Aktor Korea Kim Woo Bin mengidap kanker nasofaring

Kanker nasofaring merupakan keganasan yang muncul pada daerah nasofaring, yaitu area di atas tenggorok dan di belakang hidung.

Di Indonesia, kanker nasofaring berada di urutan ke-4 kanker terbanyak secara keseluruhan setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker paru. Oleh sebab itu, penting sekali mengenal lebih jauh jenis kanker ini agar dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kanker nasofaring.

Daerah nasofaring tepatnya terletak di belakang atap mulut dan di bawah dasar tengkorak. Lubang hidung membuka ke arah nasofaring sehingga ketika bernapas, aliran udara akan mengalir dari hidung ke tenggorok dan nasofaring, lalu akhirnya ke daerah paru. Letak nasofaring yang tersembunyi menyebabkan area ini tidak mudah untuk diperiksa selain oleh dokter yang ahli, sehingga membuatnya sering terlambat dideteksi.

Berbagai jenis tumor dapat terjadi di area nasofaring. Tumor ialah pertumbuhan jaringan yang abnormal. Tumor dapat bersifat jinak ataupun ganas, yang mana tumor ganas dikenal sebagai kanker. Penamaan tumor biasanya merefleksikan jenis jaringan asal dan dapat pula menunjukkan bentuk dan pertumbuhan seperti kanker nasofaring yang berasal dari area tersebut.

Dilansir dari KlikDokter, penyebab pasti kanker nasofaring hingga saat ini masih terus dicari. Namun, para ahli telah menemukan bahwa terjadinya kanker nasofaring berhubungan dengan jenis makanan tertentu, infeksi, dan karakteristik keturunan.

Beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker nasofaring antara lain:

– Ras

Berdasarkan beberapa penelitian medis yang telah dilakukan, kanker nasofaring banyak ditemukan pada negara dengan ras mongoloid seperti Cina, Hong Kong, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Kejadian terbanyak di dunia terdapat di provinsi Cina Selatan, sedangkan di daerah Eropa dan Amerika Utara, kanker nasofaring sangat jarang ditemukan.

– Jenis kelamin

Laki-laki lebih sering mengalami kanker nasofaring dibandingkan dengan perempuan. Perbandingannya adalah 2:1.

– Makanan

Kebiasaan mengonsumsi makanan yang diawetkan dan tinggi garam seperti ikan asin, daging, atau sayuran yang diawetkan dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker nasofaring. Berdasarkan penelitian yang ada, makanan yang diawetkan dengan cara ini dapat memproduksi senyawa kimia yang dapat merusak DNA. Bahan kimia yang dilepaskan dalam uap saat memasak makanan yang diawetkan dapat masuk ke rongga hidung dan meningkatkan risiko kanker nasofaring. Jika DNA rusak, maka kemampuan sel untuk mengontrol pertumbuhan dan replikasi sel kanker akan terganggu.

– Infeksi virus Epstein-Barr

Virus Epstein-Barr (EBV) terdapat di hampir semua sel kanker nasofaring. Infeksi EBV sangat umum terjadi dan sering kali terjadi pada masa kanak-kanak. Memang tidak semua orang yang terkena infeksi EBV akan mengalami kanker nasofaring, tapi hampir semua penderita kanker nasofaring memiliki riwayat adanya infeksi EBV.

Di negara maju, infeksi EBV sebagian besar hanya berkembang menjadi penyakit mononukleosis. Kerusakan DNA akibat infeksi virus EBV menyebabkan sel untuk tumbuh dan membelah secara abnormal, sehingga menyebabkan kanker.

– Riwayat keluarga

Memiliki keluarga yang mengalami kanker nasofaring, seperti orang tua, akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini. Beberapa gen juga sedang diteliti mengenai hubungannya dengan kejadian kanker nasofaring.

– Faktor lingkungan

Iritasi oleh bahan kimia seperti formaldehida, asap sejenis kayu tertentu, kebiasaan merokok, dan mengonsumsi alkohol dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker nasofaring.

Kanker nasofaring memang disebabkan oleh berbagai macam faktor. Sebagian besar faktor penyebab memang sulit dihindari. Meski demikian risiko terjadinya kanker nasofaring bisa diperkecil dengan mengurangi konsumsi makanan yang diawetkan dan tinggi garam, kurangi kebiasaan merokok, dan minum minuman beralkohol.

Perbanyaklah konsumsi sayur dan buah yang banyak mengandung vitamin dan antioksidan. Percayalah, tubuh sehat diawali dengan gaya hidup yang sehat. [Eva De]