Ketika fajar datang, disaat itu juga aku mulai pagiku dengan merindumu ibu. Banyak hal yang tak bisa lagi kujelaskan semuanya, ada hal kecil namun saat berharga bagiku yaitu Temu.

Meski ku tahu doamu selalu menyertai langkahku, tapi ada saja hal yang perlu kujelaskan padamu bahkan aku sendiri tidak mengerti harus menjelaskan apa kecuali Rindu.

Ibu, ibu, oh ibu…

Ku tahu engkau di sana selalu di jaga-Nya, aku percaya itu. Tapi tahukah engkau aku di sini sangat merindukanmu?? Dan aku juga tahu dirimu pun demikian bahkan lebih dari diriku.

“Dengar aku, ibu disana tenang saja aku disini baik-baik saja,” kataku kepada malaikatku.

Aku seorang perantau di kota orang, namaku Yoselia Endang Sari dan kalian boleh memanggilku Yoselia.

Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana, ayah dan ibuku bekerja sebagai petani. Aku mempunyai seorang adik laki-laki yang bernama Aditya, meski dia agak sedikit menjengkelkan tapi aku sangat menyayanginya terlebih lagi dia adalah pengganti ayah bagiku setelah ayah meninggalkan kami 8 tahun lalu. Karena mereka berdualah aku bertahan di tanah perantauan ini.

“Lebaran nanti apa kau pulang nak?” tanya ibu.

“Tidak Bu, pekerjaanku belum selesai,“ jawabku dengan ceria agar ia tidak bersedih.

“Kau baik-baik disana, ingat Tuhan dan keluargamu selalu nak,” jawabnya lagi.

Telepon kemudian terputus.

Aku memang baru saja di tanah perantauan, dan ibu sudah sangat merindukanku. Tapi ku fikir itu memang sepantasnya. Karena aku adalah putrinya. Aku dan adikku sangat menyayanginya, karena hanya ia yang kami punya.

Dia selalu mengajari kami tentang segala hal, semua hanya untuk kebaikan belaka. Dan aku menuruti semua perintahnya itu, karena aku tidak ingin mengecewakanya apalagi sampai melukai hatinya.

Beberapa minggu setelah kepergianku dari rumah, ibu selalu merasa kesepian karna adikku selalu bermain di luar rumah. Untuk menghilangkan sedihnya ia pasti menghubungiku.

“Gimana kabarnya?” katanya.

Aku tahu itu cuma basa-basinya saja, aku juga tahu ia pasti kesepian kala itu, dan aku juga tahu bahwa ia sedang bersedih waktu itu.

“Aku baik kok bu,” jawabku.

“Oh ya bu, aku baru saja menghabiskan liburan ke beberapa tempat wisata disini, ibu tahu tidak disini aku sangat bahagia bu ada banyak wisata yang sudah aku kunjungi,“ sambungku.

“Ternyata kebiasaanmu yang sangat senang menghabiskan waktu jalan-jalan tidak pernah berubah,“ jawabnya meledekku sambil tertawa.
Aku senang mendengar tawanya itu, berarti tugasku menghiburnya berhasil.

“Pasti dong bu,” jawabku.

Aku memang selalu mengalihkan perhatiannya ketika ku tahu dia sedang tidak bahagia. Meskipun dengan sebuah candaan biasa tapi aku tahu itu akan membuatnya sedikit bahagia.

Di perantauan, aku memang sering merindukan ibu dan adikku karena bagiku ibu adalah satu-satunya wanita terhebat yang tidak akan pernah menyakitiku dan adikku adalah satu-satunya laki-laki yang tidak akan membiarkan aku tersakiti oleh siapapun, aku percaya itu.
Pagi itu kusambut pagiku dengan nada dering ponselku.

“Hallo”.

“Selamat pagi nak, awali harimu dengan sujud kepada tuhanmu,” jawab seseorang.

Aku pun tersenyum. Karena ku tahu itu adalah suara malaikatku.

Aku tahu tiada hari tanpa doanya untukku, hanya saja jarak yang memisahkan kami.

Suatu malam entah mengapa aku sangat merindunya, ingin rasanya aku pulang untuk beberapa saat saja hanya untuk memastikan ia baik-baik saja, dan ponselku pun berdering.

“Gimana kabarmu nak?” kata ibu.

“Aku baik bu,” jawabku sayu.

“Kau kenapa nak? Sepertinya kau tidak sehat? Suaramu agak berbeda,” katanya.

Aku tidak ingin ibu tahu bahwa aku sedang sangat merindunya, karena itu akan membuatnya menjadi sedih.

“Tidak bu, aku tadi ketiduran,“ jawabku tegas.

“Syukurlah kalau begitu,” katanya.

“Bu, aku rindu,” kataku dalam hati.

Di pertiga malam aku terbangun dari tidurku, lalu menghadap-Nya.

“Tolong jaga malaikat tanpa sayapku,” bisikku dalam hati. Tak terasa air mata pun jatuh di pipiku.

Pagi itu aku terlambat bangun. Kulihat ponselku dan tekejut karena banyak sekali panggilan terlewatkan dari malaikatku itu dan aku segera menghubunginya kembali.

“Hallo,” katanya.

“Hallo ibu, maafkan anakmu ini ya tidak menjawab telponmu, kau tahu kan anakmu ini sangat sibuk bahkan lebih sibuk dari seorang artis tapi ibu tenang saja aku baik-baik saja di sini. Love you,” jawabku meyakinkan agar dia tidak khawatir kepadaku.

“Iya ibu tahu itu,” jawabnya.

Seperti biasa, aku memulai hariku dengan harapan hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Semua kujalani sebagai mana semestinya, berakhir dengan seharusnya. Tapi ada satu yang selalu kujalani namun tak bisa ku hentikan, Rindu. Dengan semangat yang ada aku melawannya, dan kusisihkan rindu itu sebisa mungkin. Karna yang harus kulakukan adalah bertahan.

Sore itu setelah pekerjaanku selesai, aku pun menghabiskan waktu senja sore di alun-alun kota. Kulihat kesana kemari, mereka semua bersama keluarganya sedang aku hanya berteman dengan rindu.

“Semoga kalian baik-baik saja,” doaku.

Entah apa yang ada dibenakku yang ku tahu hanya satu kata, yaitu Rindu. Entah bagaimana aku menghapusnya, aku bahkan tidak bisa menghapusnya meski pelan-pelan. Entah bagaimana aku bisa menikmatinya, karna yang ku tahu rindu itu menyakitkan. Tapi ada satu keyakinan yang menbuatku melawan rindu, bahagia mereka adalah kebanggaanku.

Ketika pagi datang, aku mulai tidak merindunya berlebihan. Hanya aku belum bisa menghilangkan rindu itu saja. Aku percaya, ini semua karna doanya kepada Sang Pencipta.

“Kami bangga mempunyai ibu sepertimu,” kataku di via telepon.

“Kalian adalah alasan ku bertahan hidup setelah kejadian 8 tahun lalu,” jawabnya sayu

“Sudah bu, sekarang aku sudah besar begitu juga dengan Aditya. Kebahagianmu merupaan kebanggan bagi kami,” ucapku.

Karena aku tidak ingin ibu sedih apabila mengingat ayah yang telah pergi dari rumah meninggalkan kami.

“Ya nak, kau benar,” ucapnya tegar.

“Aku percaya, aku bisa membuatmu melupakan segala kesedihanmu bu. Itu janjiku,” ucapku dalam hati.

Beberapa bulan aku di perantauan. Kulihat ibu mulai sibuk dengan pekerjaannya di sawah. Itu artinya rindu nya kepadaku pun akan mulai berkurang karna ia akan mempunyai aktvitas lain selain merindukanku. Dan aku pun harus lebih kuat lagi dari dia.

“Nak, sekarang padi kita sedang menghijau, ibu ingat sekali kau sangat senang melihatnya dan bermain di hamparan padi yang indah itu, karna kau sangat mencintai alam,” katanya

“Benarkah bu?” tanyaku.

“Iya,” jawabnya.

Kemudian jawabnya terhenti. Aku tahu ia ingin menyakan sesuatu yang membuatnya sedih, akhirnya aku pun berkata.

“Ibu tahu nggak, tadi aku ke alun-alun disana ada badut Doraemon lho bu, sangat lucu lho,“ kataku memecah lamunannya.

“Iya kah? Bukan kah kau sangat menyukai doraemon?“ katanya.

“Hahaha tepat sekali,” jawabku sambil ketawa.

Karena ku tahu, jika ibu mendengarkan tawaku pasti ia tidak akan sedih lagi. Namun ia tidak akan pernah tahu betapa aku sangat merindunya. Semua rasa rindu itu harus ku tepis meski tidak sirna.
Karna ada kebahagiaan orang yang tertunda jika aku mengutama kan keegoisanku. Dan aku sangat mengutamakan kebahagiaan itu, keluargaku.

Di tempat kerjaku pukul 11:30 AM.

“Sepertinya kau sakit?“ kata salah satu teman kerjaku.

“Tidak, aku baik-baik saja,” jawabku.

“Kulihat kau sekarang sangat murung, apa kau ada masalah?” tanyanya lagi.

“Tidak, aku masih sama seperti biasanya,” jawabku.

Lalu ponsel ku berdering

“Hallo,” kata suara dari seberang

“Iya, kenapa bu?” jawabku.

“Apa kau baik-baik saja nak? Ku dengar suaramu lemas sekali.“

“Ibu ini ngomong apa sih? Aku baik-baik saja kok.”

“Ibu tidak usah cemas, aku tidak kenapa-kenapa,” kataku sambil menutup telponnya.

“Maaf kan aku bu, aku berbohong kepadamu,” ucapku dalam hati.
Begitulah caraku menahan Rindu. Dengan beranggapan bahwa semua baik-baik saja.

Ketika hari dimana aku sangat merindukan berada di pangkuan malaikatku, berada di sampingnya, memeluknya, mencium tanganya, dan menceritakan segalanya. Rasanya bahkan aku sendiri pun tidak mengerti, semua berlalu bagaikan tidak tahu arah tujuannya, semua mengitari tapi tidak tahu di mana pusat rodanya, dan semuanya melaju tanpa tahu harus berlanjut atau putar arah. Lalu mengapa Rindu itu kian hadir? Bisakah aku menghilangkannya sejenak hanya untuk menenangkan diri saja? Bisakah aku menahannya? Ajari aku menahan rindu.

Dan semua kulihat nyata, rindu yang selalu datang mulai meredup. Dimana sang rindu kalah oleh semangat yang berkobar. Dan ku harap akan seperti demikian, biarkan aku tetap menahan rindu… Ibu.

Yoselia Endang Sari, Komunitas Menulis Bengkulu