Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bengkulu telah selesai menggelar rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara pemilihan walikota dan wakil walikota Bengkulu tahun 2018, Rabu (4/7/2018).

Sama dengan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Pedoman Bengkulu, hasil pleno tersebut memutuskan Helmi Hasan dan Dedy Wahyudi keluar sebagai pemenang.

Pasangan nomor urut tiga ini meraih 44.449 suara. Menyusul di posisi kedua pasangan nomor urut empat Linda-Mirza 36.584 suara, pasangan nomor urut satu David-Bakhsir 29.683 suara dan pasangan Erna-Zarkasih dengan 22.699 suara sekaligus diposisi terakhir.

Setelah dinyatakan sebagai walikota dan wakil walikota terpilih, sejumlah tugas berat telah menanti pasangan dengan latarbelakang politisi dan wartawan itu selama lima tahun mendatang.

Sejumlah persoalan yang tampak kasat mata yang dihadapi warga kota saat ini adalah banjir, sampah, penataan pasar, potensi kemacetan, masih tingginya angka kemiskinan dan pengangguran karena urbanisasi, rusaknya moral masyarakat akibat dampak negatif globalisasi, serta keadaan infrastruktur jalan milik Pemerintah Provinsi yang berada dalam keadaan rusak.

Meski sejak Helmi Hasan memimpin berbagai cara telah diupayakan, namun Pemerintah Kota Bengkulu juga menghadapi masalah masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam merawat, menjaga dan melestarikan hasil-hasil pembangunan.

Helmi-Dedy juga akan menghadapi persoalan pelik yang sebenarnya juga menjadi permasalahan nasional, yakni rendahnya daya juang dan daya dobrak birokrasi Pemerintahan untuk menterjemahkan visi misi mereka agar senantiasa dapat merespon dengan cepat tuntutan-tuntutan rakyat yang semakin hari kian membesar sesuai dengan perkembangan zaman serta semangat mewujudkan good governance.

Meski diusung oleh partai-partai yang cukup dominan di DPRD Kota Bengkulu seperti Partai Demokrat, Gerindra dan PAN, Helmi-Dedy tetap dituntut agar dapat melakukan komunikasi yang efektif bersama legislator dari partai lain untuk mewujudkan Kota Bengkulu yang bahagia dan religius.

Dengan postur APBD tahun 2017 yang berjumlah Rp1 triliun lebih dan gaya hidup sederhana yang Helmi Hasan lakoni selama ia menjabat periode 2013-2018 yang lalu, kita tentu optimis, duet Helmi-Dedy akan mampu mengatasi berbagai persoalan tersebut dengan baik dan seksama.

Namun Helmi-Dedy tidak akan pernah mampu bekerja sendirian. Perlu peran dan partisipasi luas warga Kota Bengkulu serta profesionalitas birokrasi agar upaya mewujudkan Kota Bengkulu yang bahagia dan religius itu dapat berhasil.

Peran itu dapat berbentuk apa saja dan dengan cara apa saja. Misalnya bagi media massa dapat memproduksi berita-berita yang menyejukkan dan membangkitkan semangat warga kota untuk berpartisipasi dalam pembangunan yang berkeadilan.

Bagi nelayan, petani dan pelaku usaha kecil menengah dapat meningkatkan hasil-hasil produksi mereka dengan mengakses dana bantuan modal Satu Miliar Satu Kelurahan (Samisake) namun membayar angsuran secara tepat waktu.

Bagi ustaz, cerdik pandai dan alim ulama dapat senantiasa memberikan memotivasi kepada warga masyarakat untuk meninggalkan perilaku-perilaku kotor yang akan menghalangi Tuhan dalam menurunkan keberkahannya kepada Kota Bengkulu yang kita cintai.

Bagi tokoh masyarakat, camat, lurah, ketua-ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) dapat senantiasa terus mensosialisasikan dan mensukseskan kebijakan-kebijakan pembangunan Pemerintah Kota yang pro rakyat.

Termasuk bagi para anggota legislatif agar hendaknya dapat senantiasa menjalankan tugas dan fungsinya dengan dasar-dasar manfaat dan mudaratnya bagi rakyat, bukan dengan dasar manfaat dan mudaratnya bagi kepentingan partai mereka, kepentingan golongan mereka, apalagi kepentingan pribadi mereka semata.

Dengan kekompakkan semua pihak, insyaAllah, Kota Bengkulu akan menjadi salah satu kota terbaik di Sumatera, bahkan Indonesia. Dengan demikian, kemakmuran dan kebahagiaan kota ini dapat menjadi percontohan nasional sebagaimana program Jemput Sakit Pulang Sehat (JSPS) InsyaAllah yang sebelumnya telah menginspirasi Indonesia untuk menolong warga miskin yang sakit.