Paham sekuler dan kebebasan menyuburkan generasi alay, generasi lalai dan menjadikan generasi yang kehilangan identitas diri dan terjerumus kepada “fanatik buta”.

Viralnya seorang “Bowo” belakangan ini telah banyak menjadikan remaja-remaja tanggung salah kiblat. “Bowo” dengan dukungan Tik Tok mampu menghipnotis generasi alay yang rela berbuat apa saja demi bertemu dengan sang idola. Sampai-sampai ada yang rela menjual ginjal untuk modal bertemu dengan idola, mencuri uang orangtua, hingga berniat ingin membuat agama baru. Innalillahi.

Seperti dihidangkan beberapa media, bahwa fanatik buta terhadap “Bowo” banyak menuai kontroversial di berbagai kalangan.

Aplikasi Tik Tok kembali menjadi sorotan. Kini unggahan Facebook penggemar Tik Tok yang ingin membuat agama baru yang menuhankan seorang selebritas Tik Tok. Sebuah unggahan yang menampilkan berbagai foto tangkapan status penggemar aplikasi Tik Tok menjadi sorotan dan sekaligus kecaman.

Unggahan dari akun Facebook Yuni Rusmini itu seolah menjadi rangkuman tentang bagaimana aplikasi karya perusahaan rintisan China, ByteDance, itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sebagian besar remaja milenial yang menjadikan dunia digital sebagai kiblat.

Dalam unggahan Yuni Rusmini itu terdapat foto tangkapan status dari seorang ayah yang mengatakan bahwa anaknya rela mencuri uang sebesar Rp500 ribu untuk menghadiri acara jumpa penggemar (meet and greet) dengan salah seorang selebritas Tik Tok, Bowo Alpenliebe.

Anak saya sudah tergila-gila sama bowo Sampai maling duit saya di laci 500 ribu untuk ketemu Bowo padahal buat bayar kontrakan. Tolong ya Bowo jgn memperbudak anak saya. Ini di bawah poto Bowo,” tulis sebuah akun Facebook bernama Ahmad Paedi yang ditulis pada 26 Juni lalu.

Kemudian ada pula unggahan status seorang remaja yang mengatakan ingin membuat agama baru dengan menjadikan Bowo sebagai Tuhan mereka.

Bikin agama baru kuyyy!! Namanya kaum Bowoww. Kaka Bowo jadi Tuhannya. Akoh jadi malaikatnya. Dan kalian semua jadi umatnya. Yg mau jadi nabi2 chat aja. Lapak gw khusus orang2 epic elite saja,,,, Ga perlu rame2, berisik tauk!! Ayo fans bwowoh.. #Savebowo #bowotohann Tiada Tuhan selain Bowo,” demikian tulis akun Facebook tersebut.

Lalu ada pula akun Facebook bernama Ara Zahiraa yang juga menuliskan ingin mengembangkan agama dengan Bowo sebagai tuhannya.

#TEAMBOWO MANA SUARANYA. Bikin agama baru yuk! Kak bowo jadi tuhannya. Aku jadi nabii nya kalian jadi umatt nya. #BOWOFANS.

Bowo yang bernama asli Prabowo Mondardo ini memang merupakan salah satu contoh orang yang bisa memanfaatkan aplikasi Tik Tok sebagai medium untuk mencapai popularitas.

Remaja pria berusia 13 tahun ini digemari, terutama oleh remaja putri, karena dianggap memiliki paras yang tampan. Popularitas Bowo ditunjukkan dengan banyaknya pengikut dia di Instagram yang sudah mencapai lebih dari 200 ribu. Sementara videonya di Tik Tok sudah ditonton lebih dari 700 ribu kali dan menyebar ke berbagai jenis sosial media lainnya.

Polemik terhadap aplikasi Tik Tok dan para selebritasnya memang menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Baru-baru ini sejumlah peserta jumpa penggemar selebritas Tik Tok yang diadakan oleh salah satu penyelenggara acara (event organizer) dikritik karena dianggap mengecewakan para peserta acara.

Salah satu keluhan mereka adalah karena penampilan Bowo tak seperti ekspektasi mereka, meskipun harga tiket yang terbilang mahal untuk standar para remaja yang menjadi penggemar aplikasi ini. Bahkan di situs Change.org terdapat sebuah petisi yang meminta Kemenkominfo memblokir aplikasi Tik Tok setelah video remaja yang beraksi di depan jenazah menjadi viral.

Baca : Viral! Fans Aplikasi Tik Tok Ingin Buat Agama Baru

Resahnya para orangtua dengan perubahan yang anak-anaknya dalam mengagumi sang idola “Bowo” serta banjirnya laporan masyarakat yang masuk ke Kominfo.

Diantara laporan yang masuk ke Kominfo terkait Tik Tok, fenomena dan perilaku aplikasi tersebut sudah semakin ke arah negatif, mulai dari pornografi, asusila, LGBT, pelecehan agama, fitnah, serta konten yang dinilai meresahkan masyarakat dan anak-anak.

Selain laporan dari masyarakat, Komisi Perlindungan Anak (KPAI) juga menerima pengaduan hal itu, sehingga Kominfo berkomunikasi dengan KPAI dan juga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kemen PPA) Kominfo telah melakukan koordinasi dengan KPAI dan Kemen PPA dalam melakukan pemantauan dan pemblokiran aplikasi Tik Tok tersebut. Pemblokiran pun telah dilakukan saat ini.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan meminta Kominfo menyisir aplikasi-aplikasi seperti Tik Tok. Penyisiran itu dilakukan untuk menangkal penyebaran konten pornografi.

“Menurut saya harus disisir kembali. Karena kan kalau kita membuka konten-konten yang positif saja kan kerap kali muncul yang aneh-aneh begitu,” kata Ace sebagaimana dilansir detikcom, Selasa (3/7/2018) malam.

Kominfo memutuskan untuk memblokir aplikasi Tik Tok. Alasan pemblokiran karena banyak konten negatif yang tak pantas dilihat anak-anak. Menanggapi keputusan itu, Ace mengapresiasi. Sebab, banyak anak-anak di bawah umur yang menggunakan Tik Tok.

“Kalau memang dinilai aplikasi itu kerap memunculkan situs atau tampilan yang membahayakan anak, saya kira memang sudah seharusnya Kominfo menutup itu,” ujar Ace.

“Karena kita tahu semua anak-anak kita, anak-anak di bawah umur kerap sekali menggunakan gadget dengan mendownload aplikasi-aplikasi yang menampilkan kreativitasnya, salah satunya dengan yang namanya aplikasi Tik Tok ini,” imbuhnya.

Mengenai antisipasi penyebaran konten pornografi ke anak-anak sebetulnya selalu disoroti oleh Komisi VIII DPR. Ace mengaku pihaknya kerap mengingatkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“Komisi VIII, ya, kerap kali mengingatkan kementerian perempuan dan perlindungan anak agar berkoordinasi dan bekerja sama dengan Kominfo, ya, untuk melindungi anak-anak dari penggunaan terutama media sosial dan aplikasi, internet, begitu, yang gampang sekali di unduh oleh anak-anak,” terang politikus Golkar itu.

Baca: Komisi VIII DPR Minta Kominfo Sisir Aplikasi Seperti Tik Tok

Gamblang sudah, berawal dari tiktok bisa bikin rontok. Akidah utamanya. Menimbang Islam masih jadi mayoritas di negeri ini maka tentu tak sedikit diantara penggemar tersebut adalah remaja muslim dan muslimah. Maka aqidah Islam beresiko dipertaruhkan.

Terbukti dari status- status yang tersebar di media sosial. Terbayang masa depan seperti apa yang menanti mereka. Jalani hidup hanya untuk hura-hura tanpa tujuan hidup yang jelas. Bila keyakinan sudah tergerus apatah mungkin hidup bertujuan? Terlebih bagi muslim dan muslimah.

Harusnya yakin Allah SWT Sang Khaliq. Yang Maha Pencipta lagi Maha Pengatur. Rabbul Alamin. Maha Mengatur segala apa yang ada di alam semesta. Bila tidak karena-Nya niscaya kehidupan di alam ini kacau tak beraturan. Persis seperti apa yang terjadi pada sebagian generasi saat ini.

Sepenuhnya buah dari demokrasi yang memuja kebebasan. Momok kebebasan bertingkah laku dan berekspresi menjadikan tak sedikit dari mereka hidup bak layang putus mengawang di langit. Hilir mudik ikut trend tanpa sepenuhnya paham dampak dan aturan yang seharusnya.

Padahal jelas Allah berfirman diantaranya, “Wahai orang yang beriman; berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ), kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barangsiapa kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-Nya. kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat, maka sesungguhnya orang itu sangat jauh tersesat.” (QS. An Nisaa’ (4): 136)

“Dan Tuhan itu, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah (2): 163)

“Allah itu tunggal, tidak ada Tuhan selain Dia, yang hidup tidak berkehendak kepada selain-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Bukankah tidak ada orang yang memberikan syafaat di hadapan-Nya jika tidak dengan seizin-Nya? Ia mengetahui apa yang di hadapan manusia dan apa yang di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sedikit jua pun tentang ilmu-Nya, kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuannya meliputi langit dan bumi. Memelihara kedua makhluk itu tidak berat bagi-Nya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah (2): 255)

Ayat-ayat diatas sejatinya menuntun kaum muslimin meyakini Allah SWT dan datangnya hari Akhir. Dua hal yang berperan menentukan tujuan hidup seseorang. Saat seorang beriman akan Allah yang wajibul wujud, pada segala yang diturunkan Allah termasuk adanya Yaumul Hisab, maka harusnya tak ada pilihan selain tunduk patuh pada syariat.

Dalilnya termaktub dalam kitab suci Alqur’an dan Sunnah Rasul saw. Tegas Allah SWT ingatkan, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. AnNisaa (4): 65)

Demikianlah pada akhirnya seluruh perbuatan muslim akan selalu terukur dalam timbangan syariat. Halal dan haram. Jauh dari kesia-siaan apalagi hura-hura yang berlindung di balik dalih kebebasan berekspresi. Tik Tok dan yang sejenis dengan sendirinya bakal tenggelam.

Sayang hal tersebut hanya bisa terwujud kala syariat Islam terterapkan kaffah. Hingga materi iman, akidah dan syariat tercakup dalam kurikulum pendidikan. Dengannya harapan terwujud generasi tangguh bakal tercapai. Generasi yang kenal Sang Pencipta, jelas tujuan hidupnya serta tunduk pada syariat, Demi meraih ridho Allah SWT dan jannah-Nya. Wallahualam.

Nining Tri Satria, S.Si, Praktisi Pendidikan Kota Bengkulu