Pengerjaan Tambal Sulam jalan lintas Curup-Simpang Nangka saat malam hari, Kamis (12/7/2018).

REJANG LEBONG, PB – Pekerjaan Preservasi rehabilitasi minor jalan Curup – Simpang Nangka Kabupaten Rejang Lebong sepanjang senilai Rp6,4 Miliar mulai dilaksanakan.

Ironisnya, pekerjaan yang dilaksanakan oleh PT Pangestu Jaya Sakti ini justru dilaksanakan pada malam hari. Alasannya, lantaran ada kendala padatnya arus lalu lintas di ruas jalan Ahmad Yani kecamatan Curup Timur tersebut.

“Kami selaku Warga di sini mempertanyakan kinerja PT ini. Lihat saja sendiri pak, sudah kerjanya malam hari, jalan yang di aspal tambal sulam juga tidak dibersihkan terlebih dahulu seperti layaknya Standar Operasional Pekerjaan (SOP) pengaspalan pada umumnya,” ujar Elwan, Warga jalan Ahmad Yani, mantan Kepala Bappeda Rejang Lebong, Kamis (12/7).

Sementara itu, Edi Zulkarnain, Warga setempat sekaligus mantan Kepala Keuangan Sekretariat DPRD Rejang Lebong mengatakan, saat pengaspalan berlangsung, pihak pelaksana tidak melapisi ruas jalan yang akan di aspal hotmix menggunakan aspal cair yang notabenenya merupakan perekat antara lapisan hotmix yang lama dengan hotmix yang baru.

“Gimana mau lengket atau menyatu pak kalau tidak di beri perekat terlebih dahulu,” cecar Edi.

Dilokasi yang sama, Janis, Kontraktor lokal Rejang Lebong juga melayangkan komentar miring soal pekerjaan PT PJS tersebut. Janis mengatakan, diduga kuat aspal hotmix yang digunakan saat dihampar suhunya di bawah 110 derajat Celcius. Sehingga, dikhawatirkan hasil penhaspalan tidak akan maksimal kualitasnya.

“Salah satu dampak yang terjadi apabila suhu tidak sesuai dengan spesifikasi saat penghamparan adalah ikatan antar agregat dengan aspal tidak akan maksimal sehingga bisa mengakibatkan aspal cepat sekali rusak. Temperatur atau suhu aspal harus tetap terjaga. Oleh karena itu posisi AMP (Asphalt Mixing Plant) harus disesuaikan dengan lokasi proyek. Posisi AMP yang baik adalah sebisa mungkin dekat dengan lokasi sehingga bisa menjangkau titik terjauh tanpa mengurangi kualitas. Nah ini Hotmixnya di bawa dari Bengkulu, bagaimana mau menjaga suhu kalau jaraknya saja sudah sangat jauh. Belum lagi faktor cuaca Rejang Lebong yang sangat dingin lantaran saat ini musim hujan,” ujar Janis.

Dikonfirmasi, Asisten Pelaksana PT PJS, Izon Pardi, Kamis (12/7) membantah semua tudingan miring Warga soal pelaksanaan pekerjaan yang dilaksanakannya. Dijelaskan Izon, pekerjaan tidak secara sengaja dilaksanakan pada malam hari.

Namun, lantaran arus lalu lintas yang padat di lokasi pekerjaan tersebut, membuat pihaknya terpaksa melaksanakannya pada malam hari.

“Pelapisan aspal cair sebagai pelekat juga sudah kami laksanakan. Memang tidak saat itu, namun kami lakukan lima hari sebelum pengamparan aspal hotmix,” ujar Izon.

Ditambahkan Izon, soal suhu atau temperatur aspal hotmix yang dihampar dipastikan masih dalam kriteria SOP yaitu berkisar 120 -150 derajat Celcius.

“Memang aspal hotmix kami bawa dari AMP di daerah Kroya Bengkulu. Tetapi, untuk pengaspalan berikutnya, kami ambil dari AMP yang ada di daerah Tanjung Aur Kecamatan Binduriang,” ujar Izon sembari menjelaskan jika pekerjaan ini merupakan pekerjaan dari Dirjen bina marga balai pelaksanaan jalan nasional III satuan kerja perencanaan dan pengawasan jalan nasional provinsi Bengkulu. [Ifan Salianto]