Budaya Sabung Ayam

Bengkulu, 23 Maret 1818.

Langit tampak begitu cerah, dedaunan masih basah oleh embun pagi. Sinar mentari yang hangat menelusuk lembut dari sela-sela jendela kamar, mengusik ketenangan seorang bayi mungil yang tengah tertidur pulas di dalam sebuah keranjang besi. Bayi itu addalah Charlotte, puteri semata mayang Raffles dan isterinya, Shopia.

Mendengar tangisan Charlotte itu, tak pelak membuat sang ibu, Lady Raffles beranjak dari tempat tidurnya dan memeriksa keadaan bayi mungil itu. Benar saja, tubuh charlotte telah basah karena mengompol. Dengan segera Lady Raffles mengendong Charlotte dan membawanya keluar dari kamar menuju ke bagian belakang rumah.

“Tolong mandikan dan bersihkan Charlotte,” pinta Lady Raffles kepada salah seorang pelayan di rumahnya.

“Baiklah Lady,” jawab pelayan itu yang dengan segera mengambil Charlotte dari gendongan Shopia.

Lady Raffles lalu berjalan kembali menuju kamarnya. Ia mendapati suaminya masih tertidur pulas. Sebenarnya ia tak tega untuk membangunkannya, namun dilihatnya jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit.

Dengan perlahan Lady Raffles menyibakkan gorden kamarnya, tak pelak matahari pagi itu menyeruak ke dalam kamar dan menerpa wajah suaminya.
Raffles nampak mengerenyitkan matanya dan dengan spontan Raffles menutup matanya dengan tangan “jam berapa sekarang?” tanya Raffles dengan mata yang masih terpejam.

“Sudah jam delapan lewat sayang,” jawab Lady Raffles lembut.

Tanpa aba-aba Raffles pun langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Melihat tingkah suaminya, Lady Raffles hanya tersenyum kecil. Segera ia bereskan tempat tidur dan kemudian berjalan menuju dapur menyiapkan kopi untuk sang suami.

Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, dengan gesitnya seorang pelayan menghambur ke ruang depan dan mempersilahkan dua orang lelaki berkulit putih dengan tinggi rata-rata orang eropa itu masuk dan duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat kehitaman. Lelaki itu tak lain adalah pejabat kompeni Inggris yang ditugaskan untuk menjemput sang letnan gubernur, Raffles untuk memulai aktivitasnya.

“My Lady, apa kau mau ikut ke kantor dan melihat keadaan kota hari ini?” tanya Raffles kepada istrinya sembari menyuap beberapa potong roti ke mulutnya.

“Ide yang bagus suamiku, tapi sepertinya aku mau beristirahat saja di rumah bersama Charlotte,” ucap Shopia dengan seutas senyum di bibirnya.

Raffles menganggukkan kepalanya dan kembali menyantap dengan lahap sarapannya. “Baiklah kalau begitu.”

Setelah sarapan Raffles lalu berjalan ke ruang tamu dan berbincang-bincang sebentar. Kemudian mereka berlalu menuju sebuah andong yang telah siap mengantar mereka berkeliling kota dengan beberapa pengawal bersenjata lengkap yang menunggang kuda.

“Apa kita langsung ke Fort Marlboro tuan?” tanya salah seorang pejabat kompeni inggris.

“Nanti saja, kita berkeliling dulu untuk melihat keadaan kota,” jawab Raffles tegas.

“Baiklah tuan,” jawab pejabat itu lalu memberi kode pada pak Kusir untuk mengarahkan kudanya ke arah yang berlawanan dengan Fort Marlborough.

Di sepanjang perjalanan Raffles mendapati keadaan jalanan yang makin lama makin buruk. Jalanan dalam kota yang harusnya mulus tetapi penuh dengan lubang, batu dan kayu besar yang menghalangi jalan. Sebagian jalan bahkan nampak menyempit karena banyak ditumbuh rumput dan ilalang. Bahkan beberapa bagian jalan sama sekali tidak bisa dilalui karena digenangi air setinggi setengah meter.

“Sudah berapa lama jalanan kota seperti ini?”

“Sudah lumayan lama tuan,” jawab sang pejabat dengan wajah yang sedikit gusar.

“Mengapa tidak diperbaiki?” sambung Raffles datar.

“Maaf tuan, tapi keuangan kita tidak cukup untuk perbaikan jalan,” Jelas pejabat itu.

“Tidak ada uang? bukannya Keresidenan ini penghasil lada utama bagi kita?” kata Raffles tidak percaya.

“Iya tuan…tapi…” kata pejabat itu kebingungan.

“Siapkan buku laporan keuangan lima tahun terakhir, saya akan memeriksanya, semua pemasukan dan pengeluaran,” perintah Raffles tegas.

“Ba..baik tuan…” kata pejabat itu dengan suara bergetar.

Rombongan kemudian tiba di perempatan jalan yang biasa dijadikan pasar di hari minggu. Raffles melihat beberapa orang yang sedang berkumpul. “Berhenti disini,” kata Raffles tiba-tiba.

Sang kusir langsung menghentikan andongnya. Raffles kemudian perlahan turun dari andong. Melihat itu puluhan pengawal langsung turun dari kudanya untuk memberikan pengamanan.
Raffles pun memanggil salah satu dari mereka. Dengan dikawal petugas militer, pemuda yang ditunjuk Raffles datang mendekat.

“Kamu asli orang mana?” tanya Raffles dengan menggunakan bahasa Melayu.

Dengan nada ketakutan, sambil menundukkan kepalanya anak muda itu menjawab “Saya asli pribumi Bengkulu tuan.”

Raffles terdiam sesaat dan memandangi penampilan pemuda keturunan asli Bengkulu yang ada di depannya itu. Ia mengamati sang pemuda sebagai orang yang tidak terlalu tinggi dengan tinggi sekitar 160 sampai 165 cm, kulitnya agak coklat, wajahnya berbentuk agak bulat, hidungnya tidak mancung, matanya hitam bulat namun agak sedikit sipit, badannya kurus dan tidak tegap seperti orang yang kekurangan makanan. Pemuda itu mengenakan celana dari kain yang kasar yang menutupi perut dari bagian bawah pusarnya hingga sebatas lutut, memakai baju yang terbuka di depannya sehingga nampak seperti rompi dan mengenakan sejenis topi di kepalanya.

“Ini apa?” tiba-tiba Raffles bertanya sambil menunjuk ke arah benda yang di pegang sang pemuda Bengkulu.

“Ini ayam, tuan?” jawab pemuda itu singkat.

“Iya saya tahu ini ayam, tapi untuk apa kamu membawanya?” tanya Raffles meneisik penuh curiga melihat sang pemuda dan para pria disana yang hampir semuanya membawa seekor ayam jantan.

“Ka..ka..mi hanya……” pemuda itu kebingungan, ia tidak bisa menjelaskan karena dipelototi para pejabat dan tentara kompeni Inggris yang berdiri di belakang Raffles.

“Kamu jangan bohong, saya lihat apa yang kalian lakukan tadi,” kata Raffles mulai mengancam dengan nada tinggi.

Ancaman Raffles tidak hanya makin menakutkan bagi pemuda pribumi itu tetapi juga membuat takut para pejabat kompeni Inggris. Kumpulan orang-orang yang berada tidak jauh dari situ juga ikut ketakutan, namun mereka tidak berani berlari karena dihadapan mereka puluhan prajurit bersenjata lengkap siap menembak mereka bila mereka berani bertindak macam-macam.

“Ma..ma..af tuan…kami….ha..nya bermain saja,” jawab pemuda itu terbata-bata.

Kemudian dengan tiba-tiba Raffles berbicara dengan suara keras dan tegas “Saya, Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Residen Bengkulu yang baru, apa ada yang berani melawan saya? Apa ada yang berani berbohong kepada saya?” ucap Raffles dengan suara lantang sambil mengacungkan tangannya yang menggenggam sebuah pistol ke langit.

Teriakan Raffles seketika menakutkan seluruh orang yang ada disana. Sang pemuda dan seluruh penduduk pribumi langsung tertunduk lemas penuh ketakutan. Sebagian dari ayam-ayam mereka terlepas dari gendongan mereka. Ayam-ayam yang terlepas itu bertemu satu sama lain dan terjadilah pertarungan antar ayam-ayam itu.

“Masih mau berbohong??!!” teriak Raffles dengan mata melotot sambil menunjuk ke arah ayam-ayam itu.

“Ampun tuan…ampun tuan,” teriak sang pemuda penuh ketakutan. Demikian juga orang-orang yang tadi berkumpul semuanya berteriak minta ampun.

Lalu dengan suara lantang, keras dan tegas Raffles mengumumkan “Mulai hari ini, sabung ayam, baik dalam bentuk permainan ataupun perjudian terlarang di keresidenan Bengkulu. Siapapun yang berani melanggar aturan ini akan dikenakan sanksi berat.”

Suasana menjadi begitu menegangkan, jangankan untuk berbicara saling memandang pun mereka tidak berani. Raffles benar-benar murka melihat kelakuan rakyatnya, seketika ia berlalu meninggalkan mereka yang mematung tanpa kata.

Ditulis oleh Ihsan Joy
Editor oleh Cinthya Lovenna
Komunitas Menulis Bengkulu