Akisah, Raja Balanipa berpesan pada panglima Puang Mosso, “Aku akan berburu beberapa hari. Jagalah istriku yang tengah hamil tua. Jika ia melahirkan sebelum aku kembali, kau tahu apu yang harus kau lakukan, bukan?” Puang Mosso mengangguk. Ia tahu jika bayi yang lahir laki-laki, maka ia harus membunuhnya. Raja Balanipa tak mau punya anak laki-laki yang akan menjadi putra mahkota. Karena ia ingin menjadi raja seumur hidup.

Sebelumnya, Raja Balanipa telah membunuh dua anak laki-lakinya. Puang Mosso sebenarnya tak tega, tapi ia tak berani melawan perintah Raja Balanipa.

Tibalah saatnya bagi permaisuri untuk melahirkan. Dan coba tebak, bayinya ternyata laki-laki! Bayi itu sehat dan tampan, tapi Iidahnya berwarna hitam dan berbulu. Permaisuri clan Puang Mosso tak tega jika harus membunuh bayi lagi. Akhirnya Puang Mosso memutuskan untuk mengelabui raja. Ia menyembelih seekor kambing dan menguburkannya.

Saat raja kembali ke istana, Puang Mosso menunjukkan kuburan itu pada raja. Melihat tanah kuburan yang masih baru, raja pun percaya bahwa Puang Mosso telah membunuh putranya. Sebenarnya Puang Mosso menyerahkan putra Raja Balanipa itu pada seorang pedagang yang akan berlayar ke Pulau Salerno.

Di Pulau Salerno, putra Raja Balanipa tumbuh menjadi anak yang lincah dan sehat. Keluarga yang membesarkannya, mendidik dengan balk dan menyayanginya seperti anaknya sendiri.

Suatu hari, anak itu merasa sangat kehausan. Ia memanjat pohon kelapa untuk memetik buahnya. Tiba-tiba, seekor burung rajawali raksasa yang tengah terbang menyambarnya. Rajawali itu mencengkeram dan membawanya terbang jauh sekali. Begitu tiba di Kerajaan Gowa, rajawali itu pun melepaskan cengkeramannya.

Putra Raja Balanipa jatuh ke sawah dan ditemukan oleh seorang petani. Petani itu segera menghadap Raja Gowa dan menceritakan apa yang terjadi. “Bawalah anak itu padaku, aku ingin melihatnya,” kata Raja Gowa.

“Baik baginda, hamba akan membawanya kemari,” jawab petani itu.

Putra Raja Balanipa menghadap Raja Gowa. Saat pertama melihatnya, Raja Gowa merasa anak itu bukanlah anak biasa.

“Badannya bagus dan kelihatan kuat. Jika aku didik, aku yakin ia akan jadi orang hebat,” pikir raja dalam hati.

“Hai anak kecil, coba ceritakan asal-usulmu,” sapa Raja Gowa. Anak itu menceritakan asal-usulnya yang selama ini sering diceritakan padanya.

Raja Gowa mengangguk-angguk dan bertanya lagi, “Apakah kau mau tinggal di sini? Kami akan mendidik dan merawatmu.”

Bocah itu bingung. Sebenarnya ia ingin pulang ke Pulau Salerno, tapi sebagian dari dirinya juga ingin tinggal di Kerajaan Gowa.

Akhirnya ia putuskan untuk menetap di Kerajaan Gowa. Raja Gowa merawat dan mendidik anak itu dengan baik. Ia tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan sakti. Ia juga menguasai ilmu perang dengan baik.

Raja Gowa mengangkatnya menjadi panglima perang clan memberinya gelar I Manyambungi.

Sementara itu, di Kerajaan Balanipa, raja dan permaisuri telah wafat. Kerajaan itu sekarang dikuasai oleh Raja Lego yang kejam. Kerajaan-kerajaan kecil yang berada di bawah kerajaan Balanipa menjadi resah. Mereka berusaha mencari cara untuk menyingkirkan Raja Lego.

“Aku dengar, Kerajaan Gowa memiliki panglima perang yang hebat dan sakti,” kata saiah seorang dari mereka.

“Ya, aku juga pernah mendengarnya. Namanya I Manyambungi. Bagaimana kalau kita menemuinya kemudian meminta bantuannya,” saran yang lain.

Karena semua setuju, mereka pun berangkat menuju Kerajaan Gowa.

“Maaf Tuan, maksud kedatangan kami adalah hendak memohon bantuan Tuan. Kami datang dari kerajaan-kerajaan kecil Polewali Mandar, bermaksud untuk melawan Raja Lego yang kejam,” kata mereka saat menghadap.

“Raja Lego? Siapakah dia?” tanya I Manyambungi.

“Raja Lego adalah raja Balanipa. Ia sangat kejam dan suka menganiaya. Ia memaksa kami untuk memberi upeti yang besar. Jika kami melawan, ia tak segan-segan untuk menindas dan membunuh rakyat kami.”

I Manyambungi terkejut “Bagaimana dengan Raja Balanipa don permaisurinya? Juga Puong Mosso?”

“Raja Balonipa dan permaisurinya telah wafat, sedangkan Puong Mosso, beserta beberapa keluarga kerajaan yang lain berhasil menyelamatkan diri. Bagaimana Tuan bisa mengenal Puang Mosso?” tanya salah satu utusan kerajaan kecil.

I Manyambungi pun menceritakan asal-usulnya. Semua utusan kerajaan kecil itu terkejut, dan mereka segera memberi hormat padanya.

“Mintalah Puang Mosso untuk menemuiku, aku akan membantu kalian jika ia sendiri yang menceritakan semua kejadian sebenarnya padaku,” pintanya pada para utusan.

Atas permintaan kerajaan-kerajaan kecil, Puang Mosso bersedia berlayar ke Kerajaan Gowa. Dalam hati ia merasa sangsi, benarkah I Manyambungi putra Raja Balanipa? Bukankah ia seharusnya ada di Pulau Salerno? Sesampainya di Kerajaan Gowa, I Manyambungi menyambutnya dengan hangat.

Puong Mosso berkata, “Maaf jika hamba kurang sopan. Namun maukah Anda memperlihatkan lidah Anda padaku?” I Manyambungi pun menunjukkan lidahnya.

Ternyata benar, lidahnya hitam dan berbulu. Tak salah lagi, I Manyambungi benar putra Raja Balanipa. Mereka lalu terlibat pembahasan serius tentang rencana untuk menyerang Raja Lego.

Hari yang ditentukan akhirnya tiba. I Manyambungi dan Puong Mosso berangkat ke Kerajaan Balanipa. Dibantu oleh bala tentara Kerajaan Gowa, mereka menyerang posukan Raja Lego. Rakyat Balanipa juga ikut dalam pertempuran itu, mereka juga sudah tak tahan dengan kediktatoran Raja Lego. I Manyambungi berhadapan sendiri dengan Raja Lego.

Akhirnya Raja Lego tewas di tangan I Manyambungi. Rakyat menyambut gembira kemenangan tersebut. Sejak peristiwa itu, I Manyambungi dikenal dengan nama Panglima To Dilaling. Ia dinobatkan menjadi raja di Bukit Napo, salah satu kerajaan di daerah Polewali Mandar. [Eva De]