Karangan bunga PRD ketika melakukan ‘ziarah kebangsaan’ ke makam Bung Karno di Blitar, Minggu (22/7/2018).

Pengurus, kader dan simpatisan Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) melakukan ‘ziarah kebangsaan’ ke makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Minggu (22/7/2018).

Ketua Umum KPP PRD Agus Jabo Priyono mengatakan, 22 Juli 1996 adalah awal perjuangan kader-kader PRD untuk Indonesia yang lebih baik. Pada usia 22 tahun ini, lanjut Jabo, PRD sengaja melakukan ‘ziarah kebangsaan’ ke makam Bung Karno.

“Ada tiga hal yang bisa kita ambil dari Bung Karno. Pertama, Bung Karno mengabdikan seluruh hidupnya untuk bangsa dan tanah air,” kata Jabo sebelum bersama-sama kader PRD lainnya berdoa di atas makam Bung Karno.

Kedua, Jabo melanjutkan, Bung Karno telah berhasil merumuskan cita-cita bangsa yang kelak akan menjadi bintang petunjuk arah bagi rakyat Indonesia untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.

“Pancasila, Manipol Usdek, Trisakti. Pancasila Bung Karno gali dari rahim masyarakat kita sendiri, sejarah masyarakat Indonesia,” ungkap Jabo.

Ketiga, tambah Jabo, Bung Karno merupakan sosok yang teguh dan konsisten dalam mempertahankan dan memperjuangkan keyakinan.

“Yang akhirnya beliau ditumbangkan karena beliau mempertahankan keyakinannya itu. Ini menjadi refleksi bagi PRD untuk melanjutkan keyakinan Bung Karno,” kata Jabo menegaskan.

Jabo memaparkan, Pancasila sebagai konsepsi Bung Karno telah ditetapkan oleh PRD sebagai ideologi partai dalam melakukan pembebasan nasional. Namun Jabo mengkritisi ulah elit politik zaman now yang mengangkat panji-panji program Bung Karno seperti Trisakti untuk memanipulasi kesadaran rakyat.

“Sekarang yang terdengar justru 1 persen penduduk menguasai 50 persen kekayaan Indonesia. Artinya Trisakti hanya menjadi agitasi politik, bukan program politik kekuasaan saat ini,” tandas Jabo.

Para kader PRD di depan patung Bung Karno.

Jabo menekankan, pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang, PRD akan memperjuangkan agar kekuasaan dapat merubah haluan ekonomi Indonesia dari liberalisme ke haluan ekonomi Pancasila.

“PRD bukan berarti anti swasta. Tapi ekonomi harus mensejahterakan rakyat sebagaimana Pasal 33 UUD 1945. Mari kita jadikan ajaran-ajaran Bung Karno untuk membebaskan rakyat Indonesia dari penindasan dan penghisapan. Mari jadikan Pancasila untuk mewujudkan Indonesia berdikari, berbudaya dan berkepribadian sebagai prasyarat untuk mewujudkan Indonesia yang adil makmur, lahir dan bathin,” demikian Jabo.

Data terhimpun, selain kegiatan ‘ziarah kebangsaan’, struktur PRD di daerah juga akan memperingati hari lahir partainya dengan berbagai kegiatan, seperti diskusi dan syukuran. [Banjar Anyut]