Roeslan Abdulgani menyampaikan materi yang memukau pada kuliah umumnya pada hari Senin tanggal 13 Februari 1961. Ia menguraikan panjang lebar mengenai Sosialisme Indonesia.

Dalam ucapannya yang terangkum dalam buku Pedoman untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat terbitan Permata Surabaya, Roeslan menyinggung perihal urgensi pelaksanaan Sosialisme Indonesia.

Menurutnya, ada beberapa dorongan untuk segera mulai dengan pembangunan masyarakat adil dan makmur. Beberapa hal tersebut ialah:

1. Karena tuntutan Amanat Penderitaan Rakyat

2. Karena Revolusi sejak tahun 1955-1956 memasuki fase sosial ekonomis meninggalkan periode ‘physical Revolution’ dan periode ‘survival’

3. Karena tidak mau tambah lama tambah terbelakang dengan Negara-negara yang dinamakan ‘highly developed countries’ (Negara-negara yang ekonominya sudah berkembang).

Secara objektif, dorongan-dorongan tersebut disebabkan karena tambahan jumlah penduduk bangsa Indonesia yang setiap tahunnya tidak cukup mendapat tampungan dalam sumber penghidupan yang lama seperti di lapangan pertanian dan kerajinan tangan.

Dan juga disebabkan karena sumber-sumber penghidupan baru di tingkat yang lebih tinggi seperti di perkebunan-perkebunan besar, perindustrian modern, dan pertambangan jauh belum berimbang untuk cukup menampung tambahan penduduk.

Serta disebabkan juga karena kemajuan negeri ini yang mengagumkan di bidang pendidikan dan pengajaran menimbulkan desakan-desakan baru akibat keinginan untuk mendapatkan tingkat hidup yang lebih tinggi dari golongan intelegensia baru.

“Selain desakan-desakan kekuatan masyarakat di dalam negeri ini maka di dalam masyarakat internasional timbul gejala-gejala baru, yang menggambarkan tak seimbangnya antara negara-negara underdeveloped dan yang highly develeped.” ujar Roeslan Abdulgani.

Perbedaan antara kedua macam negara tersebut diukur dalam tingkat hidupnya. produktivitas per kapita dan penggunaan non-human energi. Banyak negara yang memiliki masalah terhadap pertumbuhan ekonominya, kenyataan di luar negeri semacam itu memanglah harus diperhatikan dan diperhitungkan semua kemungkinanya.

“Itu adalah suatu sikap yang ditentukan oleh keharusan sejarah. Dan rencana pembangunan kitapun mempunyai arti sejarah.” kemudian Roeslan menyebutkan arti sejarah menurut Presiden Sukarno.

Terletak dalam kenyataan, bahwa Indonesia adalah salah satu dan justru menjadi pelopor dari Negara-negara nasional yang baru merdeka sesudah perang dunia ke-II, yang dilahirkan di tengah-tengah komfrontasi sistim sosial dunia:

– Di satu pihak kapitalisme modern yang kehilangan tanah jajahannya sebagai cadangan dan yang dari krisis ke krisis sedang memasuki krisis umumnya menuju kebangkrutan sepenuhnya.

– Di pihak lain, sosialisme yang tumbuh dan sedang berkembang dengan kuat dan sebagai tandingannya memperlihatkan keunggulannya di semua lapangan terhadap kapitalisme modern atau imperialisme.

Karena tidak mau menempuh jalan dunia lama (kapitalisme) tetapi belum mempunyai syarat-syarat untuk menempuh jalan yang baru (sosialisme), maka Indonesia bersama Negara-negara nasional lainnya menggalang jalannya sendiri; suatu masyarakat adil dan makmur, berdasarkan Pancasila atau Sosialisme a la Indonesia.

“Pembangunan masyarakat Sosialis Indonesia mengandung keharusan untuk terus berjuang melawan kolonial dan imperialisme yang internasional. Jangan sampai kita lengah dalam soal ini, dan hendaklah kejadian di benua Asia-Afrika pada dewasa ini menjadi peringatan kepada kita bahwa kolonialisme dan imperialisme belum terhapus dari dunia ini,” demikian Roeslan. [Eva De]