Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung; H.Roeslan Abdulgani kembali menyampaikan materi yang memukau pada kuliah umumnya pada hari Senin tanggal 13 Februari 1961. Kuliah umumnya pada saat itu membahas tentang ketegasan sosialisme Indonesia.

Dalam ucapannya yang terangkum dalam buku Pedoman untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat terbitan Permata Surabaya, Roeslan mengawali kuliah umumnya dengan pembukaan.

“Lebih dari tujuh bulan yang lalu saya telah memberikan kuliah umum tentang Perkembangan Cita-cita Sosialisme Indonesia, di kota Malang disini. Di bagian akhir daripada kuliah umum itu saya menegaskan, bahwa; kita melihat dewasa ini tangan si arsitek-arsitek sosialisme a la Indonesia itu sibuk dengan pembentukan MPR, Front Nasional, dan Undang-undang Pemilihan Umum; setelah diselesaikan pembentukan DPR-GR baru-baru ini.” ungkap Roeslan.

Tujuh bulan kemudian MPRS pun sudah terbentuk dan pada November dan desember 1960 sebelumnya telah diadakan sidangnya. Pada sidang tersebut diambil ketetapan bersejarah yakni: Menentukan garis-garis besar haluan Negara, garis-garis besar haluan pembangunan serta polanya, dan proyek-proyeknya.

Setelah cuap-cuap dalam pembukaan kuliah umumnya, Roeslan juga mengatakan bahwasanya akan banyak peninjauan ke belakang atau belajar dari masa lampau.

“Dalam meninjau taraf-taraf pelaksanaannya itu, maka akan banyak saya adakan semacam ‘flashback’ semacam ‘retrospecties’, semacam ‘tengokan ke nelakang’ untuk lebih mempertajam lagi penglihatan kita mengenai situasi dewasa ini dalam rangka perspektif sejarah daripada masa lampau.” ujarnya.

Kemudian barulah Roeslan Abdulgani menyampaikan perihal beberapa ketegasan tentang sosialisme Indonesia.

Yang pertama ialah dibidang Anggaran Belanja dan Rencana Depernas. Menurutnya, ketegasan yang menonjol yang dapat dibaca dalam Amanat Keuangan Presiden tahun 1961 dalam Pleno DPR-GR pada hari Senin tanggal 30 Januari 1961, dimana ditegaskan bahwa Revolusi telah mencapai taraf baru, ialah taraf pembangunan dan bahwa pemerintah menempuh jalan kebijaksanaan, bahwa seluruh Anggaran Negara diperuntukkan sebagai alat pembentuk masyarakat sosialis Indonesia.

Dalam Amanat Keuangan Presiden itu dapat disimpulkan bahwa Anggaran belanja tahun 1961 dibagi menjadi dua bagian yakni Anggaran Pendapatan dan Belanja rutin, dan untuk pembangunan.

Pada pembangunan itu sendiri tertuju pada Depernas dengan pembangunan nasional semesta berencanya yang sudah disetujui oleh MPRS.

Rencana pembangunan tahap pertama Depernas berisikan tripola yaitu pola proyek pembangunan, pole penjelasan pembangunan, dan pola pembiayaan pembangunan yang meletakkan dasar-dasar bagi dua rangkaian kesatuan pembangunan, yakni pembangunan rohaniah dan jasmaniah yang sehat dan kuat serta pembangunan tata perekonomian nasional yang sanggup berdiri sendiri dan tidak bergantung kepada pasang surutnya pasaran dunia.

Dalam pesannya, Roeslan menyampaikan agar mereka yang mengikuti kuliah umumnya pada saat itu untuk mempelajari hasil Depernas itu nanti. “Karena menurut saya hasil Depernas itu nanti merupakan partituurnya daripada lagi sosialisme a la Indonesia, yang menjadi tali pengikat bagi si dirigen dan bagi semua pemain-pemain musiknya.” tutur Roeslan.

Kemudian, ketegasan tentang sosialisme Indonesia yang kedua ialah di bidang ajaran-ajarannya.

Dalam hal ini, Roeslan kembali menukil hasil dari depernas yakni:
– Mengenai gambaran masyarakat sosialis Indonesia, seperti yang dicita-citakan.
– Mengenai dasar pengertian sosialisme Indonesia.
– Mengenai hubungan sosialisme Indonesia dengan Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia.

Sementara itu, dalam menegaskan Amanat Penderitaan Rakyat sebagai dasar-dasar tuntutannya sosialisme Indonesia, Depernas memang sudah menandaskan bahwa:

‘Amanat penderitaan rakyat Indonesia adalah suatu amanat tentang penderitaan dari segenap rakyat Indonesia seperti diakibatkan oleh keganasan dan kezaliman imperialisme, kolonialisme dan feodalisme beratus-ratus tahun lamanya dalam bentuk penghisapan, penjajahan, perbudakan, penindasan dan pengekangan, yang menimbulkan kebodohan, dan kecurangan, kemiskinan dan kenistaan, kelaparan dan kesengsaraan, serta aneka duka dan derita lahir batin lainnya yang hampir melenyapkan Kepribadian Indonesia.

Dengan menghadapkan hati dan jiwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memohonkan kejernihan cipta serta kekuatan lahir batin, Rakyat Indonesia berusaha untuk membebaskan diri dari penderitaan itu.’

Mengenai peninjauan yang agak mendalam terhadap perumusan-perumusan dalam beberapa paragraf dari Depernas tersebut, Roeslan menarik enam kesimpulan.

Di akhir kuliah umum itu Roeslan mengatakan, “Tentang kesimpulan-kesimpulannya saya anjurkan kepada mahasiswa untuk membaca dan mempelajari Amanat Pembangunan Presiden kepada Depernas tanggal 28 Agustus 1959, yang oleh MPRS telah ditetapkan sebagai garis-gars besar haluan pembangunan,” demikian Roeslan. [Eva De]