Pendorong Depernas supaya merencanakan proyek A dan B bersumber kepada pidato Presiden di depan Universitas Heidelberg am Neckar, yang diucapkan 16 hari sesudah hari tahunan kepala negara yaitu pada tanggal 22 Juni 1956. Pidato tersebut menyuarakan kepada dunia internasional bahwa tanah air Indonesia sungguh-sungguh sangat kaya raya dan kekayaan itu berlimpah-limpah.

Dalam buku Pedoman untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat oleh Penerbit Permata Surabaya, paragraf pidato tersebut dalam bahasa Jerman. Kemudian setelah diartikan, kalimat per kalimatnya berbunyi sebagai berikut:

“Saya berbicara disini sebagai wakil Indonesia. Tuan-tuan telah mendengar suara Indonesia dari mulut saya. Saya harap tuan-tuan akan berusaha mempelajari dan mengenal Indonesia. Indonesia adalah sahabat tuan-tuan. Saya harap, supaya uraian saya menambah sedikit pengertian tentang nusantara yang terletak jauh diantara Lautan Teduh dan Samudera Hindia dan yang merupakan jalan besar diantara Eropa dan Australia.

Seringkali Jerman diumpamakan sebagai jantung Eropa. Kedudukan kami tidak kurang pentingnya, mungkin juga kedudukan kami lebih penting lagi. Kami berada di persimpangan diantara dua benua dan dua samudera besar. Dan kami kaya, kaya raya sebagaimana cerita dongeng, walaupun baru hanya sedikit saja yang kami korek dari kekayaan itu. DIlihat dari sudut ekonomi kedudukan kami strategis, dari sudut politik strategis, dari sudut militer strategis. Kami adalah strategis dalam ruang dan waktu.

Memang sesungguhnya waktu itu adalah strategis. Tepat pada waktu dunia sedang gelisah, disana di Indonesia sedang menyala api besar, yakni api nasionalisme. Disitu, sewaktu dunia sedang bimbang, bangun 80 juta manusia untuk memperjuangkan kemerdekaan dan hidup lebih baik. Api itu, kebangunan nasional itu adalah satu bagian dari api besar yang menyala di Asia satu bagian dari taufan di Asia, yang sering ditulis dalam buku-buku, tetapi jarang dipahamkan.”

Pidato Heiderberg Bung Karno di ataslah yang mendorong Depernas bagaimana kekayaan alam Indonesia yang melimpah itu dapat digunakan bagi pembangunan semesta, supaya kebahagiaan rakyat senantiasa dapat naik meningkat.

Kebahagiaan dan kesejahteraan yang tercapai dalam tahapan demi tahapan akan membawa Bangsa Indonesia ke Masyarakat Sosialis Pancasila yang diidam-idamkan revolusi. Kemudian berdirilah dan bekerjalah Depernas dalam menghadapi suasana tersebut, dan hal itu dimungkinkan oleh Republik Indonesia sejak 5 Juli 1959 ke UUD 1945 yang berisi Amanat Penderitaan Rakyat dalam kata Mukaddimahnya.

Karena digerakkan oleh Amanat Heidelberg yang berisi kenyataan tentang alam Indonesia, dan dengan berpegang teguh kepada Amanat Penderitaan Rakyat serta Manipol, maka dibentuklah oleh Depernas Proyek A dan proyek B pembangunan semesta nasional berencana. [Eva De]