Pada tanggal 2 Juli 1960, H. Roeslan Abdulgani mengadakan kuliah umum dalam peringatan Dies Natalis ke III dari PTHPM di Malang pada hari Sabtu. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan perihal perkembangan cita-cita sosialisme di Indonesia.

Ajakan Presiden Sukarno kepada seluruh masyarakat Indonesia, untuk bersama-sama dengan Pemerintah dan semua aparatur Negara melaksanakan sosialisme Indonesia, sebagai salah satu pokok Amanat Penderitaan Rakyat, telah mendapat sambutan yang luar biasa dimana-mana.

Dirangkum dari buku Pedoman untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat yang diterbitkan oleh penerbit Permata Surabaya, Roeslan Abdulgani saat itu mengungkapkan, “Menurut pendapat saya maka juga lingkungan-lingkungan yang menuntut ilmu pengetahuan seperti perguruan-perguruan tinggi, tidak boleh dan tidak dapat ketinggalan dalam sambutannya terhadap ajakan ini.”

Ia melanjutkan, “Sebab apa? Sebabnya ialah bahwa cita-cita sosialisme tidak hanya mengandung unsur-unsur ilmiah, tapi juga mendasarkan segala pelaksanaannya atas hasil penyelidikan secara ilmiah.”

Dalam pernyataannya, Roeslan juga menerangkan tentang Perguruan Tinggi Malang yang sejak tiga tahun telah memulai dengan jurusan Hukum dan Pengetahuan Masyarakat dan memulai dengan jurusan Pertanian dan jurusan Kedokteran Hewan, maka tidak sulit bagi seorang luaran seperti untuk menarik kesimpulan bahwa tentu ditiga jurusan itu telah dan akan diajarkan ilmu ‘Sosiologi’.

Baginya, ilmu ‘Sosiologi’ sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan mempelajari segala seluk beluk masyarakat-manusia, maka haruslah mengetahui bahwa ilmu tersebut bukan satu-satunya yang berbuat demikian.

“Dalam hal ini, ilmu Sosiologi tidak berdiri sendiri. Bersama dengan ilmu Ekonomi, ilmu Sejarah, ilmu Politik dan lain-lain ilmu lagi, maka Sosiologi masuk dalam keluarga ‘Sosial Sciences’. Malahan ia adalah anggota keluarga yang tergolong muda.” ujar Roeslan.

Bila seorang ‘economist’ mempelajari penghasilan dan penyebaran serta pembagian daripada kekayaan alam dalam arti yang seluas-luasnya; bila seorang ‘historian’ mencoba menyusun hubungan-hubungan antara kejadian dari jaman yang lalu.

Dan bila seorang ahli ilmu politik mempelajari dan menganalisa konsentrasi dan distribusi kekuasaan politik dalam berbagai-bagai masyarakat dan negara; maka masing-masing dari mereka sebenarnya hanya memusatkan perhatiannya atas satu segi dari keseluruhan masyarakat.

Seperti penjelasan Roeslan yang mengatakan bahwa Ilmu sosiologi mencoba untuk melihat masyarakat dalam keseluruhannya mencoba mengsynthesir ddan menggeneralisir seluruh gerak masyarakat. Sosialisme sebagai satu ide, sebagai satu cita-cita, meliputi seluruh segi masyarakat; malahan memandang masyarakat sebagai suatu rangkaian kesatuan.

“Sosialisme sebagai suatu gerakan dewasa ini telah berhasil membangunkan 13 Negara meliputi kurang lebih 1000 juta umat manusia. Oleh karena itu tidak heran kiranya bahwa di perguruan-perguruan tinggi diluar negeri yang pernah saya kunjungi baik dinegara-negara Barat maupun Timur aliran-aliran sosialisme, termasuk Marxisme, diajarkan dalam mata pelajaran sosiologi.” ujarnya.

“Itulah sebabnya, maka saya berpendapat bahwa ajakan Presiden kita untuk melaksanakan sosialisme harus pula mendapat perhatian dan sambutan oleh setiap Perguruan Tinggi sebagai sesuatu hal yang wajar, sejalan dengan apa yang dikatakan oleh seorang negarawan Inggris bahwa ‘a University should be a place of Light, of Liberty and of Learning’ (Perguruan Tinggi haruslah menjadi tempat Cahaya, Kebebasan dan Pembelajaran). [Eva De]