Foto bersama usai upacara pelepasan di Markas Batalyon Infanteri (Yonif) 144 Jaya Yudha Curup, Rejang Lebong, Minggu (22/7/2018).

REJANG LEBONG, PB – Dipercaya menjadi Inspektur Upacara (Irup) pelepasan 450 orang Prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 144 Jaya Yudha Curup untuk mengemban tugas sebagai Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Wilayah Perbatasan (Pamtas) Republik Indonesia (RI) – Malaysia tahun 2018, Bupati Rejang Lebong, A Hijazi mengingatkan agar para prajurit semasa melaksanakan tugas tetap harus bersikap waspada dan mengutamakan keselamatan.

“Menjadi seorang prajurit TNI itu memiliki suatu kebanggaan dan kehormatan sendiri, karena mendapatkan kesempatan untuk menjalankan tugas Negara menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar Bupati menyampaikan sambutan saat menjadi Irup upacara pelepasan di Markas Batalyon Infanteri (Yonif) 144 Jaya Yudha Curup, Rejang Lebong, Minggu (22/7/2018).

Selain itu, Bupati juga meminta agar Prajurit yang berangkat melakukan tugas pengamanan juga tetap menjaga prilaku sebagai wujud nyata menjaga nama baik kesatuan.

“Saya ucapkan selamat bertugas bagi para prajurit yang berangkat. Saya yakin para prajurit yang berangkat kembali akan menuai prestasi seperti pasukan Batalyon Infanteri (Yonif) 144 Jaya Yudha Curup yang pernah berangkat sebelumnya,” tutup Bupati.

Untuk diketahui, Prajurit yang diberangkatkan berjumlah 450 orang dan akan bertugas selama 9 bulan ke depan dan akan bertugas dalam wilayah yang cukup luas dengan kontur wilayah berbukitan dengan luasan wilayah yang akan di jaga mencapai 500 kilometer dengan melewati 2 provinsi yakni Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Para prajurit yang berangkat sebelumnya juga telah ditinjau kesiapannya secara langsung oleh Pangdam II Sriwijaya Mayjend. TNI, AM Putranto, Jumat, 6 Juli 2018 lalu.

“Saya tekankan kembali jika tugas pasukan Pamtas RI-Malaysia itu nantinya dapat mengantisipasi kemungkinan adanya kegiatan-kegiatan ilegal seperti penyelundupan, ilegal logging dan lainnya. Prajurit TNI dalam operasi ini tidak boleh terlibat atau membantu kegiatan illegal itu, karena bisa dikenakan sanksi berat,” pesan Pangdam II Sriwijaya saat itu. [Ifan Salianto]