Antrian Bacaleg di RSJKO Suprapto, Lingkar Barat, Kota Bengkulu, Jumat (6/7/2018)

BENGKULU, PB – Ratusan Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) se-Provinsi Bengkulu mendatangi Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat (RSJKO) Suprapto atau yang sekarang bernama Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Suprapto ini di Kelurahan Lingkar Barat, Jumat (6/7).

Kedatangan Bacaleg tersebut untuk mengikuti tes kejiwaan sebagai syarat menjadi calon anggota legislatif.

Pantauan Pedoman Bengkulu, ratusan Bacaleg tampak berdesakan dan antri panjang menunggu panggilan pemeriksaan.

Seperti, Bacaleg dari Fraksi Partai Amant Nasional (PAN) Daerah Pemilihan (Dapil) Kabupaten Lebong, Medi Wanjuni Putra mengungkapkan, sudah menunggu antrian pemeriksaan sejak pagi. Karena antrian panjang Medi harus sabar menunggu.

“Meskipun kita mengantri panjang menunggu panggilan, kita memaklumi hal ini lantaran yang mengikuti tes ini se provinsi bengkulu. Terlebih saya dari jam 7 pagi tadi dan sampai sekarang masih sabar menunggu giliran dipanggil,” ujar Medi.

Senada, salah seorang Bacaleg dari Seluma, Pujo Santoso mengatakan juga masih mengantri menunggu panggilan. Pujo berpendapat seharusnya pelayanan di RSJKO di tinggkatkan agar lebih efektif melayani pengunjung dalam jumlah banyak.

“Sementara kita masih menunggu panggilan, sampai saat in belum ada keluhan, kalo nanti ada keluhan kita akan coba koordinasikan kepada pihak RSJKO supaya pelayanan lebih diefektifkan agar kawan-kawan tidak terlalu lama menunggu,” ungkap Pujo.

Sementara itu, Direktur RSKJO Soeprapto Bengkulu, Dr. Chandrainy Pury mengatakan pihaknya telah menyiapkan jadwal pemeriksaan kesehatan untuk setiap Parpol agar bisa dipatuhi dan berjalan sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

“Jadi untuk bakal calon legislatif kita sudah buatkan jadwalnya masing-masing parpol, dari tanggal 2 Juli sampai12 Juli nanti. Untuk itu kami berharap yang datang itu sesuai jadwalnya. Masing-masing peserta nantinya akan mengikuti rangkaian tes untuk mengetahui apakah peserta tersebut mengalami gangguan kejiwaan atau tidak. Oleh karena itu, kita berharap peserta serius mengikuti rangkaian tes. Karena dalam proses penilaian, ada tes tertulis, juga ada wawancara yang dilakukan oleh dokter Iangsung. Nanti merekalah yang akan menilai peserta ada gangguan jiwa atau tidak. Maka dari itu peserta harus serius,” jelasnya Chandrainy. [Irwan]