Era Reformasi di Indonesia dimulai pada pertengahan 1998, tepatnya saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 dan digantikan oleh wakilnya yakni BJ Habibie. Saat itu, rezim Soeharto dinyatakan tumbang.

Krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan semakin besarnya ketidak-puasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto saat itu menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai organ aksi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.

Di awal bulan pada tahun 1998 hingga pertengahan tahun, keadaan di Indonesia memang sangatlah bergolak, dari aksi besar-besaran tersebut lahirlah orang-orang yang kini disebut dengan aktivis 98.

Nah, kabar terbaru sebagaimana dilansir dari laman news.detik.com menyebutkan bahwa aktivis 1998 bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mereka mendesak Jokowi menetapkan 7 Juli sebagai Hari Bhinneka Tunggal Ika.

“Kita mendesak Presiden menetapkan Hari Bhinneka Tunggal Ika tanggal 7 Juli. Karena kita tahu ada empat pilar bangsa. Kita tahu ada hari lahir Pancasila 1 Juni, sudah ada hari konstitusi. Bahkan Hari Proklamasi 17 Agustus. Dari empat pilar, hanya Bhinneka Tunggal Ika (yang belum),” ujar Direktur Eksekutif 98 Institute, Sayed Junaidi Rizaldi, setelah bertemu dengan Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Pada hari ini tanggal 7 Juli 2018, aktivis 98 turut mengundang Jokowi ke acara rembuk nasional yang digelar di Monas. Isu-isu yang diangkat dalam rembuk nasional antara lain radikalisme, intoleransi, dan terorisme.

Selain itu, dalam pertemuan di Istana Kepresidenan tersebut, aktivis 98 meminta Jokowi menetapkan mahasiswa yang gugur pada tragedi Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II sebagai pahlawan.

Senada dengan pernyataan itu, dilansir dari laman nasional.sindonews.com Sayed Junaidi juga mengatakan bahwa aktivis 98 berkumpul untuk menegaskan kembali cita-cita reformasi, yaitu membangun demokrasi sebagai sistem yang memberi kesetaraan dan kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa di segala bidang dari Sabang sampai Merauke. Dari Mianggas hingga Rote tanpa membeda bedakan SARA.

Menurut Sayed, Rembuk Nasional adalah media menyatukan pandangan dan sikap bersama seluruh aktivis 98. Dalam rembuk juga akan dideklarasikan tanggal 7 Juli sebagai Hari Bhinneka Tunggal Ika.

Tanggal 7 Juli terhitung mulai hari ini akan menjadi tanggal yang akan terus diperingati sebagai prinsip negara yang menghormati keberagaman dan perbedaan dalam satu bingkai Negara Keatuan Republik Indonesia (NKRI).

Acara Rembuk Nasional ini diperkirakan dihadiri oleh 50.000 orang. Mereka adalah aktivis 98 yang setuju dengan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu panitia juga mengundang tokoh tokoh nasional, mulai dari menteri hingga presiden, tokoh tokoh agama, anggota DPR, tokoh-tokoh masyarakat, dan artis. Mereka akan diajak bersama-sama mendeklarasikan hasil hasil rembuk dan deklarasi hari Bhinneka Tunggal Ika.

Rangkaian acara Rembuk Nasional dimulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Rembuk akan diisi oleh pernyataan oleh perwakilan aktivis 98 dari 29 Provinsi.

Selanjutnya di lapangan akan diisi oleh berbagai acara seni budaya, orasi kebangsaan oleh Habib Lutfi bin Yahya. Selain itu juga ada hiburan musik oleh Edo Kondologit, Band Jamrud, dan Band Boomerang. [Eva De]