukarno mengkritik betapa kitab fiqh telah menjadi pegangan suci. Mati hidup dengan kitab fiqh itu – katanya tegas.

Sukarno, karena jiwa-jiwanya yang meluap-luap itu, menghendaki agar Islam itu hidup, bukan malah sebaliknya: “Sebab tanda masjarakat, ialah djustru ia punja hidup, ia punja njawa. Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada Roch, tiada njawa, tiada api, karena ummat Islam sama sekali tenggelam di dalam “kitab-fiqh” itu, tidak terbang seperti burung garuda diatas udara-udaranja Agama jang hidup“.

Surat-surat dari Endeh itu-pun menunjukkan kepada kita, bahwa menurut Sukarno, Islam harus-lah berani menatap ke depan dan meninggalkan masa lalu yang memenjarakan kreatifitas manusia. Dalam hal itu Sukarno menyeru agar ummat Islam meninggalkan sikap yang menolak kemoderenan.

Dari Endeh dia menulis dengan gahar “Saja punja kejakinan jang sedalam-dalamnja ialah, bahwa Islam disini, – ja diseluruh dunia-, tak akan mendjadi bersinar kembali kalau kita orang Islam masih mempunjai “sikap hidup” setjara kuno sahadja, jang menolak tiap-tiap “Ke-Barat-an” dan “kemoderenan”. Quran dan Hadist adalah kita punja wet jang tertinggi, tetapi Quran dan Hadist itu, barulah bisa mendjadi pembawa kemadjuan, suatu api jang menjala, kalau kita batja Quran dan Hadist itu dengan berdasar pengetahuan umum” (Endeh, 12 Juni 1936).

Sukarno pun seakan menemukan zamannya yang tepat. Ketika keresahan dia terhadap kolonialisme berbanding lurus pula dengan kegeramannya terhadap kekolotan dan praktik-praktik khufarat, bid’ah dan tahayul dalam diri ummat Islam, dia bertemu dengan zaman dimana gerakan pembaharuan Islam muncul dengan pesat. Dan Sukarno beruntung, sama seperti lawan debatnya – M. Natsir, dia bertemu dengan guru yang baik, A. Hasan.

Hasan yang mewakili PERSIS, pun serupa dengan organisasi pembaharuan lainnya, seperti Muhammdiyah, Al Irsyad atau-pun PUSA di Aceh, ikut mendorong pemikiran keislaman Sukarno menjadi lebih tegas dan kokoh melalui gerakan purifikasinya.

PERSIS sebagaimana yang ditulis oleh Howard M. Federspiel (2004) adalah organisasi yang menekankan kepada Quran dan Hadist dan juga memiliki pandangan bahwa setiap manusia apapun latar belakangnya adalah sama di hadapan Tuhan kecuali ketaqwaannya (hal, 26-237).

Titik persinggungan Sukarno dengan A. Hasan itulah yang kemudian semakin mendorongnya untuk semakin meng-artikulasikan pemikiran keislamannya secara lebih jauh. Bagi Sukarno, kalau hendak terbebas dari perkara kejumudan dan kekolotan, maka mustilah berfikiran maju dan modern. Mestilah menjadi, seperti katanya pula, Islam is progress: Islam itu kemadjuan (Endeh, 22 April 1936).

Tahun-tahun berikutnya pun, Sukarno ikut aktif dalam perdebatan mengenai posisi Islam di alam modern ini. Pilihan-pilihan sikapnya pun tidak tanggung-tanggung, baginya Islam adalah berkemajuan. Titik!

Sehingga dia menentang tegas penggunaan tabir yang baginya adalah bentuk perbudakan. Atau-pun dia menulis Me-Muda-kan Pengertian Islam (Pandji Islam, 1940 yang juga dimuat di buku Di Bawah Bendera Revolusi). Di dalam tulisan itu, Sukarno dengan sangat baik sekali melihat hubungan Islam, kebangsaan dan modernisasi Turki di zaman Mustafa Kemal Attartuk. Iya dia kagum dengan pemimpin Turki modern itu.

Dan memanglah, dengan membaca penjelajahan pemikiran Sukarno tentang Islam, kita terang-terangan mengaminkan apa yang telah dikatakan oleh Ali Hasjmy di atas, bahwa hubungan keduanya memiliki kedekatan. Dan bahkan dalam beberapa hal, Sukarno juga telah ikut memberikan sumbangan yang tidak sedikit terhadap perkembangan pemikiran keislaman dan kebangsaan di Indonesia.

Apabila masih ada yang mencurigai hubungan Sukarno dengan Islam, karena pengalaman yang sudah-sudah, maka berikanlah jawaban, sebagaimana jawaban Sukarno untuk mereka yang meragukan Mustafa Kemal Attaturk “…hanjalah sedjarah kelak kemudian hari! Sedjarah inilah jang kelak memutuskan: Kamal durhaka, atau Kamal maha-bidjaksana!”

Muhammad Alkafpengajar Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan di IAIN Langsa; menyelesaikan studi master bidang politik Islam di UIN Jogjakarta; dan saat ini aktif di Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, Banda Aceh

Catatan: artikel ini sebelumnya sudah dimuat di blog pribadi Bung Muhammad Alkaf di www.bung-alkaf.com. Dimuat kembali oleh Berdikari Onlne dan disini untuk memperkaya pengetahuan kita tentang Sukarno dan pemikirannya.