Sore itu, di taman kota ada banyak sekali orang berkumpul. Ada yang berlarian, ada yang bermain ayunan, dan ada yang tertawa riang.

Sedangkan aku hanya mampu menatap semua itu dengan lamunan. Tanpa kusadari sebuah sentuhan lembut di tanganku membuatku terkejut.

“Kamu melihat siapa Rin?” tanya Baim.

Baim adalah temanku yang selalu bersikap baik padaku.

“Ti… ti dak.. aku tidak melihat siapa-siapa kok,“ jawabku.

“Arin, aku tahu siapa kamu, kamu tidak perlu berbohong kepadaku. Aku adalah teman kecilmu, jadi aku tahu betul kalo kamu sedang berbohong,“ jawab Baim.

“Maafkan aku Im,” jawabku.

“Ayo kita pergi,“ jawabku pula.

Lalu kami pun pergi meninggalkan pusat kota menuju pantai. Semilir angin pantai yang tenang membuat suasana makin santai, hempasan ombak yang datang menambah indahnya ciptaan tuhan yang satu itu, disertai dengan pasir putih dimana ramai orang bermain rumah pasir-pasiran. Aku dan Baim memang sejak kecil sangat menyukai pantai, jadi tidak jarang pula kami bermain pasir dan kejar-kejaran ombak.

Senja sore pun datang, itulah saat yang kami nantikan. Warnanya sangat indah membuat hati tenang menjadi tambah tenang, bahkan pikiran yang kacau pun bisa berubah dalam sekejap ketika telah memandangnya. Di sepanjang pantai banyak ditumbuhi pohon kelapa dimana kami biasa duduk di bawahnya di suatu tempat sederhana berbentuk pondok kecil terbuka. Kami sangat suka menikmati sunset dengan di temani es kelapa muda kesukaanku.

“Hei, kamu kenapa lagi Rin, kok melamun lagi?” tanya Baim memecahkan keheningan.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat. Entah kenapa hari itu perasaanku sedang tidak ingin banyak bicara.

Senja sore mulai berlalu, matahari sudah tenggelam dan bulan pun mulai menggantikannya.

“Ayo kita pulang,“ kataku.

Teman kecil ku itu hanya menurut saja, karna dia tahu jika aku akan marah kalau dia menolaknya. Di jalan pulang aku memang sengaja mengajak Baim berhenti di sebuah restoran yang agak terkenal di kotaku, dan Baim pun menuruti kehendakku juga.

“Silahkan turun tuan putri,“ kata Baim sambil membukakan pintu mobil.

Aku turun, berjalan sambil mengikuti sahabatku itu, berjalan dengan sambil dengan tatapan kosong.

“Hei!“ suara Baim memecah lamunanku.

“Mau duduk dimana neng?“ katanya lagi.

“Terserah“ jawabku.

Lama aku terdiam lagi. Sambil menunggu pesanan datang, Baim terlihat hanya sibuk dengan gadgetnya. Aku tahu ia pengen ngobrol denganku tapi ia juga tahu kalau aku lagi badmood.

“Makanannya udah datang oon,“ kata Baim membuyarkan lamunanku.

“Iya bawel,“ jawabku ketus sambil tersenyum manis kepadanya.

Makanan yang lezat di restauran itu sejenak mampu kegundahan hatiku. Lalu kamu memutuskan untuk pulang karena malam sudah menjelang. Setelah sampai dirumah, ibuku sudah menunggu di depan pintu. Mungkin dia khawatir anak gadisnya pulang kemalaman.

“Kamu ini selalu pulang lewat batas, dari mana saja kamu?“ kata ibuku dengan suara agak meninggi.

“Dari main sama Baim,“ jawabku santai tak acuh.

“Kamu ini, dibilangin orang tua malah ngelawan,“ jawab Ibu dengan suara yang makin meninggi. Terlihat wajah ibu yang cemas dan dan menahan marah.

Tapi aku hanya berlalu meninggalkannya. Aku tidak mau lagi mendengarkan perkataannya.

“Arin, Arin….“ teriak Ibu memanggilku dengan suara yang keras.

Ku tutup pintu kamarku dan ku bantingkan tubuhku ke atas kasur sambil menangis.

“Ngertiin aku sebentar saja, please!“ teriakku di dalam hati.

Ku rasa tubuhku sangat letih, tak lama aku pun terlelap. Di dalam tidur aku merasa seperti bertemu dengan nenekku. Aku merasa Cuma dia orang yang paling menyayangiku di dunia ini.

“Kau berhak bahagia Nak,” bisik nenekku.

“Tapi bagaimana dengan Mama Nek, dia sangat membenciku,” ucapku.

“Percayalah semua akan kembali semula,“ ucapnya lagi.

Kemudian aku terbangun dari tidurku di sambut dengan nyanyian burung dan sapaan sang embun pagi. Seperti biasa, Ibuku memulai pagi dengan teriakan yang membuat kepalaku pusing namun seperti biasa pula aku menutup kedua telingaku dengan headset sembari bernyanyi mengikuti lagu yang kuputar.

“Di panggil nggak pernah dengar,“ katanya dengan emosi sambil membuka pintu kamarku.

Aku tak menghiraukannya, bukan aku tidak tahu bahwa Mama ada di kamarku, hanya aku berpura-pura saja. Kemudian dia pun pergi meninggalkan kamarku dengan membanting pintu dengan kera. Kulepas headset kemudian berjalan menuju teras kamar. Kulihat banyak burung yang riang bernyanyian, terbang kesana-kemari, berkumpul bersama dan terbang bersama.

“Coba aja aku bisa kayak burung itu, hidup bebas tanpa ada teriakan apapun, tanpa beban apapun juga, aku lelah dengan semua ini,“ ucapku pelan.

“Sabar Non, ibumu akan menyadari segera bahwa Non sangat menyayanginya,” ucap Bi Amy mengagetkanku.

“Tapi kapan Bi?” ucapku kepada Bi Amy sambil memeluknya.

Aku dari kecil memang selalu bersama Bi Amy, karna keluargaku boleh dibilang broken home dan lebih sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sedangkan adikku baru saja meninggalkanku untuk selamanya 3 bulan lalu karna kecelakaan. Hanya Bi Amy yang ku punya saat ini. Beliau sangat menyayangiku selayaknya anak kandungnya sendiri. Aku juga telah menganggapnya sebagai ibuku.

Pagi itu matahari bersinar sangat cerah, aku turun dari kamar menuju meja makan untuk sarapan.

“Mama akan pergi ke Bandung untuk beberapa hari karna ada urusan pekerjaan,“ ucap Mama sambil matanya terus menatap handphone-nya
Aku tetap melanjutkan sarapanku, tanpa memperdulikan siapa yang berbicara.

Sejak berpisah dari papa 5 tahun lalu, Mama memang cenderung membenci semua orang, entah apa motivasinya aku tidak mengerti. Aku lebih memilih untuk tidak ingin tahu semuanya, termasuk tentang Mama.

“Bi, aku berangkat ya,“ ucapku kepada Bi Amy.

“Iya non Arin, hati-hati ya non,” ucapnya sambil menciumku.

Mama tetap saja memperhatikan handpone nya tanpa menghiraukan aku yang pamit pergi kepada Bi Amy.

“Saya juga pergi ya Bi,“ ucapnya kemudian sambil berdiri.

Hari kesialan ku pun tiba, motor yang biasa ku naiki tiba-tiba nggak bisa nyala sama sekali.

“Ya udah, bareng ibu aja non,” kata Bi Amy sambil membuka pintu mobil Mama.

Aku masuk dengan langkah terpaksa, tapi Mama tetap tidak memperdulikan ku, meskipun aku ada di sampingnya. Kami pun terjebak macet parah sehingga menyebabkan aku akan terlambat datang ke sekolah. Ku buka pintu mobil, berniat untuk jalan kaki mencari ojek. Lalu Mama meraih tanganku.

“Duduklah di sini, aku yang akan bertanggung jawab jika nanti kau dimarahi di sekolah,“ kata Mama tanpa melihat ke arahku. Aku pun duduk kembali, tapi lebih dekat dengannya.

“Begini saja ya, jika Mama tak senang dengan ku kau katakan saja,” ucapku membuka keheningan.

Dia menatapku, entah apa yang ada di benaknya, yang ku tahu dia pasti sedang memikirkan akan jawaban dari pertanyaan singkatku. Aku tidak mengerti mengapa ia berubah padaku, mungkin saja dia masih emosi karna papa meninggalkan kami demi wanita lain. Tapi aku tidak pernah berfikir begitu, aku berfikir memang itulah wataknya.

“Untuk apa kamu tahu? Bukan kah dari dulu kamu tidak pernah ingin tahu semuanya,“ jawabnya singkat.

Mama memang benar, aku memang tidak pernah ingin tahu tentang semuanya termasuk urusannya, aku hanya menghabiskan waktuku bermain bersama adikku, namun ketika dia tiada aku hanya mnghabiskan waktuku bersama Baim, bermain bersama anak jalanan, dan semua teman-temanku yang lainnya, karna aku tidak ingin berlarut setelah ditinggal adikku.

“Aku mau turun,“ ucapku karena kami telah sampai di gerbang sekolahku.

Ia tidak mengubrisku sama sekali, kemudian mobilnya melaju meninggalkanku di depan gerbang sekolah.

“Apa salah aku tidak memperhatikannya? Apa salah aku tidak peduli dengannya? Apa salah juga aku hanya menghabiskan waktu sesuai seperti apa yang aku suka ?K semua ini berakhir? Kapan aku berhenti diperlakukan seperti burung terus? Kapan, kapan, dan kapan?” ucapku dalam hati.

“Mau masuk nggak?“ kata satpam sekolah. Aku kaget lalu kemudian berjalan masuk kedalam kelas dan bergegas menuju ruang kelasku. Ternyata pelajaran pertama telah di mulai. Aku telat.

“Kamu telat lagi Rin? “ kata pak guru menegurku.

“Maaf pak, Macet pak,“ jawabku singkat.

“Itu saja alasanmu setiap hari, jika kamu tidak senang dengan pelajaran saya silahkan keluar,“ ucapnya kemudian.

Aku yang tengah berjalan menuju bangku pun mutar balik, sambil menatapnya penuh dendam aku pun keluar kelas meninggalkannya.

“Kamu mau kemana? Baru aja datang udah main pergi aja,“ katanya mencegah langkahku.

“Pergi Pak, bukankah bapak yang bilang begitu barusan?“

Aku berlalu meninggalkan kelas. Karena gak tahu mau kemana, akhirnya aku melangkahkan kakiku menuju kantin. Disana aku bertemu Baim.

“Kirain nggak dateng,” katanya.

Aku diam saja sambil duduk di sampingnya, menghirup teh dan menyantap makanan pesanannya.

“Kamu kenapa? Masalah nyokap lagi?“ tanya Baim kemudian.

Aku pun menatapnya penuh harap.

“Aku nggak tahu dia kenapa Im, selalu saja aku yang salah,“ ucapku tertahan.

“Apa salah ku Im sehingga dia membenciku,“ sambungku kemudian.

Baim merangkul dan mencoba menenangkanku.

“Semua akan baik-baik saja Rin, percayalah,” ucapnya kemudian.

“Sampai kapan Im? Sampai aku seperti adikku?“ kataku padanya.

“Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, kamu hanya belum memahami cara ibumu memperlakukanmu,“ jawabnya tenang.

Aku pun memeluknya, karena ku tahu ia adalah kakak, pacar, adik, sekaligus ayah terbaik dalam hidupku meski dia hanyalah sahabat ku dari kecil.

Bel istirahat pun berbunyi, semua siswa keluar kelas untuk jajan, ada yang ke perpustakaan, dan ada pula yang duduk di taman sekolah. Sedangkan aku harus ke ruang kepala sekolah akibat apa yang kualami dengan guru bahasa Inggris tadi pagi.

“Sampai kapan kamu kayak gini terus? Sampai kamu tua? Ingat Rin, kamu sudah kelas XII dan sebentar lagi bakal ujian, bapak tidak mau hasil kamu nanti mengecewakan sekolah dan diri kamu sendiri,“ ujar kepala sekolah.

“Jadi bapak memanggil saya ke sini hanya untuk mengejek saja?“ ucapku geram.

Sejak kepergian adikku aku memang berubah kasar, menjadi malas melakukan segala hal, bahkan mempunyai niat untuk mengakhiri hidupku saja. Tapi pikiran bodoh itu ku buang jauh-jauh. Karna sebetulnya aku sangat menyayangi Mama, apalagi cuma dia yang aku punya, hanya saja sifat egoku merubah segalanya bahkan mengubah rasa sayangku padanya. Aku sangat berharap Mama berubah padaku tidak dingin lagi seperti sekarang.

“Begini bu, sejak 3 bulan terakhir tingkah laku Arin mulai berubah, apalagi sekarang dia menjadi malas-malasan untuk belajar kami takut itu akan mempengaruhinya saat melakukan ujian nanti,“ ucap kepala sekolah kepada Mama, dan dia pun menatapku.

“Mungkin dia masih terpuruk dengan kepergian adiknya pak, saya akan coba menasihatinya,“ jawab Mama kemudian.

“Baiklah bu,” ucap kepala sekolah, lalu Mama pun berpamitan untuk bekerja kembali.

Di luar ruang kepala sekolah, disaat ia sedang melangkah aku pun meraih tangannya.

“Mengapa Mama masih mengurusi urusanku? Bukankah Mama tidak pernah peduli padaku? Sudahlah biarkan saja aku yang menanggung semua amarah kepala sekolah, apa peduli ibu tentang aku Ma? Mengapa Mama sangat membenciku?” suaraku terhenti karna tak sanggup lagi, air mataku sudah membanjir dan aku pun berlari meninggalkannya ke halaman belakang sekolah.

“Menangislah sepuas yang kau mau Nak,“ ucap guru BK yang dari tadi mendengarkan perbincanganku dengan Mama dan mengikuti langkahku pergi.

“Ibu kenapa ada di sini?“ tanyaku padanya sembari menghapus air mataku sambil tersenyum.

“Tidak perlu bertanya dan jangan berpura-pura nak, Ibu tahu semuanya,“ jawabnya kemudian.

“Aku permisi bu, sepertinya sebentar lagi bel pelajaran akan berbunyi,” kataku mengalihkan pembicaranku kemudian berlalu meninggalkannya.

Tapi aku tetap merasa ia masih memperhatikanku dari kejauhan.

“Dari mana saja kau? Ku cari dari tadi,“ tanya Baim mengagetkanku, aku pun memandangnya.

“Arin, kau kenapa? Siapa yang menyakitimu? Mengapa kau menangis?“ tanyanya lagi.

Aku pun meninggalkannya menuju kelasku, dia pun mengejarku dan duduk di bangku sebelahku.

Hanya kami berdua di dalam ruangan itu, Baim menatapku penuh harapan agar aku menjawab semua pertanyaannya. Dan aku pun menangis di pundaknya.

“Kapan semua ini berakhir? Aku lelah Tuhan,” suaraku dalam isak tangisku.

Baim hanya mengelus rambutku dan mencoba menenangkanku.

“Pulang sekolah nanti aku ingin jalan-jalan denganmu di taman sebelah lampu merah,“ katanya mulai menghiburku.

“Nanti anak-anak akan menunggu kita di situ,“ ucapnya lagi.

Bel pulang sekolah berdering, aku mulai keluar kelas dan menuju tempat yang tadi di tunjukkan oleh Baim. Dan benar saja temanku yang lain telah berkumpul di sana, ini merupakan kebiasaanku yaitu menghabiskan waktu bermain bersama anak jalanan di dekat sekolahku. Kadang kami juga mengamen hanya untuk membantu mereka mencari makan.

“Untung saja hidupku tidak seperti mereka, tapi mengapa mereka tetap bahagia?” pikirku.

Itu adalah satu- satunya pertanyaan yang tidak pernah ku ketahui jawaban nya. Menurutku bahagia adalah tentang segalanya bisa di miliki, namun aku juga sering berfikir bahwa aku mempunyai segalanya tapi aku tidak bahagia begitupun sebaliknya dengan mereka.

“Karena bahagia adalah di mana saat semua yang kau anggap tanggung jawabmu telah terpenuhi, bersuyukur adalah jawabannya,” kata Baim yang seolah mengerti apa yang ada dalam fikiranku.

Waktu telah menunjukkan pukul 15:30. saatnya aku pulang ke rumah. Tiba tiba…

Gubrakkkk,…. dan aku terhempas di tepi jalan.

Sempat ku buka mataku, kulihat Baim yang sudah berlari mengejarku, kulambaikan tanganku padanya dan kemudian mataku pun terpejam. semua menjadi gelap dan hening.

Tepat pukul 02:00 WIB malam di rumah sakit, ketika aku sadar ternyata Mama dan Baim sudah di sampingku. Kulihat muka Mama yang sangat letih menjagaku, ku belai pelan rambutnya sambil meneteskan air mata.

“Kau sudah sadar nak?“ katanya mulai sadarkan diri karna aku menyentuhnya.

“Dokter, suster,“ teriaknya kemudian, sentak saja Baim bangun karna teriakan Mama.

Ketika dokter datang, Mama dan Baim di suruh menunggu keluar. Kuraih tangan Mama. Mama melihatku dan aku membalas tatapannya dengan harapan ia terus menemaniku. Baim pun keluar dan Mama di sampingku. Setelah semua selesai, Mama duduk di sampingku, memegang erat tanganku sambil menangis.

“Maaifin Mama,” katanya sambil menangis.

“Mama tahu Mama yang salah akan semua ini, Mama egois sama kamu, nggak pernah ngertiin kamu, Mama nggak bisa bikin kamu bahagia, padahal cuma kamu satu-satunya yang Mama punya, Mama…..” ia pun semakin terisak.

“Apa salahku ma?” tanyaku padanya.

“Kamu nggak salah nak, Mama lah yang salah, seharusnya Mama menyadari ini sejak dulu mungkin kita nggak bakalan seperti ini, mungkin adikmu….“ suara nya terhenti lagi.

“Mama tahu kamu sangat menyayangi Mama, tapi kamu juga harus tahu Mama bahkan sangat menyayangi kamu, Mama mencoba tegar selama ini,” ucapnya.

“Di mulai dari hari itu (perpisahan dengan papa) Mama sangat terpukul, ingin rasanya Mama pergi meninggalkan kalian hanya saja Mama nggak mampu, mulai hari itu juga Mama berubah pada kalian, Mama mulai egois bahkan kalian pun terbengkalai karna Mama,“ ucapnya kemudian.

“Lalu di hari kepergian adikmu Mama sangat merasa bersalah, Mama merasa tidak bisa menjadi Mama yang baik untuk kalian, maka Mama putuskan untuk mengikuti setiap gerak langkahmu,” sambungnya lagi.

Aku tidak mengerti apa yang ingin di sampaikannya, yang aku tahu berarti selama ini dia selalu menyayangiku dan memperhatikanku tidak seperti yang selama ini aku pikirkan tentang dia.

“Mama teriak kepadamu hanya untuk membimbing kau saja untuk menjadi wanita yang kuat, Mama tidak mengabaikanmu hanya untuk membimbing kamu menjadi wanita yang hebat, karna Mama tidak ingin kamu menjadi wanita lemah, Mama ingin kamu tangguh,“ jawabnya kemudian.

Namun kali ini ia tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi ia menangis semakin kuat sambil memelukku dan menciumku. Terasa bulir mutiara pun jatuh di pipiku, bahagia ketika akhirnya aku dipeluk cium oleh sosok yang ku cari selama ini, meski pun dia selalu tepat di sebelahku.

“Mama janji tidak akan mengecewakanmu lagi, Mama janji akan memprioritaskan kamu. Tolong jangan tinggalkan Mama, cukup papa dan adikmu yang pergi, kamu jangan Nak karna kamu adalah alasan Mama bertahan selama ini,“ itu ucapan Mama yang sangat membuatku tidak bisa mengehentikan tetesan embun di pelupuk mata. Baim hanya tersenyum sambil menangis melihat semua itu.

“Aku sayang Mama,“ ucapku pelan.

Maafkan aku yang selama ini meragukan kasih sayangmu. Ketika itu rasanya kebahagianku lengkap sudah, kebahagiaan yang selama ini kuanggap hilang kini kembali lagi di hidupku, itu semua karna Mama wanita terhebat ku telah kembali, the great mother is back. Aku sangat menyayangi pemilik surgaku itu. Love you Mama… Mama.

Yoselia Endang Sari, Komunitas Menulis Bengkulu