Ayunkan Cangkul Pembangunan Semesta merupakan amanat Negara kepada Presiden Sukarno pada pembukaan sidang pertama Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang digelar di Bandung pada hari Pahlawan tanggal 10 November 1960.

Dalam pidatonya itu, Bung Karno menekankan kembali perihal Amanat Penderitaan Rakyat. Kemudian seperti yang tertera dalam buku Pedoman untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat yang diterbitkan oleh Penerbit Permata Surabaya pada Era Demokrasi Terpimpin, Chaerul Saleh selaku ketua MPRS juga menyampaikan pidatonya dalam penutupan sidang I tanggal 7 Desember 1960 di Bandung. Berikut bunyi pidatonya.

“Paduka yang Mulia Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang/Pemimpin Besar Revolusi, Sukarno.

Tamu Agung Paduka Yang Mulia Presiden Pakistan Marsekal Mohammad Ayub Khan.

Para Anggota MPRS dan hadirin yang kami muliakan.

Tepat dua puluh tujuh hari sesudah kita melakukan pembukaan sidang pertama MPRS pada tanggal 10 Nopember yang lalu, maka pada hari ini tanggal 7 Desember 1960, kita melangsungkan rapat pleno ke-IX untuk penutupan MPRS ini.

Dalam waktu 27 hari MPRS telah menyelesaikan tugas-tugasnya seperti dipikulkan di atas pundaknya oleh Undang-undang Negara, dan dalam batas waktu sesuai dengan harapan Paduka Yang Mulia Presiden seperti tersimpul dalam Amanat Negara 10 Nopember 1960.

Dengan memanjatkan do’a puji terima kasih yang tak terhingga kepada Tuhan Yang Maha Esa, MPRS bersama-sama dengan seluruh rakyat Indonesia bersyukur atas hasil karya kita bersama seperti tercantum dalam Ketetapan No. I dan No. II/MPRS/1960.

Dengan kedua Ketetapan Majelis Tertinggi Republik Indonesia ini, menjadi jelas dan tegaslah kini garis konsepsionil mengenai ideologi nasional Indonesia, seperti tergaris dalam Manifesto Politik dan Pola Pembangunan Nasional Semesta-Berencana untuk menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila atau Sosialisme Indonesia, sebagai perwujutan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Tercapailah kini penetapan Garis Revolusi kita yang Merdeka. Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur.

Jelaslah kini bagi seluruh Rakyat Indonesia dan Seluruh dunia, bahwa sekalipun Revolusi Indonesia dapat berjalan terus met of zonder MPRS, tetapi sekarang nyata bahwa MPRS dapat dan mampu menyertai lagi gerak Revolusi Indonesia, ya bahkan kini MPRS dapat memberikan penegasan akan garis-garis besar haluannya.

Disertai karya MPRS ini, Paduka Yang Mulia Presiden dapat mengayunkan cangkul pertama untuk pembangunan pada tanggal 1 Januari 1961, cangkul Indonesia asli. Karya kita bersama yang gemilang dalam jangka waktu yang pendek ini, dapat terlaksana berkat semangat MPRS yang berpegang teguh pada semboyan “Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe” degan senantiasa melaksanakan kelima asas musyawarah dalam bentuk :

– Rasa-merasa guna memperhatikan suasana spikologis lingkungan dan sesama.

– Tenggang-menenggang untuk melaksanakan gairah jiwa bermurah hati atau toleransi.

– Timbang-menimbang guna mencari keadilan.

– Akal-sehat guna mendapatkan kebenaran.

– Keikhlasan yang meringankan kehendak dan menimbulkan keberanian untuk membatasi diri, bahkan jika perlu menyampingkan kepentingan sendiri demi kepentingan bersama, yakni: Kepentingan Nasional Indonesia.

Betapa indah dan moleknya unsur-unsur Demokrasi Indonesia Asli ini, yang ternyata dapat mengemudikan hidup kemasyarakatan dan hidup kenegaraan kita bersama guna mencapai cita-cita kita sebagai bangsa, yaitu: melaksanakan amanat penderitaan rakyat.

Terpancang teranglah kini unsur kodrati kepribadian-kepribadian bangsa Indonesia, yang hidup segar ditengah-tengah pertumbuhan cita-rasa dari sekalian bangsa-bangsa dalam tata-hukum pegaulan umat manusia. Semoga dengan telah terbuktinya pelaksanaan azas-azas musyawarah dan mufakat dalam rangka Demokrasi Terpimpin untuk mewujudkan hikmah-kebijaksanaan dikalangan kekeluargaan MPRS ini.

Tergerak bangunlah seluruh rakyat Indonesia untuk menyegarkan kembali pusaka berharga naluri Indonesia sepanjang masa dan mudah-mudahanlah dalam kesegaran kepribadian bangsa Indonesia itu seluruh rakyat Indonesia bergerak serentak melaksanakan ketetapan-ketetapan MPRS dengan laju menuju kepelabuhan harapan: Masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila.

Ditengah-tengah rasa syukur gembira, seluruh kekeluargaan MPRS ingin melahirkan asa terimakasih bahwa pada saat kita akan melakukan penutupan sidang pertama ini, suasana kekeluargaan kita diperhias dengan kehadiran Paduka Yang Mulia Presiden Pakistan Marsekal Mohammad Ayub Khan, yang sungguh menambah semerbak keasrian suasana pada rapat pleno penutupan malam ini.

Mengiringi sambutan meriah seluruh rakyat Indonesia terhadap tamu angungnya perkenankanlah saya melahirkan ucapan selamat datang MPRS kepada Paduka Yang Mulia Presiden Pakistan Marsekal Ayub Khan, saya mengharapkan semoga kunjungan beliau menambah erat karibnya hubungan persahabatan yang telah ada.

Pada rapat pleno ke-9 untuk penutupan sidang yang pertama MPRS pada malam ini, kita mendapat kehormatan untuk mendengarkan kata sambutan dari PJM Presiden Soekarno, Panglima Tertinggi Angkatan Perang/Pemimpin Besar Revolusi,” [Eva De]